Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Bernardus Grawiradhika

Seseorang yang lebih lebih berpikir praktis untuk mencapai sesuatu sesuai dengan harapan.

Cincin Api yang Dikagumi Semua Insani

REP | 20 October 2011 | 08:12 Dibaca: 209   Komentar: 0   1

Cincin selalu identik dengan sesuatu yang melingkar di jari tangan. Apapun bentuknya, cincin bertujuan untuk membuat orang lain tertarik oleh pesonanya. Jika dikaitkan dengan istilah “Cincin Api“, negara kita yang kaya akan keanekaragaman dan sumber daya alam ini terletak di wilayah Cincin Api Pasifik atau lebih dikenal dengan istilah Lingkaran Api Pasifik.

Letak geografis Indonesia yang sangat strategis, jika ditinjau dari letak maritim, Indonesia berada pada jalur pelayaran yang menghubungkan benua Asia dengan benua Eropa.  Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam yang subur dan lestari, ternyata merupakan kawasan yang rawan terkena bencana.

Dampak dari letak geografis tersebut, Negara Maritim dengan ribuan pulau 80% bagian terdiri dari air, dan terbentang dari Sabang sampai Merauke ini memiliki gunung berapi aktif terbanyak di dunia.

Salah satu bencana besar yang terjadi yaitu tsunami di Aceh pada tahun 2004 silam. Setidaknya terjadi bencana setiap tahunnya. Diantaranya ; Gempa gumi yang terjadi di Yogyakarta pada tahun 2006, banjir dan tanah longsor di Sulawesi tahun 2007, gempa bumi di Padang pada tahun 2009, dan pada tahun 2010 terjadi tsunami di Mentawai.

Bentuk cincin api yang selalu di gambarkan sebagai cekungan yang mengelilingi Samudera Pasifik. Daerah yang kerap mengalami bencana adalah daerah yang membentang dari pulau Jawa hingga pulau Sumatera. Daerah ini juga sering disebut dengan Sabuk Alpide.

Namun dari semua hal yang mengerikan yang disebutkan diatas, Cincin Api menjadi pesona tersendiri bagi penikmatnya, khususnya bagi turis mancanegara yang menyebut Indonesia dengan julukan Zamrud Khatulistiwa. Gunung Berapi yang mengerikan seakan tak dihiraukan sebagian masyarakat, banyak yang berpendapat bahwa gunung berapi membawa berkah, bak sumber kehidupan. Karena abu vulkaniknya sangat membantu penyuburan tanah.

Biar bagaimanapun, kita hidup disini, kita berpijak di tanah ini, tanah air Indonesia. Maka mari kita jaga dan lestarikan alam ini dengan segala keindahannya. Kalau bukan kita, siapa lagi?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cara Cermat Buang Sampah, yang Mungkin Dapat …

Tjiptadinata Effend... | | 21 October 2014 | 21:18

Rupiah Tiada Cacat …

Loved | | 17 October 2014 | 17:37

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Ekspektasi Rakyat terhadap Jokowi …

Fitri.y Yeye | | 21 October 2014 | 10:25

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Pak Prabowo, Sikap Anda Merusak Isi Kepala …

Eddy Mesakh | 10 jam lalu

Jamberoo itu Beda Total dengan Jambore …

Roselina Tjiptadina... | 11 jam lalu

Anda Tidak Percaya Alien, Maka Anda Sombong …

Zulkifli Taher | 11 jam lalu

Anfield Crowd, Faktor X Liverpool Meredam …

Achmad Suwefi | 13 jam lalu

Ajari Anak Terampil Tangan dengan Bahan Alam …

Gaganawati | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

That is How You Kill Me …

Ryu Kiseki | 9 jam lalu

Tiga Hal yang Ingin Saya Lakukan di …

Hendra Wardhana | 9 jam lalu

Dari Body Mulus, Sampai Bibir Sexy …

Seneng | 10 jam lalu

[Cerminsiana] Candra Buana …

Fadli Hermawan | 11 jam lalu

SBY (Mungkin) Adalah Tipe Orang yang …

De Baron Martha | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: