
Dibaca: 28
Komentar: 0
Nihil
Ayahku….
Aku sendiri di lautan, terapung-apung di sebuah balok kayu entah miliknya siapa.
Ayahku…
Aku tak tahu, kenapa pula aku bisa sampai disini, seingatku…aku terbang bersama sahabat-sahabatku, tiba-tiba saja gelap, dan aku disini, sendiri.
Ayahku…
Sepertinya kepalaku berdarah, andai kamu tahu, tubuhku basah, sayapku tak bisa ku kibaskan seperti sedia kala.
Ayahku…
Aku tak tahu sampai kapankah aku akan begini terus? Aku tengok kesana kemari, tak ada burung sedikitpun yang aku lihat.
Ayahku…
Samudra ini terlalu luas bagiku, kadang rasa takut hadir menyelinap, aku tak bisa apa-apa selain terapung-apung disini.
Ayahku…
Entah telah berapa matahari yang terbenam dan berapa matahari yang terbit, aku tak sempat menghitungnya, seakan berlalu begitu cepat. Kadang-kadang berkebalikan, berlalu begitu lambat.
Ayahku…
Aku ingin terbang lagi, meski aku sendiri pesimis bisakah aku terbang seperti sedia kala.
Ayahku…
Alasanku tidak menyerah adalah karena aku ingin pulang, aku ingin bersama kalian, aku ingin bersama sahabat-sahabtku mencari ikan bersama…
Ayahku…
Aku tidak takut untuk mencoba terbang kembali…aku tidak tahu…aku tidak ingin mati di samudra ini secara mengenaskan…Aku akan mencoba terbang lagi…
Aku bisa! Karena aku MAU!!!
Karena aku MAU!!!
Karena aku MAU!!!
Karena aku MAU!!!
Ayah…
sekian dulu, sekiranya surat ini sampai padamu, doakan, aku dapat memelukmu…
Aku tidak akan banyak berfikir…aku akan mencoba, mencoba dan mencoba!
Aku berangkat yah… Aku akan terbang setelah selesai menulis surat ini. Apapun yang terjadi, setidaknya, aku telah mencoba sebisaku!