Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Kuswanda

Rekan, pada SVE Consulting, CSR Implementing Partner bidang pendidikan

Mereformasi Naskah Khutbah Jumat

OPINI | 22 August 2011 | 02:31 Dibaca: 352   Komentar: 0   0

Jumat yang lalu saya berkesempatan sholat jumatan di sebuah masjid kampung pinggiran Garut. Saat khotib naik mimbar saya melihat sang khotib mengambil tulisan yang dilaminating dan digantung di samping mimbar. Ternyata, tulisan laminating itu yang dibacanya saat berkhutbah.

Selesai sholat saya tidak langsung pergi, mengejar pahala puasa yang lain yaitu tiduran (he…he..he). Jelas itu bukan perilaku yang suka dikerjakan jamaah masjid tersebut. Rata-rata jamaah disana langsung melakukan aktifitas seperti biasa di kebun atau sawah setelah jumatan. Melihat ada jamaah ‘asing’ di masjid seorang bapak menghampiri. Berbasa-basi menanyakan asal darimana, ada keperluan apa, dan sebagainya. Bukan sebuah interogasi, tapi hanya sedikit bincang-bincang ringan. Suatu hal yang lumrah terjadi di kampung saat ada orang asing.

Setelah sedikit lebih akrab, saya memberanikan diri bertanya tentang kertas yang dilaminating dan dibaca khotib.

“Ya begitulah, Cep! Setiap khotib pasti baca naskah khutbah yang dilaminating itu. Ada sich, Ajengan Apip yang gak pernah baca naskah kalau khutbah. Tapi beliau kan sibuk di kota, PNS di Depag” begitulah kata bapak tua tadi saat saya tanya.

“Banyak pa, naskah khutbah yang dilaminatingnya”

“Paling juga ada lima atau enam”

“Jadi selama ini, setiap jumat materi khutbahnya itu-itu saja”

“Iya..makanya dilaminating juga kan biar awet ga mudah sobek. Sekali-sekali ajengan Apip suka bawa naskah yang baru, tapi itu juga mungkin kalau beliau lagi inget”

Obrolan tersebut mengingatkan saya dengan kondisi yang sama di kampung. Tapi itu dulu saat saya masih SD-SMP, sekitar tahun 80-an. Alhamdulillah sekarang sudah tidak seperti itu lagi, setelah saya dan teman-teman me-reformasinya.

Waktu itu, seingat saya khotib selalu menyampaikan materi khutbah yang sama selama bertahun-tahun. Kertas naskah khutbah sering sudah terlihat sobek-sobek. Kalau sudah begitu, biasanya pengurus Masjid meminta kami memfotocopy-nya di kota kabupaten. Kebetulan kami sekolah di sana.

Khutbah Jumat seyogyianya berisi nasihat-nasihat takwa, dan nasihat lain yang berkenaan dengan ajaran Islam. Tapi, bagaimana kalau nasihat yang disampaikannya itu-itu saja. Tentu akan membosankan jamaah.

Berangkat dari sana, kami kemudian sepakat mengganti naskah-naskah khutbah tersebut dengan naskah yang baru dan sesuai dengan perkembangan kekinian (pada masa itu). Namun, untuk menyampaikan usulan pada pengurus masjid kami belum punya keberanian. Akhirnya yang kami lakukan adalah, saat pengurus masjid meminta kami mem-fotocopy naskah lama kami ganti dengan naskah yang baru.

Naskah khutbah Jumat biasanya kami minta dari kantor Depag, atau kami fotocopy dari Mesjid Agung. Alhamdulillah, saat khutbah selanjutnya selalu dengan materi yang baru dan up to date. Bahkan dua tahun terakhir, saat mudik saya selalu menyaksikan khotib di sana menyampaikan khutbah tanpa teks dengan materi yang lebih menarik.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Naik Mule di Grand Canyon …

Bonekpalsu | | 26 July 2014 | 08:46

Mudik Menyenangkan bersama Keluarga …

Cahyadi Takariawan | | 26 July 2014 | 06:56

ISIS: Dipuja atau Dihindari? …

Baskoro Endrawan | | 26 July 2014 | 02:00

ASI sebagai Suplemen Tambahan Para Body …

Andi Firmansyah | | 26 July 2014 | 08:20

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

[Surat untuk Jokowi] Dukung Dr. Ing. Jonatan …

Pither Yurhans Laka... | 5 jam lalu

Gaya Menjual ala Jokowi …

Abeka | 9 jam lalu

Jenderal Politisi? …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Tuduhan Kecurangan Pilpres dan Konsekuensi …

Amirsyah | 9 jam lalu

Gugatan Prabowo-Hatta Tak Akan Jadi Apa-apa …

Badridduja Badriddu... | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: