Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Muthiah Alhasany

langit adalah atapku, bumi adalah pijakanku. hidup adalah sajadah panjang hingga aku mati

Kuliah di Turki

REP | 13 October 2011 | 03:45 Dibaca: 2692   Komentar: 5   0

Saat ini belum banyak pelajar Indonesia yang melirik untuk melanjutkan pendidikan di Turki. Pada umumnya, mereka lebih tertarik untuk kuliah di negara-negara Eropa seperti Jerman, Inggris, Perancis, Belanda dsb. Banyak pula yang mengincar pendidikan di Amrika Serikat karena beberapa universitas ternama dunia ada di sana. Sedangkan di Asia, negara yang paling diminati adalah Jepang.

Padahal, ada hal-hal menguntungkan yang patut dipertimbangkan dari pendidikan di Turki. Pertama, Turki telah menganut sistem pendidikan modern yang diadopsi dari Eropa. Misalnya di Istanbul, yang memang separuh wilayahnya ada di daratan benua Eropa. Di kota ini ada ITU (Istanbul Technic Universitesi), sebuah perguruan tinggi negeri yang cukup tua. Ada pula Sabanci, perguruan tinggi swasta yang terkenal cukup prestise/elite dan menggunakan bahasa Inggris untuk percakapan sehari-hari..

Universitas-universitas lain bertebaran di kota-kota lain, seperti Ankara, Gaziantep dll.

Kedua, Turki adalah Negara Islam yang cukup moderat. Bagi Indonesia yang mempunyai penduduk muslim terbesar di dunia, menyekolahkan anak di Negara Islam terasa lebih aman daripada Negara lain. Memang, sebelum tahun 1999, pemerintah menetapkan larangan pemakaian jilbab atau kerudung di sekolah-sekolah. Saat itu Turki masih di bawah pola pemikiran Ataturk yang ingin menjadikan Turki sama dengan negara-negara Eropa lain. Namun setelah reformasi, para pelajar diberi kebebasan dalam cara berpakaian. Tidak akan ada pelarangan pemakaian cadar, jilbab atau identitas muslim lainnya yang sekarang masih terjadi di Perancis. Bahkan tidak ada pengucilan atau kecurigaan terhadap muslim seperti di Jerman dan Inggris atau Amerika Serikat.

Ketiga, hubungan bilateral antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Turki semakin dekat. Selama ini kerjasama yang dilakukan lebih banyak menyangkut persoalan pariwisata. Sekarang kedua negara telah meningkatkan kerjasama di berbagai bidang. Sebagai contoh kerjasama di bidang ekonomi, salah satunya adalah pembebasan visa bagi penduduk di kedua negara yang ingin datang berkunjung, baik untuk tujuan pariwisata mau pun berdagang. Selain itu di bidang penanaman modal, Turki menjadi investor yang potensial di nusantara.

Kerjasama lain di bidang kebudayaan, misalnya seperti pameran benda-benda bersejarah peninggalan para Rasul, seperti tongkat nabi Musa, rambut nabi Muhammad, pedang para sahabat Nabi dll. Sehari-harinya, benda-benda ini biasa disimpan di istana Topkapi, Istanbul. Sebuah istana besar peninggalan kerajaan Ottoman yang merupakan bukti kejayaan Islam di masa lampau. Sedangkan kerjasama di bidang pendidikan, ada sekolah-sekolah yang didirikan orang Turki di Indonesia. Kita tentu pernah mendengar SMU Pribadi yang berada di kawasan kota Depok, Jawa Barat. Sekolah ini menerapkan sistem pendidikan yang telah banyak menelurkan anak-anak berbakat. Mereka selalu berhasil meraih kemenangan ketika dikirim menjadi duta Indonesia pada kompetisi sains internasional.

beasiswa

Ada program-program beasiswa yang dapat dimanfaatkan oleh para pelajar Indonesia seperti pertukaran pelajar/mahasiswa. Jumlah mahasiswa yang belajar ke Turki terjadi peningkatan cukup tinggi dari tahun ke tahun. Ini menunjukkan bahwa kedekatan Indonesia-Turki menjadi hubungan yang menyenangkan dan menguntungkan kedua pihak. Di samping itu ada ketertarikan khusus antara Indonesia-Turki, bukan hanya karena persoalan pariwisata, tetapi terjadi pemahaman karakteristik budaya antara kedua negara.

Program exchange, ada beberapa jenis yang dilakukan. Ada yang hanya bersifat jangka pendek, seperti pertukaran pelajar semala musim panas antara 2-3 bulan, ada pula yang satu semester. Biasanya kerjasama ini dilakukan oleh universitas-universitas yang bersangkutan. Misalnya, jalinan kerjasama antara Universitas Airlanggga Surabaya dengan Unversitas Sabanci di Istanbul. Sabanci adalah sebuah universitas swasta terkenal yang lengkap dengan berbagai fasilitas. Di kompleks kampus ada pula danau buatan yang indah, walau tidak alami seperti di Universitas Indonesia. Semester ganjil lalu, ada tiga mahasiswa yang berada di sana, yaitu Romel, Nikita dan Rani.

Begitu pula yang dilakukan Universitas Jember dengan Universitas di Ankara. Namun yang ini sifatnya adalah summer time exchange, yang hanya dijalani selama dua bulan di musim panas. Misalnya yang telah didapat oleh Bayu dan Puput, yang menjalani kuliah musim panas antara Juli-Agustus 2010. Di sana mereka mempelajari bahasa dan budaya Turki. Bentuk-bentuk kerjasama ini sebetulnya masih bisa ditingkatkan lagi, baik melalui pemerintah yang bersangkutan atau perguruan-perguruan tinggi terkait.

Turki sebagai tujuan pendidikan akan membuka wawasan baru dimana kedua negara belajar untuk mengikat persaudaraan yang lebih erat untuk kepentingan bersama. Dengan peningkatan kerjasama dari tahun ke tahun ini, maka bisa diharapkan bahwa suatu saat pemerintah Turki dan Indonesia dapat memiliki pendidikan yang setara tanpa merusak karakter budaya masing-masing. Pendidikan yang dapat membantu memacu kemajuan bangsa dan negara.

Swadaya

Sebenarnya, saat ini sudah cukup banyak mahasiwa Indonesia yang belajar di Turki meski bukan melalui jalur beasiswa. Misalnya, anak-anak Indonesia yang orang tuanya kebetulan memang bekerja di Turki. Selain itu, ada orang tua menyekolahkan anak di sana karena menyukai negara tersebut. Tetapi ada pula yang berdasarkan keinginan anak itu sendiri. Anak-anak yang kreatif, sering menggali informasi melalui internet, mencari tempat untuk melanjutkan pendidikan yang sesuai dengan selera dan bakatnya. Dan ternyata, anak-anak itu tertarik pula pada Turki.

Salah satu mahasiswa Indonesia yang kini kuliah di ITU, yaitu Medi Kesuma Putra, justru telah ‘karatan’ di Turki. Dia sudah bermukim di Istanbul sejak masih duduk di SMU. Tak ada seorang pun yang menganjurkan atau mendorongnnya untuk sekolah di Turki, semua atas keinginan sendiri, padahal orang tuanya ada di Indonesia. Ini mungkin disebabkan Medi memiliki jawa perantau, ia ingin tahu bagaimana rasanya hidup di tanah orang. Setelah beberapa tahun tinggal di Istanbul, Medi semakin kerasan. Ia sangat fasih berbahasa Turki dan sangat paham tingkah laku penduduk Turki. Medi adalah tempat bertanya mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang baru menginjakkan kaki ke sana. Bahkan ia sering menjadi guide sekaligus bodyguard mahasiswa-mahasiswa baru, terutama para gadis. Ia sungguh bisa dipercaya untuk memandu teman-temannya memelajari Turki.

Pada mulanya, hanya Medi seorang, mahasiswa yang kuliah di ITU. Namun pada tahun ajaran 2010-2011, bertambah menjadi delapan orang. Dengan sendirinya Medi menjadi pembimbing tak resmi para yuniornya. Salah satu yunior yang kuliah di ITU adalah Lucky, pemuda jenaka yang selalu bersemangat. Sebelum berhasil diterima di universitas tersebut, Lucky berada di Ankara sambil mempelajari bahasa Turki. Ia menunggu kesempatan adanya penawaran beasiswa. Alhamdulillah, dengan ketekunannya, ia berhasil memperoleh apa yang diinginkannya. Satu hal yang membanggakan adalah, mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang belajar di Turki, selain cerdas juga merupakan anak-anak dengan kepribadian yang baik, tetap ramah dan suka menolong. Apalagi persaudaraan dengan sesama teman Indonesia sangat kuat, pada waktu-waktu tertentu mereka berkumpul dan mengadakan suatu acara yang dapat dinikmati bersama.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Promosi Multikultur ala Australia …

Ahmad Syam | | 18 April 2014 | 16:29

Sesat Pikir Koalisi …

Faisal Basri | | 18 April 2014 | 19:08

Liburan Paskah, Yuk Lihat Gereja Tua di …

Mawan Sidarta | | 18 April 2014 | 14:14

Untuk Capres-Cawapres …

Adhye Panritalopi | | 18 April 2014 | 16:47

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Kue Olahan Amin Rais …

Hamid H. Supratman | 11 jam lalu

Puan Sulit Masuk Bursa Cawapres …

Yunas Windra | 11 jam lalu

Misteri Pertemuan 12 Menit yang Membungkam …

Gatot Swandito | 12 jam lalu

Bila Anak Dilecehkan, Cari Keadilan, …

Ifani | 15 jam lalu

Semen Padang Mengindikasikan Kemunduran ISL …

Binball Senior | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: