Artikel

Yohannes Andre

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Love, Wisdom, And Compassion

Islam Paria


OPINI | 26 September 2011 | 16:52 Dibaca: 116   Komentar: 6   Nihil

Berkaitan dengan kasus Bom bunuh diri di Solo, yang pertama-tama adalah ungkapan keprihatinan yang mendalam kepada korban, baik pelaku itu sendiri, maupun yang mengalami luka berat hingga ringan, dan korban dari stigma bahwa agama itu menakutkan.

Saya kira pembaca juga setuju bahwa, tidak ada ajaran agama manapun yang mengesahkan tindakan kekerasan, apalagi hingga bunuh diri.

Meminjam istilah kata Paria, dimana kasta Paria adalah kasta atau keadaan suatu golongan yang tersisihkan, baik itu pengemis, gelandangan, tuna karya, tuna wisma, barangkali dengan pelaku bom bunuh diri itu.

Jikalau menyimak berita, pelaku sempat browsing ke internet, dan searching kekejaman perilaku tentara Amerika di Afghanistan, yang pada intinya, adalah keberpihakan dan merasa sepenanggungan akan kekejaman. Bahkan pelaku juga sempat membuka mengenai soal Moto Gp, ini menyiratkan pelaku juga manusia biasa, sama seperti kita, mempunyai ketertarikan dalam bidang tertentu.

Banyak yang mengatakan tindakan itu adalah radikalisme, atau sebut saja kekerasan begitulah, kekerasan mengatasnamakan agama. Yang perlu diketahui adalah, adanya perlawanan karena adanya sikap yang sewenang-wenang dari pihak tertentu. Barangkali tidak ada yang suka terhadap kesewenang-wenangan itu ada terus, tetapi bagaimanakah caranya melawannya? Bagaimanakah caranya menghentikannya?

Muncullah apa yang namanya teroris, dan pelakunya di identikkan dengan menganut agama Islam, adhuh…suatu cobaan yang berat bagi yang memeluk Islam, bagaimana tidak? Citra sebagai agama rahmat bagi semesta alam, menjadi murung hanya karena tindakan beberapa gelintir orang.

Saya kok sangat tidak setuju dengan dikaitkannya kekerasan berdasar agama dengan Islam, dengan label teroris. Apakah teroris itu? Tentunya adalah pihak yang melakukan upaya untuk menebar ketakutan ke kalangan masyarakat.

Pelaku bom bunuh diri itu termasuk korban juga, ia mungkin tidak bertemu dengan orang yang tepat, yang dapat membuka cakrawala hatinya, yang mampu membuka cangkang pikirannya. Aih…aih… bukan maksud saya jadi orang yang sok tahu, hanya saja, pelaku bom bunuh diri itu juga termasuk korban.

Pelik, rumit, dan frustasi sosial membuat orang merasa tersisihkan, tersingkir dari kedamaian, apatis.  hingga menjadikan kekerasan sebagai jalan keluar. Benar memang, jika pelaku ber-KTP Islam, tetapi apakah itu serta merta menentukan nilai Islam itu sendiri, saya kira tidak. Islam adalah keselamatan, keselamatan dengan kedamaian serta kesejukan, bukan dengan kekerasan.


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: