
Aktivitas tulis-menulis saya anggap sebagai lahan empuk untuk mengekspresikan ide-ide berlian yang kerap berlalu-lalang di pikiran. Sebab, hampir setiap hari berbagai pikiran bernas melintas di benak kita, dan sangat sayang sekali jika ia berlalu begitu saja, tanpa sempat diikat melalui buhul kata-kata ==> kalimat). Melalui tulisan, saya juga ingin memperpanjang visa hidup saya di lorong bumi Allah ini sehingga dapat bercengkrama dengan generasi berikutnya! Kenalkan -O-W-E-N-
Dibaca: 286
Komentar: 18
Nihil
Ada sebuah fenomena mengelikan yang kerap saya jumpai di Ibukota Jakarta, yaitu aksi penjelamaan tissue toilet menjadi tissue mulut. Hampir setiap rumah makan yang saya sambangi menjajakan tissue toilet di atas meja makannya. Ntah itu pondok bakso, rumah makan Padang, gubuk soto, pecal lelel, waroeng goerangan dan usaha sejenisnya, semuanya memilih tissue toilet sebagai alat pembersih pamungkas. Tidak jarang, saya melihat ada yang menggunakan tissue gulung ukuran raksasa, layaknya di toilet-toilet bertaraf internasional. Iiii Ngeli plus garuk-garuk kepala deh..hehehe
Semua juga orang tahu kalau tissue toilet gulung itu adalah lap penganti dari kain atau sejenisnya. Tissue ini memang multi guna, ia dapat menjadi alat penyeka mulut atau pengering tangan sehabis makan; Tidak hanya itu, tissue gulung toilet seketika juga bisa menjadi pembersih makanan yang berserakan di meja makan, atau terbang keluar arena makan akibat kecerobohan.
Kendatipun demikian, tissue bergulung itu tetaplah tissue toilet. Walaupun sudah dikemas melalui kotak khusus di setiap rumah makan ia tetap saja bagian dari aksesories toilet dan WC. Kalau mereka melihat, tidak jarang tissue sejenis itu digunakan untuk hal-hal yang menjijikan, namun di ibukota negara Indonesia malah dijadikan penyeka mulut. Aneh bin ajaib deh. Saya sendiri geli, dan enggan tradisi seperti ini. Tidak hanya mengurangi nafsu makan, tapi juga membuat saya enggan untuk singgah untuk kedua kalinya.
Jika semua pengusaha itu ditanya, pasti jawaban mereka, “ini lebih ekonomis pak.” Komentara saya, ada yang lebih ekonomis sebenar banyak sekali itu om jika mau, tuh kertas bekas, hahaha. Jangan-jangan kertas-kertas putih budaya kaum hawa akan digiring seperti hal serupa? Jangan sampai deh, please…! Jika kembali ke prinsip ekonomi, barangkali jawabanya cukup mengena. Akan tetapi, menurut saya tetap saya tidak ideal di Dunia Kebersihan dan Kesehatan. Bagaimana menurut Anda, ya terserah…..
Selamat Enak di Makan di Restoran Ber-tisue-kan Tisue Toilet..hehehe