Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ella Zulaeha

Owner www.bursatasbranded.com

“Puber Kedua” Pria Ketika Memasuki Usia 40 Tahun, Mitos ataukah Fakta?

OPINI | 20 October 2011 | 23:42 Dibaca: 23044   Komentar: 34   6

13191113292000509703Ada apa dengan angka 40 tahun? Mungkin anda pernah mendengar mitos tentang seorang pria ketika memasuki usia 40 tahun bahwa mereka akan mengalami fase yang namanya puber kedua. Nampaknya mitos tersebut sudah terlanjur tertanam di benak kita, sehingga muncul kekhawatiran para isteri ketika suami mereka memasuki usia 40 tahun. Terkadang muncul pertanyaan “mungkinkah suami saya akan mengalami puber kedua? Kekhawatiran tersebut sebenarnya tidak perlu terlalu dirisaukan apabila kita telah mengenal dengan baik sifat dan karakter pasangan kita masing-masing. Namun benarkah saat seseorang memasuki usia 40 tahun akan mengalami puber kedua? Apakah ini mitos semata ataukah fakta yang sering terjadi dalam kehidupan sosial kita? Karena ternyata puber kedua ini bukan hanya terjadi pada pria, namun juga terjadi pada wanita.

“Life begin at 40″. Kehidupan seorang pria baru dimulai ketika mereka memasuki usia 40 tahun. Ketika menjelang usia 40 tahun, pada umumnya kemapanan sosial dan ekonomi seseorang akan bisa terlihat. Mulai dari karir yang semakin meningkat, penghasilan (income) yang semakin bertambah, kehidupan rumah tangga yang stabil, dimana anak-anak telah beranjak besar. Kebutuhan hidup tidak lagi melonjak tajam ketika saat pertama kali berumah tangga.

Biasanya pasangan muda (usia antara 20 - 30 tahunan) yang baru mengayuh biduk rumah tangga, akan akan merasakan perjuangan yang berat di tahun-tahun pertama perkawinan. Mulai dari kewajiban membayar cicilan rumah, kendaraan, asuransi pendidikan anak dan kebutuhan wajib yang lain. Karena di usia itu, karir mereka belum mantap, penghasilan yang hanya cukup untuk sebulan, dan masih banyak hal yang perlu dipikirkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Bila kita kaitkan pubertas dialami oleh anak yang berusia belasan tahun, baik laki-laki maupun perempuan dengan mereka yang memasuki usia 40 tahun adalah terlihat dari perubahan perilaku. Puber yang terjadi pada anak belasan tahun terlihat pada perubahan fisik mereka. Puber yang berasal dari kata “pubes” artinya rambut yang tumbuh di sekitar kemaluan. Selain terjadi perubahan fisik, pada anak laki-laki terjadi perubahan pada suara mereka.

Masa remaja adalah masa pubertas yang sarat dengan perubahan fisik yang menyebabkan munculnya perubahan cara berpikir, keterampilan menjalin relasi, dan pengelolaan emosi. Bila kita menyandingkan pengalaman usia paruh-baya (40 tahunan) dengan usia remaja, di mana pada usia paruh-baya juga terjadi banyak perubahan fisik. Namun perbedaannya adalah perubahan fisik yang terjadi pada usia paruh-baya ditandai dengan penyusutan kapasitas, sedangkan pada masa remaja, karakter utama perubahan fisik adalah penambahan kapasitas.

Pada awal abad ke-20, seorang psikolog Amerika G. Stanley Hall adalah orang pertama yang mendefinisikan pubertas sebagai bagian tersendiri dari perkembangan kehidupan manusia. Hall mengungkapkan, periode ini merupakan langkah awal dari efek evolusi manusia menuju jenjang pubertas yang permanen.

Seorang Psikoanalis, Sigmund Freud mengungkapkan bahwa masa pubertas sebagai periode “The Genital Stage’. Pada periode ini, dikarakteristikan sebagai muncul energi baru yang mendongkrak stabilitas dari tekanan seksual masa kanak-kanak. Kemudian dengan fokus pandangan baru yang lebih dinamis, sehingga dapat merubah pandangan seorang individu akan tubuh dan melihat perbedaan gender lebih ke arah ketertarikan seksual.

Perubahan fisik yang terjadi pada usia paruh-baya ditandai dengan bertambahnya upaya untuk melestarikan dan mempertahankan usia muda. Banyak kita lihat mereka yang berusia paruh-baya semakin meningkatkan frekuensi berolah raga, memperhatikan berat tubuh atau mengurangi kerut wajah semata-mata demi memperlambat proses penuaan. Perilaku seperti sering kita kaitkan dengan perilaku “genit”. Bisa dikatakan demikian karena mereka yang berusia paruh-baya tersebut seolah menguji daya pikat mereka terhadap lawan jenis.

Sah-sah saja bila kita meningkatkan kewaspadaan ketika pasangan kita memasuki usia 40 tahun. Mengingat pada usia paruh-baya kekhawatiran akan bertambah rawannya pasangan terhadap godaan selingkuh, yang juga disebabkan oleh bertambah mapannya pasangan kita secara sosial dan ekonomi. Kemapanan cara berpikir maupun kehidupan ekonomi inilah yang justru menjadi daya tarik tersendiri bagi lawan jenis. Perlu anda ketahui begitu banyak mereka yang berusia muda justru mencari pasangan atau mendambakan memiliki pasangan yang telah matang secara sosial dan ekonomi. Mereka yang merindukan ketenteraman tentu akan dengan senang hati bila memiliki pasangan yang mampu memberikan ketenteraman.

Selain godaan berselingkuh, puber pada usia paruh-baya juga disebabkan karena faktor kebosanan dan perbedaan biologis antara pria dan wanita. Pada usia paruh-baya, aktivitas seksual terasa mulai kehilangan kesegarannya. Bila pasangan mereka tidak mampu memberikan kepuasan, cinta kasih atau memiliki komitmen yang kuat, perubahan yang terjadi pada usia ini berpeluang untuk masuknya godaan. Tak jarang, karena pasangan mereka juga mengalami masalah perubahan biologis. Perubahan biologis yang dialami wanita antara lain akibat proses menopause, sehingga tidak jarang gairah seksual berkurang dan kenikmatan seksual terganggu. Hal inilah yang terkadang memicu pria tergoda mencari wanita lain untuk memenuhi kebutuhan seksualnya dan wanita menerima uluran tangan pria lain karena kesepian dan haus kasih sayang serta perhatian.

Kembali kepada anggapan bahwa pada usia 40 tahun seseorang akan mengalami puber kedua, apakah hal ini mitos ataukah fakta? Bila kita katakan hal itu hanya mitos belaka, tentu saja bisa kita terima, karena tidak setiap orang mengalami hal tersebut. Tidak semua pria mudah begitu saja tergoda pesona perempuan lain. Namun bila kita katakan bahwa itu adalah fakta yang umum terjadi, tentunya ini akan menimbulkan rasa khawatir terhadap pasangan kita. Kecurigaan bisa saja muncul. Hal ini tentu bisa menjadi pemicu retaknya hubungan suami isteri. Bila mereka tidak waspada terhadap percikan-percikan tersebut bukan tidak mungkin hubungan mereka akan kandas dan berakhir dengan perceraian.

Bicara soal fakta, belum lama ini rumah tangga seorang rekan saya kandas akibat sang suami gagal melalui masa puber keduanya. Pernikahan mereka belum juga memasuki usia 10 tahun, namun ternyata rekan saya mengalami ujian yang cukup berat dalam rumah tangganya. Mereka menikah di usia yang tidak muda lagi. Rekan saya harus menerima kenyataan bahwa suaminya meminta izin untuk menikah lagi dengan mantan kekasihnya. Perempuan mana yang bisa mengikhlaskan suaminya memiliki “madu”? dan akhirnya jalan perceraian lah yang kemudian mereka tempuh. Sebenarnya sang suami tidak ingin berpisah dengan rekan saya. Pernah juga suaminya itu meminta agar rekan saya untuk memikirkan kembali keputusannya untuk bercerai. Bahkan suaminya minta izin agar isteri keduanya untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Permintaan yang agak gila menurut saya.

Masih teringat jelas perjalanan rumah tangga mereka. Pasang surut kehidupan rumah tangga mereka boleh dibilang cukup berliku dan mengalami banyak ujian. Pertama, ketika rekan saya harus menerima kenyataan bahwa rahimnya harus diangkat akibat kanker ganas yang menggerogoti rahimnya. Atas izin suaminya, rekan saya akhirnya kehilangan rahimnya. Dan harapan untuk memiliki anak pun kandas sudah. Ketika menikah dengan rekan saya, sang suami berstatus duda dengan 2 anak. Anak pertama dibawa oleh isteri pertama, sedangkan anak kedua ikut bersama mereka.

Rekan saya ini sangat menyayangi anak tirinya. Ketika mereka menikah, sang suami hanya berstatus staff/karyawan biasa dan belum memiliki kendaraan, selain itu cicilan rumah mereka pun belum juga lunas. Semakin beranjaknya usia pernikahan mereka, karir sang suami makin menanjak, selain itu ia juga telah memiliki rumah dan kendaraan sendiri.

Seperti yang dituturkan oleh rekan saya, ternyata ujian rumah tangga mereka berawal dari kemapanan sosial sang suami. Kesetiaan sang suami tengah diuji. Ketika itu sang suami bertemu kembali dengan perempuan yang dulu sempat menjadi kekasihnya. Dahulu, perempuan itulah yang meninggalkan suaminya dan berpaling kepada pria lain. Namun pertemuan keduanya terjadi di saat sang suami telah memiliki kehidupan yang bahagia. Hubungan keduanya pun semakin dekat. Sang mantan yang rela untuk menjadi madu itu pun merengek agar segera dinikahi. Ya Tuhan, begitu berat cobaan yang dihadapi rekan saya ini. Kini ia dengan kehidupannya yang seorang diri, tanpa suami dan hanya tinggal di sebuah rumah kontrakan. Ini adalah realita. Fakta yang sungguh-sungguh terjadi. Siapa menduga kehidupan rumah tangga rekan saya hanya bertahan beberapa tahun saja.

Belajar dari pengalaman yang terjadi pada rekan saya ini, ada baiknya bila kita bisa mengambil hikmah yang terjadi. Kita tidak dapat menghindari kenyataan ketika pasangan akan memasuki usia 40 tahun, dan kemungkinan besar juga akan melalui fase “puber kedua”. Meningkatkan kewaspadaan tentu sah-sah saja. Namun hal itu jangan menjadikan tingkat kecurigaan kita menjadi meningkat 100%. Siapapun orangnya tidak ingin bila terus-menerus dicurigai. Intinya adalah kepercayaan. Bila kita yakin bahwa pasangan kita adalah orang yang bisa kita percaya, tanamkan dalam hati bahwa dirinya bisa dipercaya. Dengan kepercayaan yang kita berikan, tentu akan membuat dirinya berusaha untuk menjaga kepercayaan yang kita berikan.

Ingatlah selalu saat-saat di mana kita bersama pasangan memulai segalanya dari nol. Penderitaan dan cobaan hidup dilalui bersama, pahit-getir, asam-manisnya kehidupan dirasakan berdua. Tak bijak rasanya ketika kehidupan yang telah mencapai kematangan secara sosial dan ekonomi dapat begitu saja melupakan segenap perjuangan yang telah dilalui berdua bersama pasangan. Ingatlah, pasangan kita adalah orang yang bisa menerima kekurangan anda. Ketika anda masih di titik nol, yang belum memiliki apa-apa dan bukan siapa-siapa, ia adalah orang pertama yang ada untuk anda, orang pertama yang selalu berdoa untuk anda ketika melepas anda bekerja meniti karir. Kesuksesan seorang suami tak lepas dari peran seorang isteri. Tak elok rasanya bila ketabahannya melalui ujian kehidupan terlupakan begitu saja hanya karena anda tergoda oleh pesona seseorang yang hanya ingin menikmati kemapanan anda saat ini.

**********

*Sumber: dari berbagai media

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Anggota DPR Ini Seperti Preman Pasar Saja …

Adjat R. Sudradjat | 8 jam lalu

SBY Ngambek Sama Yusril, Rahasia Terbongkar, …

Daniel H.t. | 10 jam lalu

Tinjauan dari Sisi Lain: Keluarga Pejabat …

Rumahkayu | 11 jam lalu

Pilkada Tak Langsung Lebih Baik Daripada …

Anna Muawannah | 11 jam lalu

Unik, Sapi Dilelang Secara Online …

Tjiptadinata Effend... | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Bait Rindu untuk Bapak …

Rizko Handoko | 7 jam lalu

PKB Inisiasi Aksi Walk Out di Sidang …

Nada Dwinov | 8 jam lalu

Mari Melek Sejarah Perlawakan Kita Sendiri …

Odios Arminto | 8 jam lalu

Titik Pijat untuk Masuk Angin …

Radixx Nugraha | 8 jam lalu

Harapan Muhaimin Iskanddar Kandas …

Agus Salim | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: