Artikel

Sosbud

Ahmad Farid Mubarok

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

seseorang yang selalu diberi keindahan yang semu...

Berhalaisme


OPINI | 18 September 2011 | 13:40 Dibaca: 276   Komentar: 2   2 dari 2 Kompasianer menilai menarik

apa yang terjadi jika umat islam tidak menemukan the real of berhala di dalam kehidupan moderennya?. yup!. berhala jadi tidak terilustrasikan. untuk memenuhi kebutuhan kejelasan itu lalu kita membuat makna-maknanya sendiri. contoh sederhananya sebagai berikut:

“SBY, ia menang karena menjadi idola (berhala) ibu-ibu rumah tangga. Ia menjadi pemenang dalam konstelasi politik, karena menjadi bagian dari berhala yang banyak dipuja dan dikenal.”

jika dulu berhala diartikan sebagai patung sesembahan di tanah arab, kini berhala diartikan sebagai idola atau segala hal yang membuat kita “berpaling dari tuhan”, atau secara sederhana diartikan kepada ketertarikan kepada sesuatu yang bukan ilahiyah, yang dari pengabdian kepada patung-patung, penguasa dan tokoh masyakat , atau apa saja yang berpengaruh dari semua berhala tersebut, selanjutnya dianggap “menemukan ketentraman jiwa yang palsu” karena pengabdian kepadanya. nah, dari sini dibuatlah daftar berhalaisme di abad 21 ini. penjelasan berhala menjadi sangat rumit.

contohnya, berhala diartikan juga termasuk didalamnya hukum dan sistem hidup (undang-undang). alasannya, hukum yang berlaku dan menjadi sistem hidup adalah tradisi-tradisi dan undang-undang peninggalan nenek moyang, bukan berdasarkan wahyu dari allah, dari yunani kuno seperti demokrasi, dari penjajah eropa seperti belanda, inggris, prancis dan sebagainya. nah, demokrasi pun menjadi berhala. kompasiana, jika kita memakai cara pikir ini pun bisa dimasukkan kedalamnya. ketertarikan kita kepada situs ini bisa dinilai berbahaya. :)

hari ini, 18 september 2011 terjadi kerusuhan di purwakarta, berupa penghancuran patung gatot kaca dan patung semar di kota tersebut oleh sekelompok orang berseragam putih, memakai peci dan sorban. kasus sebelumnya pembongkaran patung tiga mojang di bekasi, patung naga di kota singkawang, patung buddha di atas vihara tanjung balai, patung bima di purwakarta, atau cerita serupa yang juga terjadi di berbagai daerah di dunia seperti patung buddha tertinggi yang terletak di tebing bamiyan hazarat afghanistan yang dihancurkan oleh taliban, penghancuran patung besar turki yang dibuat sebagai lambang rekonsiliasi turki armenia; dan berbagai contoh lainnya.

untungnya duit, kursi/jabatan, tidak berupa patung. dan pak beye juga belum dipatungkan. jadi kita masih boleh menyembah kursi/jabatan karena kursi itu bukan berupa patung di tengah kota. kita masih boleh menyembah duit karena itu bukan berupa patung di tengah kota. masih bisa mengidolakan pak beye (buat yang masih mengidolakannya). atau jika kita termasuk orang yang lagi puber2nya beragama, ya barangkali bisa memilih hidup asketis.

kisah nabi ibrahim menghancurkan patung dan kisah nabi muhammad setelah fathul makkah barangkali menjadi inspirasi penghancuran patung-patung wayang yang menjadi ikon/landmark berbagai kota di indonesia tersebut. setidaknya, paranoia ini terwakili dalam kalimat berikut “sesungguhnya berhala-berhala abad 21 ini tidak kalah banyaknya dengan berhala-berhala kuno zaman dahulu, bahkan cenderung bervariasi dan muncul dengan tampilan yang sangat halus dan menipu.”

definisi berhala menjadi sangat liar. masing-masing membuat definisinya sendiri, dan dari definisi yang dibuat sendiri itu lalu dijadikann… ah!, sesuatu banget,[]

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: