Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Dedi Kusuma

S-1 psikologi, ex dosen psikologi, konsultan HRD, saat ini menjadi Pengajar Muda Yayasan Gerakan Indonesia selengkapnya

Taptu

REP | 17 September 2011 | 13:14 Dibaca: 85   Komentar: 0   0

16 Agustus 2011 kemarin, saya mengikuti upacara pengukuhan paskibra, yang akan bertugas pada 17 Agsutus keesokan harinya. Terjadwal bahwa setelah acara pengukuhan itu akan dilanjutkan dengan acara taptu. Apa itu taptu? Saya tidak tahu, tidak pernah mendengar, dan Bagus, teman saya hanya mereka-reka saja mungkin artinya penetapan keputusan. Karena di sini tidak ada internet, saya juga tidak bisa bertanya kepada mbah Google yang maha tahu. Pak Camat yang memasukkan acara itu juga tidak tahu apa arti sebenarnya dari taptu,  dia hanya mengikuti tradisi taptu yang selalu dilakukan dalam rangkaian upacara peringatan 17 Agustus di lingkup pemerintahan, dari pusat sampai ke daerah.

Acara sore itu dimulai dengan acara pengukuhan paskibra. Acara yang berlangsung molor sejam dari waktu yang direncanakan itu diikuti oleh para anak sekolah dari lima desa di kecamatan Molu Maru yang saat itu sedang berkumpul di ibukota kecamatan, Desa Adodo Molu, untku mengikuti rangkaian acara peringatan 17an.  Tidak lupa juga tentunya staf kecamatan dan guru-guru dari kelima SD dan dua SMP yang ada. Upacara pengukuhan paskibra baru dimulai jam 6, dan berakhir tepat jam 7, di saat langit sudah mulai gelap. Acara taptu pun dimulai, dengan menyisakan saya yang masih bertanya-tanya tentang model acara ini. Yang sata tahu, tiap desa diminta menyediakan bambu yang akan dibuat menjadi obor. Saya berpikir, mungkin akan diadakan upacara penyalaan obor, seperti di pembukaan pesta olahraga. Tapi untuk apa, bukankah besok rangkaian acara 17an sudah akan diakhiri? Entahlah, saya hanya sibuk melakukan tugas utamaku saja, menjepret sana sini untuk mendokumentasikan rangkaian kegiatan.

Seharusnya malam itu masih dalam waktu bulan terang, sebagaimana beberapa hari sebelumnya. Biasanya malam tidak terlalu gelap karena cahaya bulan yang membantu menerangi desa yang tanpa penerangan ini. Tapi malam ini, entah kenapa di malam menjelang 17an bintang bertaburan di langit, sebagai substitusi dari bulan yang biasanya terang benderang. Protokol mengumumkan bahwa acara taptu akan dimulai, speaker yang sebelumnya memutar lagu-lagu perjuangan pun disenyapkan. Anak-anak yang membawa bambu satu per satu datang ke depan panggung, menyobek karung goni dan menyelupkannya ke dalam minyak tanah. Anak-anak kecil di desa ini sudah terbiasa membuat obor, sesuatu yang mungkin jadi mainan antik bagi teman-temannya di kota besar yang penuh lampu. Dalam waktu tidak lama, lapangan SMP Negeri 7 Molu Maru yang gelap –cahaya hanya ada di panggung saja- langsung bercahaya dengan jilatan-jilatan api dari obor.

Setelah semua obor menyala, setiap anak lalu kembali ke barisannya. Protokol pun mengumumkan bahwa acara taptu sudah bisa dimulai, dilanjutkan dengan penjelasan rute yang akan diambil. Oh, rupanya acara ini mirip dengan malam takbiran, di mana anak-anak yang membawa obor ini akan berjalan keliling desa kecil ini dengan rute SMP-jalan pantai-pantai-belok di warung-depan SD-jalan bak air-kembali ke SMP. Saya jadi penasaran, karena hal seperti ini sudah jelas susah dilakukan di kota besar. Di kota paling taptu hanya bisa dilakukan keliling kompleks perumahan saja (walau desa Adodo Molu ini lokasi pemukiman warganya memang seluas satu cluster di kompleks perumahan kecil) atau paling tidak keliling sekolah. Mengililingi seluruh kota tidak mungkin, keluar ke jalan pun kala ubukan ramai dengan kendaraan, pasti penuh dengan rumah rumah warga yang terang benderang dan ramai.

Benar saja, seperti takbiran, anak-anak kecil dengan pakaian putih merah itu berjalan membawa obor sambil menyanyi lagu-lagu perjuangan sebagai substitusi takbir. Tiap barisan menyanyikan lagu yang berbeda, sehingga ketika kita menyusuri barisan dari depan ke belakang,  akan ditemukan berbagai macam lagu. Ada sekolah yang gurunya sampai berteriak-teriak untuk membuat suara anak-anaknya mengalahkan suara barisan sekolah di depannya, ada juga sekolah yang sudah kehabisan stok lagu sampai megulang-ulang saja lagu Garuda Pancasila dan Dari Sabang Sampai Merauke. Sekolahku menyanyikan lagu Kalau kau suka hati tepuk tangan, lagu yang saya ajarkan, saking kekurangan lagunya. Perjalanan yang tidak terlalu lama itu begitu penuh kesan. Warga yang dilewati rombongan taptu begitu antusias melihat pemandangan baru yang hadir di desa kecil mereka. Anak-anak begitu bangga menjadi pusat perhatian, guru-guru begitu semangat bernyanyi mendampingi anak-anaknya.

Berdiri di belakang barisan, melihat kelebatan api di malam yang gelap, diiringi paduan suara para manusia cilik putih merah di depanku itu, menerbangkan anganku jauh ke 66 tahun yang lalu. Saya membayangkan, di 16 Agustus malam Soekarno, Hatta, Yamin, dan para pemuda lainnya sedang berkumpul di Jalan Diponegoro, Menteng, untuk mendiskusikan suatu hal besar yang akan mereka lakukan keesokan harinya, sebuah peristiwa yang menjadi perayaan besar dari 220juta penduduk republik ini di kemudian hari. Saya membayangkan perdebatan tentang naskah proklamasi, siapa yang akan menandatangani, siapa yang akan bertanggung jawab sekiranya masih ada pihak Jepang yang menghalang-halangi, mungkin ada keraguan jangan-jangan apa yang akan dikumandangkan besok itu tidak disambut penuh oleh warga Indonesia secara umum. Malam taptu enam setengah dekade yang lalu itu pasti malam yang seperti malam ini, juga malam yang gelap, dan juga seperti malam ini, pasti dipenuhi dengan api semangat dari para pemuda yang tidak kenal ragu.

Saya kembali ke sahutan para anak-anak di depanku. Mereka adalah anak-anak lugu yang baru pertama kali merayakan 17 Agustusan. Seperti saya mereka baru pertama kali mengikuti taptu, tapi tidak seperti saya, mereka juga baru pertama kali ini ikut serta dalam perayaan kemerdekaan, sebelumnya tidak pernah ada gaung kemerdekaan di sekolah-sekolah dan desa-desa mereka yang terisolasi dari kemajuan. Setelah pemekaran kecamatan baru ini, banyak perubahan yang dibawa oleh Camat perdana di kecamatan ini, salah satunya adalah perayaan 17 Agustusan, beserta taptunya. Saya yakin, mereka sungguh tidak akan melupakan, betapa kemerdekaan telah menghampiri mereka, betapa perayaan kemerdekaan itu begitu meriah, terutama setelah manusia-manusianya ikut merasakan kemerdekaan. Semoga ini adalah awal yang bagus bagi kecamatan dan desa-desa ini, bagi anak-anak pesisir ini, agar kemerdekaan dari kebodohan, kemerdekaan dari ketidaktahuan, dari keterisolasian, dari keterinferioritasan, akan segera menyinggahi mereka pula.

Dan tanpa terasa, anak-anak telah kembali ke lapangan SMP. Mereka sudah kembali ke dalam barisannya, dan setelah menyanyi beberapa lagu lagi, protokol pun mengakhiri acara taptu, dan melanjutkan ke acara berikutnya. Dengna itu, berakhir pula tulisanku tentang taptu ini. Merdeka!

Video taptu bisa dilihat di: http://www.youtube.com/watch?v=TAyoPOZYT6k

13162652081283301465

Suasana taptu

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ada “Tangan” Anjing Diborgol di Pasar …

Eddy Mesakh | | 18 December 2014 | 21:39

Konyolnya Dokumen Hoax Kementerian BUMN Ini …

Gatot Swandito | | 18 December 2014 | 09:24

Suka Duka Kerja di Pakistan …

Gaganawati | | 18 December 2014 | 23:19

Warga Hollandia Antusias Menyambut …

Veronika Nainggolan | | 18 December 2014 | 20:40

[UPDATE] Nangkring Parenting bersama Mentari …

Kompasiana | | 10 December 2014 | 17:59



Subscribe and Follow Kompasiana: