Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Djamaluddin Husita

Semua yang positif itu ibadah... Kunjungi juga rumah maya kami: www.husita.my.id

Manajemen Pembagian Daging Kurban

OPINI | 07 November 2011 | 20:54 Dibaca: 666   Komentar: 5   1

Salah satu ritual ummat muslim setiap tahun usai melaksanakan sholat idul adha adalah memotong binatang kurban. Ritual itu biasanya berlanjut sampai habis hari tasriq yaitu 11, 12 dan 13 Zulhijjah. Daging kurban tersebut kemudian dibagikan kepada ummat yang berhak menerimanya terutama fakir miskin dan anak-anak yatim piatu.

Memang pelaksanaan kurban memiliki makna yang sangat mendalam bagi ummat muslim. Selain sebagai sarana ibadah bagi orang-orang yang mampu melaksanakannya juga memakna syiar, tegang rasa bagi sesama. Sebab, pada hakekatnya, muslim itu adalah bersaudara yang sering dimisalkan bagai satu tubuh. Bila satu bagian tubuh ada sakit, maka sekujur tubuh yang lain juga merasakan hal yang sama. Karenanya, bisa jadi berkurban adalah manifestasi dari itu semua.

Semakin banyak orang berkurban, maka semakin banyak saudara-saudara yang lain merasakan kenikmatan menyantap daging. Sebab, masih banyak ummat muslim di Indonesia, jangankan untuk membeli satu kilo daging terkadang makanpun sehari-hari sulit mereka peroleh. Sehingga dengan demikian, paling tidak pada hari-hari bahagia seperti ini mereka mampu merasakan kebahagiaan itu.

Hanya saja yang sering membuat mata kita nanar hampir setiap moment seperti ini adalah saat pembagian daging kurban itu sendiri. Perasaan kita miris dan teriris melihat mereka yang berhak mendapat daging kurban itu berdesakan dan bahkan tidak jarang ada yang jatuh korban. Terinjak, terluka atau bahkan ada yang pingsan. Alam pikiran sehat terkadang tidak habis pikir kenapa pemandangan seperti itu seringkali terjadi pada moment-momen seperti itu. Bukan hanya pada saat menerima daging kurban saja, tetapi saat ada moment penerimaan zakat pemandangan seperti itu bahkan lebih mengerikan lagi yaitu ada yang jatuh korban. Apakah hal-hal seperti ini tidak dipikir secara matang sehingga tidak ada lagi pemandangan seperti itu? Saya pikir, pemandangan seperti itu, selain memilukan juga sangat memalukan bagi ummat Islam yang lain.

Menghindari pemandangan yang tidak mengenakkan saat moment seperti pembagian daging kurban atau termasuk pada saat pembagian zakat semestinya perlu ada manajemen yang baik. Mereka yang telah ditunjuk bertugas sebagai panitia pelaksana semestinya harus memikirkan cara yang efektif sehingga kejadian-kejadian atau pemandangan seperti yang kita saksikan selama ini tidak terulang lagi.

Saya kira salah satu cara yang paling efektif adalah dengan cara mengetahui secara pasti data penerima baik daging kurban atau zakat lainnya termasuk wilayah tempat tinggal masing-masing. Melalui data tempat tinggal penerima maka kurban dapat disebarkan sesuai dengan kebutuhan. Sehingga pelaksanaan kurban tidak bertumpuk pada satu tempat. Kecuali tempat eksekusi itu cukup luas. Itu pun harus ditentukan secara pasti wilayah-wilayah dimana penerima daging kurban itu berasal. Misalnya bagian timur untuk masyarakat wilayah A untuk 100 orang yang sudah memiliki kupon, bagian barat untuk wilayah B untuk 200 orang dan seterusnya.

Memang pihak panitia harus bekerja ekstra keras, selain mendata para penerima juga harus mendata secara pasti jumlah kurban. Pendataan ini harus dilakukan, paling kurang 5 hari sebelum pelaksanaan kurban.

Selain itu, dapat juga panitia memberikan kepada perwakilan daerah. Atau mengantar langsung ke rumah-rumah. Jadi penerima kurban tidak perlu repot-repot mendatangi tempat-tempat penyembelihan. Para penerima daging kurban, menunggu saja diantar ke tempat tinggal mereka masing-masing.

Saya kira, kedepan baik panitia kurban atau juga panitia pembagian zakat harus memikir cara-cara yang efektif untuk membagikan kurban atau zakat kepada yang berhak. Sebab, bila pemandangan seperti ini terus menerus terjadi dan kembali terulang setiap tahunnya sungguh sangat memalukan. Hanya untuk 1 kg daging atau untuk uang Rp. 30.000 atau terkadang hanya Rp. 10.000 harus mengerang nyawa atau paling kurang terinjak-injak. Masa, kejadian seperti harus terjadi terus menerus? Sungguh sangat miris negara kita ini…..hmmmm. www.husita.net

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perpu Pilkada Adalah Langkah Keliru, Ini …

Rolas Jakson | | 01 October 2014 | 10:25

3 Kesamaan Demonstrasi Hongkong dan UU …

Hanny Setiawan | | 30 September 2014 | 23:56

Punya Ulasan Seputar Kependudukan? Ikuti …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:29

Kompasiana “Mengeroyok” Band Geisha …

Syaiful W. Harahap | | 01 October 2014 | 11:04

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 5 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 7 jam lalu

Masalah Pilkada: Jangan Permainkan UU! …

Jimmy Haryanto | 8 jam lalu

Beraninya Kader PAN Usul Pilpres oleh MPR, …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu

Guru Pukul Siswa, Gejala Bunglonisasi …

Erwin Alwazir | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Daffa (2thn) Atlit Cilik Taekwondo …

Muhammad Samin | 7 jam lalu

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | 8 jam lalu

Anak Muda Haruskah Dipaksa? …

Majawati Oen | 8 jam lalu

Gigi berlubang Pada Balita …

Max Andrew Ohandi | 8 jam lalu

Sosialisasi Khas Warung Kopi …

Ade Novit | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: