Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Jumari ꦏꦁꦙꦽꦃꦼꦄꦸꦼ

Damailah jiwa raga dalam pengetahuan.

Kikis Tunggarana _-Pulau Biak-_

OPINI | 10 August 2011 | 03:05 Dibaca: 174   Komentar: 3   1

1312956067704116856

Pantai Bosnik di Biak

Kikis Tunggarana adalah salah satu cerita (lakon) dalam pertunjukan wayang kulit purwa (karena wayang kulit tidak hanya purwa lho). Kikis Tunggarana ini merupakan tempat yang strategis bagi kalangan danawa (raksasa), karena merupakan jalur emas bagi perekonomian kaum denawa (raksasa). Kikis Tunggarana ini adalah negara merdeka, meskipun wilayahnya tidak cukup luas. Saat itu dipimpin oleh Prabu Kahana dan sementara waktu sedang melangsungkan hubungan kerjasama dengan Pringgandani. Jadi secara tidak langsung Kikis Tunggarana di bawah nangungan Pringgandani dalam kesemakmurannya. Sedangkan Pringgandani saat itu dipimpin oleh raja muda bernama Gathutkaca, salah satu ksatria Pandhawa yang terkenal dengan otot kawat balung wesinya. Perkawinan antara Bima dan Arimbi melahirkan bayi raksasa yang kemudian di godhog dalam kawah candradimuka, ditambah pula aneka senjata andalan para Dewa diikutkan dalam godhogan tersebut, maka bayi tadi berubah dewasa menjadi seorang ksatria yang sakti pilih tandhing. Terkenal dengan nama Gathutkaca (manusia ajaib atau manusia instan).

Trajutrisna dipimpin oleh Bomanarakasura, putra dari Prabu Kresna raja di Dwarawati. Mrucut ing kekudangan (lepas dari impian) Kresna, anaknya Bomanarakusara ini berwatak seperti Hitler, suka ngelar jajahan (meluaskan wilayah jajahan). Salah satu misi utamanya adalah menyatukan para raksasa dalam nanguangan kerajaan Trajutrisna yang dipimpinnya. Singkatnya Kikis Tunggarana mulai di jajah oleh Boma. Awalnya menawarkan kerjasama yang saling mensejahterakan (seperti jurusnya Jepang nih waktu menduduki Indonesia), tetapi Boma lama-lama mendudukkan militernya di daerah Kikis Tunggarana. Terang saja para raksasa di Kerajaan Kikis Tunggarana merasa terganggu kenyamanannya dan mulai curiga. Hal itu dilaporkan Prabu Kahana selaku presiden di Kikis Tunggarana kepada Gathutkaca. Laporan tersebut segera ditindak lanjuti, cek ricek ke lokasi untuk kebenaran berita. Akhirnya Pringgandani bersiap membantu sekuat tenaga demi Kikis Tunggarana.

Pertempuran tidak bisa di elakkan antara Trajutrisna dan Pringgandani. Di pihak Trajutrisna ada Setyaki, Kresna, Samba. Sedangkan pihak Pringgandani ada Gathutkaca, Antareja dan Antasena, serta dibantu oleh Pandhawa. Kali pertama Kresna bertemu di medan pertempuran dengan Bima ksatria Pandhawa. Tetapi sebagai orang tua mereka hanya beradu argumen, Kresna membela anaknya yang mengakui bahwa Kikis Tunggarana itu wilayah Trajutrisna, sedangkan Bima bersikukuh membela anaknya Gathutkaca yang ingin memerdekakan Kikis Tunggarana. Pertempuran dahsyat terjadi diantara kedua pimpinan, yaitu Gathutkaca dan Boma, mengadu kesaktian di langit. Boma dengan garuta Narakasura terbang menyerang Gathutkaca yang bisa terbang tanpa sayap atau pakai bantuan alat. Ilmu-ilmu sakti beradu, hingga salah satu kesempatan Gathutkaca mengeluarkan ajiannya yang hebat yaitu Brajamusti yang langsung menghantam Boma, sehingga sekuat tenaga, seperti lintang alihan (bintang pindah/komet) meluncur ke bumi. Boma mampus seketika.

Bergerak Kresna dengan Kembang Wijayandanu, niatan mau menghidupkan lagi anaknya. Tetapi betapa kagetnya karena Boma sudah mampu hidup kembali tanpa Wijayandanu, dan langsung menyerang Gathutkaca. Berkali-kali Boma kalah dan mati, tetapi mampu hidup lagi. Sadarlah Kresna bahwa Boma yang sekarang bukanlah Boma anaknya, tetapi Boma yang kerasukan suksma raksasa yang sakti. Segera mungkin Kresna melerai yang sedang bertengkar. Ntah sudah berapa lama mereka berdua duel diangkasa. Hingga detik itu Kresna melerainya. Persidangan Meja Bundarpun dilakukan untuk mencari jalan damai. Akhirnya disepakati bahwa Kikis Tunggarana memang harus dimerdekakan dari kekuasaan Trajutrisna. Merdeka sendiri menentukan sikapnya dan dipimpin lagi oleh Prabu Kahana. Sementara itu Pringgandani dan Trajutrisna tidak boleh melakukan serangan senjata kepada kerajaan Kikis Tunggarana.

Bagaimanapun sebuah negara merdeka tidak boleh diganggu oleh negara lainnya. Biarkan negara ini menentukan sikapnya sendiri. Seperti Cech lepas dari Slovakia atau negara-negara belahan eropa lainnya yang ingin merdeka. Sikap Gathutkaca yang suka memberikan bantuan ini sangat patut diteladani, apalagi bagi bangsa ini. Hubungannya dengan salah satu pulau di Nusantara, tepatnya adalah Biak di Papua ini akan disewakan oleh pemerintah kepada negara lain. Biak ini sangat strategis untuk menyusun kekuatan, disamping SDAnya yang bagus. Kabarnya sudah dua negara tetangga yang akan menyewa tempat tersebut, yaitu Amerika dan Rusia. Amerika akan menggunakan tempat tersebut sebagai pangkalan militer, sedangkan Rusia akan menggunakan tempat tersebut sebagai area space port (lokasi peluncuran roket). Kenapa disewakan? Alasannya untuk bayar utang. Di antara 2 pilihan yang repot. Silahkan saja kalau diteruskan. Tetapi kalau sebagai ajang atau pangkalan militer, ini sangat berbahaya. Karena letak Papua ini jauh dari negara manapun, bisa juga Amerika beraksi seperti Trajutrisna kepada Kikis Tunggarana. Mau dijadikan space port juga sangat berbahaya, polusinya yang jelas dan pasti merusak banyak sumber daya lainnya.

Kalau saya sih mendhing jadi Gathutkaca, ga usah dikasih ke siapapun. Soal hutang itu masih banyak cara lainnya. Tetapi kalau memang berburu korupsi pasti ga ada cara lagi kecuali menawarkan, dipelalangan akan terjadi penawaran harga tertinggi. Yakinkah Amerika? atau Rusia? yang jelas keduanya sangat membutuhkan Biak. Berita selengkapnya baca di sini.

Pulau Biak, dari kata biak, jika diaktifkan menjadi berkembangbiak. bisa jadi dari hal kecil menjadi besar, dari tempat latihan, menjadi ajang dan markas militer AS. Dari space port menjadi tanah gersang dan lain sebagainya. Berkembang itu membutuhkan waktu juga. Ibarat nyala lilin atau lampu, tanpa percikan api ataupun stopcontact pasti ga akan menyala. Bagaimana kalau dinyalakan? Terjadilah sebuah cahaya, tetapi cahaya ini belum tentu aman dan bermanfaat. Bisa juga cahaya atau api tadi menjalar dan akhirnya meringkus bangsa ini dari dalam negeri sendiri. Selamatkan Biak dari kerakusan para elite politik, atau mengundang bencana.

Artikel ini juga saya postkan di BLOG SAYA.

Foto-foto saya ambil dari DISINI dan silahkan lihat foto tentang keelokan pulau ini disitu juga.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Satpol PP DKI Menggusur Lapak PKL Saat …

Maria Margaretha | | 31 July 2014 | 17:04

Menghakimi Media …

Fandi Sido | | 31 July 2014 | 11:41

Ke Candi; Ngapain Aja? …

Ikrom Zain | | 31 July 2014 | 16:00

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Teman Saya Pernah Dideportasi di Bandara …

Enny Soepardjono | | 31 July 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 9 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 13 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 14 jam lalu

Revolusi Mental Pegawai Sipil Pemerintah …

Herry B Sancoko | 17 jam lalu

Misteri Matinya Ketua DPRD Karawang …

Heddy Yusuf | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: