Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Nilai Sebuah Ketaatan (Filipi 2:5-11)

OPINI | 31 October 2011 | 03:41 Dibaca: 3849   Komentar: 4   1

“Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Filipi 2:8)

Ketaatan tidak dapat dilepaskan dari iman. Ketaatan adalah bagian atau bukti dari iman. Seorang hamba Tuhan mengatakan: “Obedience without faith is possible, but not faith without obedience”. Bisa saja ketaatan didasarkan atas motivasi tertentu, tetapi tidak ada cara lain untuk mewujudkan iman kecuali dengan ketaatan. Alkitab menjelaskan orang yang hidup dalam ketaatan sebagai wujud iman mereka. Mereka sedia membayar harga untuk sebuah ketaatan, seperti Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Namun pada sisi lain, Alkitab juga berbicara tentang ketidaktaatan dan akibatnya, seperti Saul, Yunus dan banyak raja-raja Israel. Seringkali kita tidak menyadari dan berusaha menghindari harga yang harus kita bayar untuk semua ketaatan, padahal kita harus membayar harga yang jauh lebih mahal (resiko) untuk sebuah ketidaktaatan. I Petrus 1:18-19 menjelaskan bahwa kita ditebus dengan darah yang mahal, yaitu darah Anak Domba Allah (Yesus) untuk membayar harga dosa karena ketidaktaatan kita. Ada empat hal penting yang perlu kita teladani dari kehidupan ketaatan Yesus:

Ketaatan Yesus tidak terpengaruh oleh penderitaan yang dialami-Nya
Di tengah banyaknya orang berusaha menghindari masalah dan penderitaan yang muncul akibat masalah, Yesus justru membuktikan ketaatan-Nya di tengah penderitaan-Nya. Yesus tidak berhenti berkarya dan melayani sekalipun banyak tekanan dan penderitaan yang dialami-Nya karena hidup-Nya tidak terkonsentrasi pada penderitaan tapi pada ketaatan untuk mencapai apa yang Bapa kehendaki dalam hidup-Nya. Seringkali nilai sebuah ketaatan diuji melalui masa-masa sulit dan penderitaan

Ketaatan Yesus tidak berubah karena ketidaksetiaan para murid
Pada permulaan pelayanan Yesus, ada banyak orang kagum atas pengajaran dan mukjizat yang dilakukan-Nya. Kekaguman itu membuat makin banyak orang mengikut Yesus dengan berbagai motivasi. Dan dalam Yohanes 6, Tuhan Yesus mulai berbicara keras dan terus terang kepada orang-orang yang mengikuti-Nya. Hal ini membuat banyak orang mulai mengundurkan diri satu persatu. Namun di tengah keadaan itu, para murid masih menunjukkan kesetiaan mereka dengan tetap mengikuti Yesus (Yohanes 6:66-69). Tetapi keadaan itu tidak berlangsung lama, karena masa penderitaan Tuhan Yesus telah tiba. Penolakan terhadap apa yang Yesus alami sudah mulai ditunjukkan dengan penolakan Petrus atas penderitaan yang akan dialami-Nya. Sehingga ketika tiba saatnya Yesus ditangkap, diadili dan disalibkan, tidak ada para murid yang menunjukkan kesetiaan. Mereka sebuah hanya jadi penonton yang berdiri dari jauh mengamati apa yang sedang dilakukan oleh orang banyak terhadap Yesus. Hati siapa yang tidak sedih melihat pengikut seperti ini? Namun ketaatan-Nya terus dipertahankan sampai pada akhir hidup-Nya. Ketaatan Yesus tidak berubah karena mendapati ketidaksetiaan para murid. Bukankah ketaatan kita sering berubah ketika mendapati orang lain tidak setia dalam ketaatan?

Ketaatan Yesus tidak berhenti karena penolakan
Masa pelayanan Yesus dimulai dengan pengajaran dan perbuatan yang luar biasa sehingga orang-orang mulai mengagungkan-Nya. Puncak dari semuanya itu terjadi ketika Yesus memasuki Yerusalem dengan menunggang seekor keledai. Banyak orang mengagungkan Dia dan rela melepaskan jubah untuk dijadikan alas bagi keledai yang ditunggangi Yesus. Namun masa itu tiba-tiba berubah total. Teriakan “Hosana bagi Anak Daud” berubah jadi “Salibkan Dia”. Penolakan makin jelas dengan adanya tuduhan-tuduhan palsu hanya untuk membawa Dia ke kayu salib. Penolakan yang sangat menyakitkan. Tetapi ketaatan Yesus tidak berhenti karena penolakan yang dialami-Nya.

Ketaatan Yesus dibuktikan sampai mati
“..ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati…(Fil. 2:8). Ini menunjukkan bahwa bagi Yesus nilai ketaatan adalah harga yang mutlak, harga mati. Jika para murid hanya bisa berjanji untuk sebuah kesetiaan, tapi Yesus telah membuktikan sebuah kesetiaan melalui ketaatan. Yesus dapat taat secara mutlak, karena ketaatan-Nya berorientasi kepada kehendak Bapa. Ketaatan yang berorientasi kepada Allah akan menghasilkan ketaatan mutlak, sebaliknya ketaatan yang hanya untuk menyenangkan hati manusia akan menimbulkan ketidaktaatan yang tersembunyi.

Ketaatan yang bagaimana yang sedang saudara miliki saat ini? Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah ketaatan, tapi ingatlah bahwa ketaatan menentukan masa depan kita.

Tags: rohani kristen

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada “Tangan” Anjing Diborgol di Pasar …

Eddy Mesakh | | 18 December 2014 | 21:39

Konyolnya Dokumen Hoax Kementerian BUMN Ini …

Gatot Swandito | | 18 December 2014 | 09:24

Suka Duka Kerja di Pakistan …

Gaganawati | | 18 December 2014 | 23:19

Warga Hollandia Antusias Menyambut …

Veronika Nainggolan | | 18 December 2014 | 20:40

[UPDATE] Nangkring Parenting bersama Mentari …

Kompasiana | | 10 December 2014 | 17:59



Subscribe and Follow Kompasiana: