Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Turunkan Harga Sinamot

REP | 17 September 2011 | 02:04 Dibaca: 4381   Komentar: 46   7

Turunkan harga sinamot! Heheh, itu hanya sekedar lelucon. Apa sebenarnya sinamot? Sinamot adalah harga atau uang beli yang diberikan paranak (mempelai lelaki) kepada parboru (mempelai perempuan) jika ingin menikah. Itu sudah menjadi adatnya dan bila ada yang tidak mengikutinya apalagi dia suku batak berarti dia tidak memiliki adat!

Asal  usul sinamot sebenarnya dimulai dari pekerjaan orang suku batak yang dahulu kebanyakan bertani (mangula). Sehingga pada saat wanita dan pria akan menikah, otomatis istri mengikut si suami. Sehingga keluarga si istri merasa pekerjaannya di sawah bertambah karena kurangnya pekerja (maksudnya pekerja keluarga). Disinilah si pria harus memberi ganti si wanita, entah itu wanita atau pria. (orang ganti orang).

Namun cara ini sangat tidak kena pada sasaran, sehingga diganti menjadi istilahnya Gajah Toba (horbo). Berjalannya waktu kemudian digantilah menjadi Sinamot, dan sebelum sinamot berupa uang, Sinamot sangat berat; berapa banyak, kerbau, lembu, uang dan emas. Sesuai keadan si paranak (mempelai pria) maka Sinamot itu lambat laun berubah menjadi uang.

Sinamot ini pun sebenarnya sudah menjadi suatu kebanggan bagi kedua belah pihak. Dimana anak borunya (anak perempuannya) dihargai dengan harga tinggi, maka berbahagialah keluarga si perempuan. Begitu juga dari pihak paranak, bisa memberi sinamot banyak maka rasa banggalah yang ia dapatkan. Bahkan terkadang ada pihak lelaki yang membiayai semua pengeluaran pernikahan untuk keluarga si perempuan. Lagian, tak ada rugi sebenarnya jika sinamot besar bagi pihak lelaki, toh mereka nanti akan mendapatkan tumpak (amplop dari tamu-tamu yang datang). Biasanya tumpak itu akan banyak jumlahnya, khan orang batak banyak berarti tamu pun akan banyak.

Tetapi lepas dari itu seharusnya melihat kondisi pihak lelaki dulu. Karena ada pernikahan yang gagal karena harga sinamot yang ditawarkan pihak lelaki tidak sesuai dengan hati keluarga perempuan. Jika tidak ada dos ni roha, bagaimana caranya sukses pernikahan? Gagallah cerita penentunya.

Zaman sekarang seharusnya,

aek godang, do aek laut

dosniroha do sibaen nasaut.

Heheh.. gak ngerti yah? Maksudnya hanya dengan tulusnya hatilah maka akan tercapai cita-citanya hati. :)

Oh iya… Ngomong-ngomong zaman sekarang, anak gadis bila sudah memiliki gelar (kuliahan) maka harga sinamotnya akan naik.  Itu sich persepsi orang banyak. Makanya bila melihat pernikahan orang batak, mata langsung tertuju pada papan bunga yang ada di acara pernikahannya. Bila si wanita bergelar apalagi sampai S3 maka besar jugalah sinamotnya, jika tamat SMA (mungkin) sinamotnya tidak terlalu banyak. Yah, itu gak mutlak benar juga sich. Karna ada banyak alasan. 1) Si wanita bergelar tetapi menikah dengan pengangguran, maka bagaimana ceritanya sinamot tinggi? … 2)Nah, jika kedua belah pihak ada dos ni roha? Lancarlah pernikahan tanpa memikirkan sinamot.

Jadi bagaimana dengan mereka yang kawin lari? Atau mungkin menikah di perantauan tak mengerti adat? Nah, itu dikatakan Mangalua. Jika diartikan secara harfiah maka artinya adalah melepaskan diri. Pernikahan yang terjadi tanpa restu orangtua, atau bisa dikatakan pernikahan yang tidak diadati (mangadati).

Setelah menikah nanti dan memiliki keturunan, pesta pernikahan bisa dimulai lagi. Itulah yang dikatakan Sulang-sulang ni Pahompu atau mangadati, disitu sinamot juga diperhitungkan walau sudah terlambat.

Biasanya, jika perempuan yang menikah dan sinamot langsung jadi. Itu dikatakan perempuannya cash. Perempuan yang menikah tapi sinamot belum dibayarkan (mangalua) itu dikatakan perempuan credit. Hehehe… Itu hanya sebutan canda aja.

Hmmm… Terlepas dari itu semua, sangat disayangkan jika dua insan yang sudah saling mencintai harus terpisahkan  hanya karena sinamot dan ketidak mengalahannya orangtua. Yaaahhh… Tetapi jika beberapa individu memikirkan harga diri mereka diukur dari uang. Apa boleh dibuat? Pasrah saja pernikahan gagal. :’(

Maka bila ada lelaki yang keberatan dengan nominal yang diminta orangtua wanita. Lakukan saja demo. “TURUNKAN HARGA SINAMOT!!!”

Hehehe, hanya sekedar lelucon yang sering keluar… ^_^

Sebagai kata penutup saya ucapkan kembali

aek godang, do aek laut

dosniroha do sibaen nasaut.

***


Tulisan ini penjelasan untuk fiksiku yang akan ku posting besok malam,

dan kelanjutan dari fiksiku yang terdahulu

PARIBAN!!! I LOVE YOU

baca yach? :D









 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Memotret Kinerja Warga Kubangwungan …

Roselina Tjiptadina... | | 21 December 2014 | 22:08

Kejutan Tingkah Polah Remaja di Lokasi …

Dhanang Dhave | | 22 December 2014 | 11:47

Rimba Beton dalam Labirin Kota …

Ratih Purnamasari | | 22 December 2014 | 11:25

Drama Proyek Jembatan Linggamas …

Kandar Tjakrawerdaj... | | 22 December 2014 | 12:32

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Evan Dimas, Tengoklah Chanathip ‘Messi …

Achmad Suwefi | 3 jam lalu

Ibu Melemparku ke Tiga Benua …

Sunaryoadhiatmoko | 6 jam lalu

Hari Ibu Selow Aja …

Ifani | 7 jam lalu

Gol Telat Skrtel, Bawa Liverpool Imbangi …

Achmad Suwefi | 14 jam lalu

Karena Gede Pasek, SBY Akan Terus Berjaya …

Giri Lumakto | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: