Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Maruhum Sidauruk

http://batak-g.blogspot.com

Polemik Penggunaan Identitas Saragi/h di Kalangan Keturunan Sidauruk

OPINI | 16 September 2011 | 09:21 Dibaca: 749   Komentar: 4   0

Polemik penggunaan identitas Saragi dikalangan keturunan Sidauruk pada dasarnya merupakan salah satu aspek fenomenal yang pada akhirnya membuat banyak kerancuan dalam proses penelusuran silsilah dalam sistem tarombo marga kita. Banyak faktor yang menyebabkan terjadi hal ini, seperti yang saya utarakan sebelumnya, misalnya oleh sebab merantau, adopsi, adaptasi, atau oleh sebab lainnya. Hal ini tentu saja sangat manusiawi jika ditinjau berdasarkan perspektif sosial kemasyarakatan. Namun akan menjadi sebuah polemik jika fenomena tersebut tetap dipertahankan dalam lintas generasi.

Salah satu resiko yang ada adalah hilangnya berbagai fakta empiris yang dibutuhkan pada saat generasi berikutnya berupaya untuk menelusuri asal-usulnya dalam silsilah Sidauruk. Perlu di ingat, penggunaan marga Saragi / Saragih merupakan identitas konstekstual yang umum dikalangan marga-marga sesama PARNA sebagai bagian dari proses ikatan adaptasi dan sosialisasi diantara sesama turunan Nai-Ambaton. Dalam geneogram (diagram silsilah) Parna, ada Saragi Tua sebagai salah satu proto-geneologi (nenek moyang dalam urutan tertinggi) yang menurunkan beberapa marga dari PARNA, dan oleh sebab adanya fenomena penggunaan marga Saragi sebagai identitas konstekstual dikalangan PARNA, pada ujungnya menimbukan kerancuan bagi banyak pihak dari kalangan eksternal PARNA.

Kerancuan ini diantaranya, (1) ada yang mengira bahwa PARNA adalah keturunan Saragi Tua atau (2) ada yang mengira bahwa berbagai marga Parna yang menggunakan identitas saragi sebagai identitas alternatif merupakan keturunan langsung dari Saragi Tua. Inilah contoh implikatif dari fenomena penggunaan identitas Saragi bagi kalangan marga-marga yang bukan keturunan Saragi Tua.

Satu lagi yang perlu diingat mengenai penggunaan identitas Saragi adalah mengenai keabsahan Identitas silsilah marga dari pengguna tersebut. Identitas Saragi merupakan identitas kolektif yang digunakan oleh sebagian besar kalangan PARNA pada saat bersosialisasi dengan pihak eksternal. Hal ini dapat diartikan bahwa dalam konteks internal PARNA maupun jika ditanya lebih lanjut oleh pihak eksternal, masing-masing pengguna masih menggunakan identitas berdasarkan marga aslinya agar terdapat kejelasan identitas dalam struktur geneogram PARNA. Salah satu contohnya, jika kita bertemu dengan seseorang yang menggunakan marga saragi/saragih, bila ditanya lebih lanjut yang bersangkutan tentu akan memberikan identitas marga aslinya dibelakang identitas kolektif tersebut (saragi/saragih). Jadi sangat aneh bukan jika dikalangan marga kita ada yang mengira dapat menggunakan identitas kolektif (saragi/saragih) sebagai identitas pribadi pada saat bersosialisasi dikalangan internal PARNA. Hal ini mudah-mudahan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi saudara-saudara kita yang terkait.

Jadi dalam menyikapi fenomena tersebut, tentu saja kita tidak dapat melarang saudara-saudara kita menggunakan identitas Saragi/h oleh sebab hal tersebut merupakan kebebasan mereka sebagai manusia, namun tidak ada salahnya kita menyarankan kepada mereka agar yang terbaik adalah menggunakan marga asli dengan landasan persuasif berdasarkan wacana diatas. Termasuk kecintaan akan bona pasogit(pencarian silsilah asli di samosir) dan pemendaran jati diri yang sebenarnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jejak Indonesia di Israel …

Andre Jayaprana | | 03 September 2014 | 00:57

Ironi Hukuman Ratu Atut dan Hukuman Mati …

Muhammad | | 03 September 2014 | 05:28

Persiapan Menuju Wukuf Arafah …

Dr.ari F Syam | | 03 September 2014 | 06:31

Si Biru Sayang, Si Biru yang Malang …

Ikrom Zain | | 02 September 2014 | 21:31

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Awasi Jokowi, Kita Bukan Kerbau Dungu …

Mas Wahyu | 3 jam lalu

Kekuatan Jokowi di Balik Manuver SBY di …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Subsidi BBM: Menkeu Harus Legowo Melepas …

Suheri Adi | 11 jam lalu

Jokowi, Berhentilah Bersandiwara! …

Bang Pilot | 13 jam lalu

Menerka Langkah Politik Hatta …

Arnold Adoe | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Tiga Resensi Terbaik Buku Tanoto Foundation …

Kompasiana | 7 jam lalu

Si Bintang yang Pindah …

Fityan Maulid Al Mu... | 8 jam lalu

Oase untuk Anak Indonesia …

Agung Han | 8 jam lalu

Jokowi Mirip Ahmadinejad …

Rushans Novaly | 8 jam lalu

Alternatif Solusi Problem BBM Bersubsidi …

Olivia | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: