Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Veroze Waworuntu Saad

Tipikal nerd & geek yang lebih tertarik dengan sastra ketimbang hingar bingar disko.

“Multikultarlisme” Bukan Hambatan Pemersatu Bangsa

HL | 10 November 2011 | 19:17 Dibaca: 574   Komentar: 3   2

13209565332033330823

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

“Multikulturalisme dapat meningkatkan degradasi nilai agama”. Sudah sepatutnya anggapan ini dihilangkan dari pandangan masyarakat Indonesia”

Multikulturalisme sudah menjadi bagian dari masyarakat Indonesia. Negara Republik Indonesia yang terdiri dari beribu pulau dan lautan yang memisahkan antar pulaunya, menyebabkan beranekaragam budaya dan suku bangsa yang dimiliki bangsa Indonesia. Hingga paham multikulturalisme berakar dalam benak masyarakat. Namun fakta yang kadang terjadi, interaksi antar komunitas yang multikultural itu justru menimbulkan semangat yang mencampuradukkan masalah kebudayaan dan agama.

Tiap keunikan budaya dibiarkan berkembang, sebagai alasan untuk melestarikan kebudayaan yang merupakan warisan nenek moyang. Namun pada saat yang sama interaksi ini dapat menyebabkan nilai-nilai budaya pada kalangan yang kalah power manjadi terkikis. Dan nilai budaya sebagai elemen pembungkus budaya, jadi ikut terkikis secara perlahan. Generasi muda Indonesia yang kurang pengetahuan akan keyakinan agamanya juga menjadi faktor penyebabnya.

Contoh kecilnya yang sering luput dari perhatian kita adalah perkawinan suku Bugis yang mayoritas beragama Islam dengan kalangan Hindu Bali di Pulau Serangan. Kebanyakan yang sering terjadi individu dari agama Hindu yang lantas beralih ke agama Islam. Jarang terjadi, bahkan tidak pernah, kaum Bugis yang beralih ke agama Hindu. Bagi generasi muda kini, demi alasan ”cinta” mereka rela meninggalkan keyakinannya dan beralih ke agama lain. Padahal ini sepatutnya tidak perlu terjadi. Mereka mudah sekali terpengaruh dan menjadikan agama sebagai suatu hal yang bisa ikut lebur dalam percampuran budaya. Multikulturalisme menjadi faktor meningkatnya degradasi nilai agama, begitu pun akhirnya anggapan yang muncul dalam benak masyarakat. Mereka akan semakin membenci perbedaan dan mengagungkan keyakinan dan suku bangsanya masing-masing. Apa ini yang kita harapkan dari bangsa Indonesia?

Multikulturalisme bukan hambatan pemersatu bangsa. Sudah sepatutnya, kita meyakini interaksi ini justru meningkatkan semangat kebangsaan. Multikulturalisme justru merupakan pemersatu bangsa Indonesia yang beraneka ragam suku bangsanya. Karena dengan interaksi yang multikultural, tali persaudaraan dan kekerabatan semakin erat. Seperti semboyan bangsa Indonesia ”Bhineka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tapi tetap satu jua. Selain itu, diperlukan introspeksi diri dari pribadi masyarakat sendiri. Iman masing-masing individu akan keyakinannya perlu ditingkatkan. Agar nantinya tidak mengkambinghitamkan multikulturalisme sebagai pemicu degradasi nilai agama.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Saudi Arabia dan Pembantu Rumah Tangga …

Mariam Umm | | 28 January 2015 | 23:59

100 Hari Jokowi-JK, Kompasiana, dan Ruang …

Subronto Aji | | 29 January 2015 | 01:22

Belajar Lewat Tagar …

Sam Leinad | | 28 January 2015 | 23:24

Air Asia = Low Cost Casualities? …

Iwan Permadi | | 29 January 2015 | 00:29

Resolusi Hijau, Mengelola Sampah Pribadi …

Dean | | 28 January 2015 | 21:57


TRENDING ARTICLES

Buya Syafii Maarif, Sekarang The Real …

Hendi Setiawan | 4 jam lalu

Benny K. Harman, Hasto, dan Siluman Politik …

Susy Haryawan | 5 jam lalu

Tanggapan “Kartu Abraham di Tangan Jusuf …

Imam Kodri | 5 jam lalu

Menko Tedjo Gagal Faham …

Axtea 99 | 9 jam lalu

Presidennya Jokowi, Kenapa Marahnya ke …

Rahmat Sahid | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: