Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Abdi Husairi Nasution

Lebih suka menjadi diri sendiri. Anakku memanggilku 'Yanda'. Sisiku yang lain bisa diobok-obok di www.yandakasyfi.blogspot.com selengkapnya

Simbol Kerbau Tak (Selalu) Melecehkan

OPINI | 11 September 2011 | 12:26 Dibaca: 1493   Komentar: 4   2

131574761067604664

Kerbau bukanlah hewan tak berguna. Di sawah, kerbau digunakan para petani untuk membantu menggarap dan membajak sawah. Selain itu, kerbau juga digunakan sebagai alat transportasi bagi rakyat, khususnya di pedesaan. Lain lagi dengan masyarakat Toraja. Bagi masyarakat Toraja, kerbau merupakan simbol status sosial. Sebagai simbol status sosial, kerbau pun dihargai dengan sangat mahal, terutama kerbau belang atau Bonga yang warnanya setengah albino. Kerbau jenis ini harganya bisa mencapai 100 juta rupiah per ekor. Simbol status ini akan makin terlihat dalam upacara kematian “Rambu Solo” di masyarakat Toraja tersebut.

Dalam upacara “Rambu Solo”, anggota masyarakat yang dapat mempersembahkan banyak kerbau, nama keluarganya akan terangkat tinggi sekali, sangat dihargai, dan disegani. Bagi orang yang berduit, mereka bisa membeli lebih dari seratus ekor kerbau. Kalau harga kerbau sekitar 20 juta rupiah maka duit yang harus mereka keluarkan bisa mencapai 2 milyar rupiah. Betapa kayanya orang tersebut.

Makna kerbau dalam relief Candi Borobudur dan Candi Sojiwan lebih mulia lagi. Pada masa lalu itu, kerbau disimbolkan sebagai tokoh pengajaran moral dan budi pekerti dalam masyarakat Jawa. Dalam cerita rakyat pun, kerbau selalu diceritakan sebagai hewan yang setia dengan petani, rajin, suka bekerja keras, santun, tidak suka marah, dan selalu hormat terhadap hewan lainnya.

Bahkan Raffles dalam bukunya “The History of Java” menyebutkan bahwa para pangeran dan bangsawan di tanah Sunda mendapat gelar yang mengacu pada sebutan “Maesa lalean” dan “Mundingsari”. “Maesa” atau kebo merupakan sebutan orang Jawa untuk menyebut kerbau, sedang “munding” adalah sebutan kerbau bagi orang Sunda. Munding merupakan sebutan penghormatan bagi jasa seorang pangeran yang telah memperkenalkan cara bertani pada masyarakatnya.

Begitu pula dalam upacara perayaan “Malam Satu Suro” di Kraton Surakarta Hadiningrat, kerbau mendapat tempat atau posisi yang istimewa. Dalam perayaan tersebut, kirab Malam Satu Suro dipimpin oleh Kebo Bule Kyai Slamet sebagai Cucuking Lampah. Kebo Bule atau kerbau albino itu merupakan hewan kesayangan Susuhunan yang dianggap keramat. Barisan berikutnya dalam kirab tersebut, di belakang Kebo Bule adalah para putra Sentana Dalem atau kerabat keraton yang membawa pusaka. Kemudian diikuti oleh masyarakat Solo dan sekitarnya seperti Karanganyar, Boyolali, Sragen, dan Wonogiri. Secara turun-temurun kerbau bule tersebut terus bertindak sebagai penjaga pusaka Kyai Slamet hingga akhirnya masyarakat luas menyebut kerbau itu sebagai “Kerbau Kyai Slamet”. Namun nama kerbau tersebut bukan Kyai Slamet. Kerbau Kyai Slamet mengandung arti sebagai kerbau yang menjaga Kyai Slamet. Kyai Slamet itu sendiri adalah sebuah pusaka yang tak kasat mata, hanya Sang Raja yang tahu.

Pada masyarakat Batak, kerbau juga dijadikan sebagai simbol yang bersifat sakral dan profan. Dalam upacara kematian seperti upacara “Saur Matua” dan “Mangokal Holi” (menggali tulang – memindahkan tulang dari kubur primer ke kubur sekunder) misalnya, kerbau dijadikan sebagai salah satu bagian penting dari rangkaian upacara. Demikian pula dalam upacara perkawinan, “Horja Bius” (acara penghormatan terhadap leluhur), dan pendirian rumah adat, kerbau dijadikan sebagai pelengkap upacara, pelengkap adat, dan hewan korban. Dalam ornamen rumah adat Batak pun, tanduk kerbau mendapat perlakuan khusus. Tanduk kerbau yang disematkan pada rumah adat Batak tersebut melambangkan tingginya kedudukan sosial (prestise) dan kekuasaan/kepemimpinan pemiliknya.

Dalam tafsir mimpi, seperti yang saya kutip dari tafsirmimpi.com, seseorang yang bermimpi naik atau menunggang kerbau maka dia akan mendapat kemuliaan atau kekayaan.

Jadi, sungguh keliru kalau kerbau disimbolkan sebagai sosok yang lamban, gemuk, dan bodoh. Kalau kerbau disimbolkan sebagai sosok yang negatif tersebut, saya pikir itu hanya pemaknaan yang bersifat keliru dan politis saja. So, jangan negative thinking dulu ya kalau ada yang ingin menghadiahi Anda kerbau, khususnya di hari ulang tahun Anda, apalagi sampai sembilan kerbau. Justru pemberian kerbau itu sebagai pertanda kehormatan bagi Anda, bukan penghinaan atau pelecehan. Kalau saya yang diberi, pasti saya tak bakal menolaknya.

Sumber info: solopos.com, History of Java, jurnalfilsafat.com, jurnal.dikti.go.id, dan blog.ugm.ac.id.
Sumber gambar: http://www.mediaindonesia.com

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Lebaran di Jerman dengan Salad …

Gitanyali Ratitia | | 29 July 2014 | 16:53

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Memilih Tempat yang Patut di Kunjungi, Serta …

Tjiptadinata Effend... | | 29 July 2014 | 19:46


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: