Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Gavino Ken Joananda

berusaha selalu berpikir yang menghasilkan suatu manfaat.

Menjadi Pemimpin

REP | 19 August 2011 | 15:52 Dibaca: 104   Komentar: 6   1

Sudah selama hampir 4 tahun saya sudah tinggal di pondok dari kelas 1 MTs sampai kelas SMA, yang dulunya, yang pertamanya menjadi yang dipimpin, nah di kelas 1 SMA ini saatnya saya menjadi pemimpin bagi adik-adik kelas saya, mulai dari mempin di kamar, mempimpin organisasi, dan memimpin yang lainnya.

tetapi, setiap harinya saya mempimpin dari yang kecil dulu yang memimpin di kamar, yaitu menjadi pembimbing bagi adik-adik kelas saya, for example: bangunin tidur pagi, membrangkatkan sekolah, sholat; mengatur agar tidak bersikap jelek, bersih, tidak membuang sampah sembarangan, berangkat yang harus dipercepat, disiplin tentunya.

dan masih banyak lagi, menjadi pemimpin tidak patut untuk dihormati, atau apalah dengan cara apapun, tetapi bagaiamana caranya bisa memimpin dengan cara yang baik otomatis orang yang dipimpin merasa segan dan mempunyai rasa tersendiri dengan pemimpinya.

kemudian, kita semua tahu dan pernah merasakannya menjadi kelas 1 MTs/SMP yang baru lulus SD, yang baru jebol dari SD, dan yang paling penting suka caper, rewel, manja,dll, karena langsung ditinggal ortu dari lulus SD.

nah, menyikapi masalah begituan adalah mudah dan harus saya anggap mudah, begitu seterusnya(masalah mendidik anak akan saya ulas pada artikel saya selanjutnya).

Menjadi pemimpin mempunyai 2 tugas, yaitu tugas ringan dan berat, ringan pada saat kita memrintahkan adik kelas untuk begini, begini, dan begini agar betah di pondok, agar disiplin, dan tentunya mendiri.

Berat, pada saat yang diperintahkan(adik kelas) tersebut malah tidak dilaksanakan dan mempunyai banyak pelanggaran, itu pun menjadi beban kita, kerena kita hidup sebagai santri itu mempunyai amanah dari orangtua kita.

Jadi, apabila ada santri yang melanggar itu pun bisa dipikir santri tersebut melanggar amanah dari orangtuanya, karena prinsip kami kita membimbing itu ada hasilnya dan tidak ada yang mempunyai “penyakit”. Paham maksud saya?

Menjadi pemimpin jangan munafik, katakan saja munafik itu tidak terlalu digubris yaa..betul itupun kalau di luar komplek pondok, tetapi sangat beda sekali ketika anda masuk di lingkungan pondok.Anda tahu sendiri bagaimana rasanya.

intinya, mengatur hal-hal begituan sangatlah mudah kalu kita tahu ilmunya tentang mendidik anak, tidak perlu adanya kekrasan, atau apalah, yang penting bisa berjalan dengan lancar dan mudah.

SALAM POSITIF

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sultan Brunei Sambut Idul Fitri Adakan Open …

Tjiptadinata Effend... | | 30 July 2014 | 07:16

Simpang-Siur Makna “Politikus” …

Nararya | | 30 July 2014 | 00:56

Di Timor-NTT, Perlu Tiga Hingga Empat Malam …

Blasius Mengkaka | | 30 July 2014 | 07:18

Jalan-jalan di Belakangpadang …

Cucum Suminar | | 30 July 2014 | 12:46

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Materi Debat Prabowo yang Patut Diperhatikan …

Bonne Kaloban | 7 jam lalu

Cabut Kewarganegaraan Aktivis ISIS! …

Sutomo Paguci | 10 jam lalu

Presiden 007 Jokowi Bond dan Menlu Prabowo …

Mercy | 10 jam lalu

Dua Kelompok Besar Pendukung Walikota Risma! …

Jimmy Haryanto | 10 jam lalu

Pemerintahan Ancer-ancer Jokowi-JK Bikin …

Hamid H. Supratman | 11 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: