Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Rono Digdoyo

gusti allah ora sare, “nanduro sing jero” mengko “dipikul duwur”, sak bejo-bejo ne wong edan selengkapnya

Poligami: Perspektif Tetangga Istri Muda

REP | 12 October 2011 | 04:26 Dibaca: 266   Komentar: 4   0

Saya punya tetangga buruh bangunan, dengan banyak anak dan salah satunya perempuan yang menjadi bahan gosip kali ini. Bisa dibayangkan dengan kondisi keluarga seperti itu bisa sekolah sampai lulus SMK apalagi swasta butuh perjuangan yang luar biasa baik diri maupun orang tuanya. Beruntung anak tersebut dikaruniai wajah dan perawakan yang walaupun tidak bisa dikatakan istimewa tapi di atas rata-rata. Seperti kebanyakan lulusan SMK dan tidak punya koneksi maka pekerjaan yang bisa diakses juga tidak banyak, salah satu pilihan yang ada ya bekerja sebagai pelayan toko di suatu mall. Karena memang rumah saya bersebelahan dengan rumahnya, maka saya bisa mengamati cowok-cowok yang datang, sekilas juga tidak ada yang berkualitas.

Karena hanya pengamat amatiran, tidak begitu jelas bagaimana jalan ceritanya dan juga jaim sehingga tidak mengakses infotainment tetangga, saya hanya tahu dapat undangan syukuran pernikahan dari tetangga tersebut. Kabar burung yang beredar, dia menikah siri sebagai istri muda dari seorang pengusaha dari Jakarta yang sudah punya anak seusia mempelai perempuan. Tidak jelas juga apa istri pertama pria tersebut tahu atau mengijinkan pernikahan itu. Walaupun menjadi buah bibir di perumahan kami, tapi waktu itu saya menganggap itu pilihan yang realistis dan mungkin terbaik. Bisa dibayangkan seorang pengusaha yang harus sering berada di daerah jauh dari keluarga, godaan untuk berzinah pasti besar, dan menikah lagi adalah jalan keluar yang bisa diterima.

Saya angkat topi dengan mereka, walaupun menjadi istri muda seorang pengusaha tapi tetap tinggal sama orang tuanya serta gaya hidupnya juga tidak wah dan terutama pilihannya untuk melanjutkan kuliah. Update berita terakhir, tetangga saya lulus sarjana dan dengan koneksi suaminya bisa bekerja di salah satu bank terkemuka. Lebaran kemarin pas pulang ke Indonesia, untuk pertama kalinya saya ngobrol panjang lebar dengan pengusaha tersebut yang ternyata saudara dari bos saya dan pesannya “jangan bilang-bilang ya sama …… .., dia belum tahu kalau saya punya istri lagi”. Sebagai tetangga saya hanya bisa bersyukur ada satu keluarga yang bisa mematahkan lingkaran setan kemiskinan dan ini berarti berkurang 1 keluarga miskin dari Indonesia.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Trik Licik Money Changer Abal-abal di Bali! …

Weedy Koshino | | 20 August 2014 | 23:31

Dahlan Iskan, Sosok Tepat Menteri Pertanian …

Felix | | 21 August 2014 | 09:47

ISIS Bunuh Wartawan Amerika dan Ancam Obama …

Ansara | | 21 August 2014 | 10:03

I See All Evil, I Hear All Evil, I Report …

Agustulastyo | | 21 August 2014 | 12:32

Haruskah Semua Pihak Menerima Putusan MK? …

Kompasiana | | 21 August 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Pelajaran dari Sengketa di MK …

Jusman Dalle | 3 jam lalu

Hebat, Indonesia Paling Menjanjikan Sedunia! …

Firdaus Hidayat | 5 jam lalu

Jangan Sembarangan Pelihara Ayam di Amerika …

Usi Saba Kota | 5 jam lalu

Menanti Komitmen Prabowo …

Adrian Susanto | 6 jam lalu

Aset Penting “Dikuasai”, SDA …

Hendrik Riyanto | 8 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: