Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Agung Hariyadi

http://www.leutikaprio.com/produk/10041/novel/1212722/xixi_diary_sang_rising_star/12074304/agung_masopu —http://agunghariyadi37.blogspot.com/ —————- selengkapnya

Banyuwangi Etno Carnival, Karnaval Budaya Nuansa Kontemporer

HL | 23 October 2011 | 05:51 Dibaca: 587   Komentar: 39   6

Banyuwangi Ethno Carnival. TEMPO/ Ika Ningtyas

Hari sabtu kemarin tanggal 22 oktober 2011, Kabupaten Banyuwangi menggelar hajatan karnaval budaya-nya yang pertama. Karnaval yang diberi nama ” Banyuwangi Etno Carnival ” merupakan karnaval yang bertujuan menganggkat seni budaya Banyuwangi dengan kemasan kontemporer. Pada acara tersebut, para peserta bebas memodifikasi pakaian yang bertema 3 kesenian yang berkembang di Banyuwangi. Ketiga kesenian tersebut adalah Gandrung, Damarwulan dan Kundaran.

Pemkab Banyuwangi mengadakan event ini selain untuk melestarikan budaya asli Banyuwangi, juga bertujuan untuk meningkatkan jumlah arus kunjungan wisatawan ke Banyuwangi. Berkaca dari keberhasilan Jember Fashion Carnival yang telah berlangsung selama 10 tahun, Pemkab Banyuwangi menggandeng EO JFC yang dipimpin Dynand Fariz sebagai konsultan acara tersebut untuk selama 3 tahun.

liputan6.com

Meski dibayangi pro dan kontra dari sejumlah pegiat seni Osing baik yang tinggal di Banyuwangi maupun yang menetap di sejumlah kota, acara ini akhirnya tetap berjalan. Acara yang dimulai pukul 12.30 tersebut sukses menampilkan 420 kontestan yang terbagi dalam 3 katageri.

Dalam sambutannya Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyatakan even karnaval ini digagas untuk menjembatani kesenian tradisonal dan modern supaya bisa lebih diterima oleh kalangan internasional. Anas berharap kedepannya even ini mampu mengkreasi kesenian Banyuwangi dengan landasan ketiga kesenian yang menjadi basic acara ini diadakan.

Namun, kata Bupati, konsep BEC berbeda dengan JFC. BEC, jelas dia, berakar dari kesenian tradisional yang tidak dimiliki oleh Jember. “Konsep BEC memadukan antara kreasi kostum dan gerak tari,” katanya seperti dikutip dari Tempo interaktif.

Acara kemarin dibuka oleh pagelaran tarian gandrung Banyuwangi. Tarian ini menurut sejarahnya dalah tarian yang dikreasi dan diciptakan sebagai wujud perlawan rakyat Balmbangan/Banyuwangi dalam melawan penjajahan Belanda. Pada acara pembukaan tersebut, penari yang tampil sejumlah 119 orang dari berbagai kalangan, mulai dari kalangan pelajar sampai dengan para penari senior. Kostum kreasi mereka didominasi warna hitam dan merah.

Setelah penari gandrung, di belakangnya menyusul penampilan kesenian damarwulan atau disebut juga jinggoan. Kesenian ini merupakan adaptasi dari epos cerita ” Minak Djinggo Vs Damarwulan ” Yang berkembang di tengah-tengah masyarakat Banyuwangi. Pada barisan ini warna pakaian kreasi peserta di dominasi warna biru, merah dan Hitam.

Sementara di barisan terkahir adalah kesenian kanduran. Kesenian ini berkembang bersamaan masuknya ajaran islam ke Bumi Blambangan. Pada awalnya para penari kanduran adalah pria, namun seiring berjalannya waktu, tarian ini dibawakan dengan apiknya oleh kaum wanita.

Untuk peserta, panitia melakukan seleksi dari berbagai sekolah dan instansi yang ada di Banyuwangi. Setelah peserta berhasil lolos seleksi, acara dilanjutkan dengan workshop dari panitia. Para peserta yang tampil rata-rata butuh waktu 2-3 minggu untuk mengkreasi costum yang mereka pakai di acara karnaval budaya pertama tersebut.

Sayangnya pada acara ini, nuansa yang tampil masih tak jauh beda dengan carnaval yang ada di kabupaten Jember yakni Jember Fashion Carnival. Ini mungkin tak lepas karena penunjukan Dynand Fariz sebagai konsultan untuk event ini. Penunjukannya juga tak lepas untuk memberikan pengajaran dan berbagi pengalaman dengan EO lokal yang nantinya akan menangani event ini. Karena itulah penunjukan Dynand Fariz hanya untuk 3 tahun pertama saja, setelah itu event ini akan ditangani sendiri oleh panitia lokal yang lebih bisa memahami tradisi dan budaya Banyuwangi lebih baik.

Semoga ke depannya acara yang bertujuan untuk menjaring kunjungan wisata ke Banyuwangi tersebut semakin baik penataannya. Panitia dan peserta semakin profesional sehingga nantinya akan memunculkan kreasi-kreasi yang lebih baik lagi ke depannya.

Note: Tulisan lainnya silahkan mampir di blog Catatan Kecilku

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kekecewaan Penyumbang Pakaian Bekas di …

Elde | | 25 October 2014 | 12:30

Rafting Tidak Harus Bisa Berenang …

Hajis Sepurokhim | | 25 October 2014 | 11:54

10 Tanggapan Kompasianer Terhadap Pernikahan …

Kompasiana | | 25 October 2014 | 15:53

Dukkha …

Himawan Pradipta | | 25 October 2014 | 13:20

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 14 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 15 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 15 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 19 jam lalu


HIGHLIGHT

Gayatri Wailissa Anggota BIN? …

Prabu Bolodowo | 8 jam lalu

Ketika Berada di Bukit Wantiro …

Voril Marpap | 8 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 8 jam lalu

Selamat Ulang Tahun Baru Hijriah 1436 H …

Imam Muhayat | 8 jam lalu

Membaca Membuat Pintar …

Nitami Adistya Putr... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: