Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Mirdayanti Amir

Seorang ibu, istri, guru dan kutu buku

Apa panggilan untuk kakak-kakak Anda ?

OPINI | 16 September 2011 | 16:16 Dibaca: 2535   Komentar: 6   0

Di Indonesia, dari etnis manapun, biasanya kita punya panggilan tertentu untuk orang yang lebih tua dari kita. Untuk orang tua yang sebaya dengan orang tua kita, dalam bahasa Indonesia sebutannya adalah paman dan bibi. Dalam keseharian kita punya banyak panggilan untuk paman dan bibi tergantung etnis dan latar belakang keluarga tersebut. Ada om dan tante, bude, bulik, mamang, encang, encing, etek, mamak, mak tuo,pak tuo. Hal yang sama berlaku juga untuk saudara kandung ataupun saudara sepupu.

Untuk kakak perempuan secara umum adalah kakak, dan kakak laki-laki adalah abang. Walaupun ada juga kakak laki-laki dipanggil abang. Tetapi untuk sehari-hari rasanya tidak ada orang Sumatera yang memanggil saudara lelakinya dengan kakak. Khusus untuk panggilan mbak, pengertian itu telah meluas sebagai panggilan kesayangan atau hormat, tanpa perlu orang itu lebih tua dari pemanggil, karena panggilan mbak di gunakan untuk baby sitter, SPG, penyiar radio, dll.

Saya adalah anak tertua dari empat bersaudara, jadi saya memiliki tiga orang adik. Semua adik memanggil saya uni, tanpa embel-embel nama. Uni saja. Saya baru dipanggil uni Yanti oleh orang lain, tetangga atau adik kelas. Adik pertama saya juga perempuan, punya panggilan lain, dia dipanggil unang oleh dua adik di bawahnya. Adik kedua saya laki-laki,si bungsu memanggilnya uda. Jadi ada uni, unang dan uda. Orang tua saya membedakan panggilan uni dan unang agar tidak ada kekeliruan. Karena sepertinya memanggil nama walaupun ada embel-embel uni dirasa juga masih kurang sopan.

Suami saya tujuh bersaudara. Tiga anak pertama adalah laki-laki,suami saya adalah anak ke dua. Tiga anak berikutnya perempuan, dan si bungsu juga laki-laki. Di keluarga suami saya semua kakak laki-laki di panggil uda, dengan tambahan nama. Tetapi kakak perempuan dipanggil dengan panggilan kehormatan yang berbeda, Teti, Teta dan Ayang. Saya juga tidak tahu apa ada keluarga lain yang memanggil seperti itu.

Tentu tidak semua keluarga punya kebiasan demikian, bagi keluarga yang bersikap egaliter, semua kakak dipanggil nama saja, juga bukan sesuatu yang keliru bukan ? Tapi saya pribadi, sampai setua ini, masih risih memanggil nama saja pada orang yang lebih tua. Di lingkungan kantor mungkin lebih mudah, kita bisa panggil bapak atau ibu saja. Tetapi tidak menutup kemungkinan memanggil uni. Saya sendiri juga dipangil uni Yanti oleh sebagian rekan kantor.

Yang menarik, seorang teman saya menikah dengan warga Prancis dan menetap belasan tahun di Paris. Dia memiliki tiga anak, dua perempuan dan yang terkecil adalah laki-laki. Anak yang lebih muda tetap memanggil mbak dengan tambahan nama pada kakak-kakaknya. Jadi, walaupun anak-anak itu cas cis cus bahasa Prancis, tapi giliran memanggil kakaknya tetap tidak lupa dengan embel-embel: mbak..

Nah, Anda sendiri memanggil apa pada kakak-kakak Anda ?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Susahnya Mencari Sehat …

M.dahlan Abubakar | | 30 August 2014 | 16:43

Penghematan Subsidi dengan Penyesuaian …

Eldo M. | | 30 August 2014 | 18:30

Negatif-Positif Perekrutan CPNS Satu Pintu …

Cucum Suminar | | 30 August 2014 | 17:13

Rakyat Bayar Pemerintah untuk Sejahterakan …

Ashwin Pulungan | | 30 August 2014 | 15:24

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22



Subscribe and Follow Kompasiana: