
Lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin makassar,sekarang bertugas sebagai dokter Gigi PTT di provinsi Kalimantan Timur.
Dibaca: 47
Komentar: 0
Nihil

saya duduk di bagian dalam perahu, laut masih tenang hanya ambak-ombak kecil yang terkadang mengayun perahu yang kami tumpangi.
Di samping saya bersandar duduk seorang ibu muda menggendong bayinya. Bayi itu masih berumur 3 bulan
kami menikmati perjalanan dengan diam, hanya bola mata kami yang saling menatap, maklum suara bising mesin perahu memekakkan telinga, sangat sulit untuk bercakap-cakap di dalam perahu.
Teluk sumbang adalah satu-satunya kampung di kecamatan biduk-biduk yang ditempuh dengan perjalanan menyeberang laut, pulau teluk sumbang adalah kampung paling ujung, kampung yang setiap bulan kami kunjungi untuk memberikan pelayanan kesehatan.
Waktu telah menunjukkan pukul 09.30 wita, perahu kami masih terus merangkak mengitari pesisir pantai yang berada di sisi kanan. Di sisi perjalanan kami itu nampak rimbun-rimbun belantara hutan yang hijau gelap, pohon-pohon kelapa di beberapa tempat saling menyilang, memberikan pesona indah dari kejauhan.
Beberapa perahu-perahu lain juga mengitari pulau, menurut informasi mereka baru pulang dari laut, mencari ikan sejak beberapa hari yang lalu.
Menatap laut yang luas di sana, membuat kita tak menemukan tepian, di sana tak ada tanda-tanda sebagai akhir, mungkin di balik fenomena itu kita telah di suguhkan sebuah pertanda akan ketakterbatasan, betapa manusia dan alam adalah sebuah ketakberdayaan.
Di teluk sumbang, kita akan menyimak berbagai kesederhanaan, melihat orang-orang menikmati hidup apa adanya. Dalam logika orang-orang seperti mereka, hidup adalah sumur yang tak pernah berhenti mengobati dahaga. Mereka tak pernah merasa senyap walau diapit oleh pesisir pantai dan hutan rim ba, titik keseimbangan itulah yang membuat mereka banyak belajar dari alam.
Rumah-rumah panggung berjejer dan bersialangan secara tak teratur, di ujung kampung sebelah utara terdapat muara sungai yang menghubungkan laut dengan sungai. Mata air bersih mereka alirkan dari puncak gunung, airnya sungguh bening dan dingin.
Di sebelah selatan, kira-kira 300 Meter, kita akan menjumpai dua tangga batu yang mengalirkan air terjun yang eksotis, dan airnya mengalir deras ke pinggir pantai.
Di sebelah timur, hamparan lautan luas menantang, beberapa pulau kecil-kecil nampak seperti pondok-pondok kecil dari kejauhan.
Itulah teluk sumbang, kampung yang bersahaja dan sederhana. Kali ini saya menikmati keadilan Tuhan yang ke sekian kalinya.
Hawa dingin menusuk kulit, kampung ini menjemput senja dengan senyum.
Teluk sumbang 24/9/11