
Dibaca: 40
Komentar: 2
Nihil
Seorang wanita duduk di sebuah teras. Pandangannya ia hamparkan ke sebuah taman, dan mungkin persawahan yang membentang juga.
Ia melihat seorang penjual rumput, hampir-hampir hanya terlihat dua rumputnya saja, karena yang membawa rumput itu masih seorang anak-anak. Seperti dua karung rumput yang berjalan sendiri.
Kemudian karena saking penasarannya, wanita itu memanggil si-anak pembawa rumput itu. Lantas ditanyai , apakah ia sudah makan atau belum? Dan jawabnya belum. Saat ditanyai dimana ibunya? Jawabnya ibunya sedang bekerja. Ketika ditanyai, dimana ayahnya? Ayahnya sudah tak ada, sahutnya.
Karena anak itu belum makan, kemudian wanita tadi meminta anak itu untuk duduk barang sebentar. Wanita itu berjalan ke belakang, mungkin ke dapur. Setibanya di teras tempat anak pembawa rumput duduk. Ia membawakan satu bungkus makanan untuk si-anak pembawa rumput tadi.
“Ini, ada makanann untukmu. Ayo silahkan makan…”
Anak pembawa rumput itu hanya diam.
“Ayo…silahkan makan, tidak perlu malu-malu… Silahkan makan…”
Anak itu beringsut, dan mengucapkan terima kasih…
“Ooo mau dimakan di rumah ya…?”
“Saya masih punya dua adik di rumah kak… terima kasih, makanan ini akan kami makan bertiga.”
***
Bagi kita yang cukup materi, tentu saja, soal makan adalah bukan masalah. Tetapi ada yang kesulitan untuk sesuap nasi saja.
Nah, bagaimana jika kita menikmati makanan kita dengan penuh syukur? Jangan seperti saya, yang ketika dirumah sering mencaci makanan, ini lauknya tidak enak, nasinya kurang empuk, atau yang lain-lain lah…