Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Maruhum Sidauruk

http://batak-g.blogspot.com

Polemik Penggunaan Identitas Saragi/h di Kalangan Keturunan Sidauruk

OPINI | 16 September 2011 | 09:21 Dibaca: 756   Komentar: 4   0

Polemik penggunaan identitas Saragi dikalangan keturunan Sidauruk pada dasarnya merupakan salah satu aspek fenomenal yang pada akhirnya membuat banyak kerancuan dalam proses penelusuran silsilah dalam sistem tarombo marga kita. Banyak faktor yang menyebabkan terjadi hal ini, seperti yang saya utarakan sebelumnya, misalnya oleh sebab merantau, adopsi, adaptasi, atau oleh sebab lainnya. Hal ini tentu saja sangat manusiawi jika ditinjau berdasarkan perspektif sosial kemasyarakatan. Namun akan menjadi sebuah polemik jika fenomena tersebut tetap dipertahankan dalam lintas generasi.

Salah satu resiko yang ada adalah hilangnya berbagai fakta empiris yang dibutuhkan pada saat generasi berikutnya berupaya untuk menelusuri asal-usulnya dalam silsilah Sidauruk. Perlu di ingat, penggunaan marga Saragi / Saragih merupakan identitas konstekstual yang umum dikalangan marga-marga sesama PARNA sebagai bagian dari proses ikatan adaptasi dan sosialisasi diantara sesama turunan Nai-Ambaton. Dalam geneogram (diagram silsilah) Parna, ada Saragi Tua sebagai salah satu proto-geneologi (nenek moyang dalam urutan tertinggi) yang menurunkan beberapa marga dari PARNA, dan oleh sebab adanya fenomena penggunaan marga Saragi sebagai identitas konstekstual dikalangan PARNA, pada ujungnya menimbukan kerancuan bagi banyak pihak dari kalangan eksternal PARNA.

Kerancuan ini diantaranya, (1) ada yang mengira bahwa PARNA adalah keturunan Saragi Tua atau (2) ada yang mengira bahwa berbagai marga Parna yang menggunakan identitas saragi sebagai identitas alternatif merupakan keturunan langsung dari Saragi Tua. Inilah contoh implikatif dari fenomena penggunaan identitas Saragi bagi kalangan marga-marga yang bukan keturunan Saragi Tua.

Satu lagi yang perlu diingat mengenai penggunaan identitas Saragi adalah mengenai keabsahan Identitas silsilah marga dari pengguna tersebut. Identitas Saragi merupakan identitas kolektif yang digunakan oleh sebagian besar kalangan PARNA pada saat bersosialisasi dengan pihak eksternal. Hal ini dapat diartikan bahwa dalam konteks internal PARNA maupun jika ditanya lebih lanjut oleh pihak eksternal, masing-masing pengguna masih menggunakan identitas berdasarkan marga aslinya agar terdapat kejelasan identitas dalam struktur geneogram PARNA. Salah satu contohnya, jika kita bertemu dengan seseorang yang menggunakan marga saragi/saragih, bila ditanya lebih lanjut yang bersangkutan tentu akan memberikan identitas marga aslinya dibelakang identitas kolektif tersebut (saragi/saragih). Jadi sangat aneh bukan jika dikalangan marga kita ada yang mengira dapat menggunakan identitas kolektif (saragi/saragih) sebagai identitas pribadi pada saat bersosialisasi dikalangan internal PARNA. Hal ini mudah-mudahan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi saudara-saudara kita yang terkait.

Jadi dalam menyikapi fenomena tersebut, tentu saja kita tidak dapat melarang saudara-saudara kita menggunakan identitas Saragi/h oleh sebab hal tersebut merupakan kebebasan mereka sebagai manusia, namun tidak ada salahnya kita menyarankan kepada mereka agar yang terbaik adalah menggunakan marga asli dengan landasan persuasif berdasarkan wacana diatas. Termasuk kecintaan akan bona pasogit(pencarian silsilah asli di samosir) dan pemendaran jati diri yang sebenarnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bertemu Dua Pustakawan Berprestasi Terbaik …

Gapey Sandy | | 30 October 2014 | 17:18

Asiknya Berbagi Cerita Wisata di Kompasiana …

Agoeng Widodo | | 30 October 2014 | 15:40

[YOGYAKARTA] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:06

Paling Tidak Inilah Kenapa Orangutan …

Petrus Kanisius | | 30 October 2014 | 14:40

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Menjadi Satu-satunya Anggota …

Sang Pujangga | 5 jam lalu

Mba, Pengungsi Sinabung Tak Butuh …

Rizal Amri | 8 jam lalu

Muhammad Arsyad Tukang Sate Luar Biasa, Maka …

Opa Jappy | 11 jam lalu

DPR Memalukan dan Menjijikan Kabinet Kerja …

Sang Pujangga | 11 jam lalu

Pemerintahan Para Saudagar …

Isk_harun | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Jangan Biarkan Anak Mengerjakan PR Sendiri …

Guntur Cahyono | 8 jam lalu

Review “Mobius” Thiller atau Drama …

Irvan Sjafari | 8 jam lalu

Hujan dan Rinduku …

Redha Wahyu Pradana | 8 jam lalu

Pemuda Dambaan Umat …

Neti Nurhayati | 9 jam lalu

Peneliti Ternak Temukan Pakan Unggas …

Patar Uddin | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: