Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Thomas Kedang

Anda Melihat Sesuatu dan anda percaya, saya Memimpikan sesuatu yang tak pernah ada dan mengatakan selengkapnya

Perkawinan

OPINI | 07 August 2011 | 17:16 Dibaca: 369   Komentar: 1   0

EKSISTENSI GADING GAJAH SEBAGAI MAS KAWIN

DALAM SISTEM PERKAWINAN

MASYARAKAT LARANTUKA FLORES TIMUR

PENGANTAR

Studi etnografi menunjukkan perkembangan yang menggairahkan. Pendekatan etnografis dalam melihat fakta-fakta sosial budaya ataupun keagamaan suatu masyarakat yang beragam serta yang masing-masing memperlihatkan orisinalitasnya yang khas, jelas menginspirasikan suatu gejala baru, yakni bangkitnya “suara yang diam” ke permukaan, setelah sekian lama mengalami marjinalisasi, keterkungkungan, tuduhan sebagai yang “tidak beradab”, primitive dan setumpuk tudingan lain yang mendiskreditkan. Budaya, tradisi dan kepercayaan lokal sering dipandang sebagai entitas sosial budaya yang tidak rasional, kumuh, terbelakang dan cermin kebodohan yang tidak memiliki visi kemajuan.

Persepsi demikian lahir karena bias dari modernisasi. Peradaban modern yang mengklaim diri sebagai yang ilmiah dan universal, sebenarnya memiliki watak penetrative dalam dirinya. Universalisme adalah kebenaran yang dinilai paling rasional sehingga perlu melakukan penyelamatan terhadap manusia dari “peradaban lumpur” itu. Akibatnya, banyak hal dilakukan atas nama kemajuan dan modernitas justru membenamkan manusia ke dalam kondisi ketimpangan, pengingkaran hak asasi dan alienasi.

Sementara itu, ketika pariwisata dianggap mampu menjawabi devisa Negara terbesar di luar sector non-migas, berbagai elemen lantas mengemas sesuatu yang asli –dalam wujud tradisi, budaya, keperayaan asli maupun pelbagai entitas yang dipandang antik lainnya- untuk dikonsumsi wisatawan. Hal ini menunjukkan bahwa ketika modernitas memperlihatkan gemanya, yang asli dan luhur di atas dipandang sebagai penghalang gerak maju. Tetapi ketika pariwisata mampu memperlihatkan perannya, yang asli itu lantas menjadi komoditi yang layak untuk dijual.

Perhatian tulisan ini adalah pada masalah tradisi local masyarakat Lewotoby, sebuah dusun di kecamatan Lewotoby kabupaten Flores Timur provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia, berkenaan dengan mahar ( belis ). Pada satu pihak, mahar dipandang mampu menjaga tata krama pergaulan dan menjamin adanya rasa saling menghormati antara masyarakat, namun seiring waktu yang berubah, mas kawin itu dianggap perlu untuk untuk diadakan perubahan, khususnya terhadap materi mas kawin itu sendiri. Tentu saja hal ini bukan merupakan suatu persoalan selama tidak merusak tatanan yang telah dibangun bersama.

Mas kawin yang diberikan dalam lingkungan masyarakat Flores Timur adalah Gading Gajah, suatu hal yang amat fenomenal, karena jika kita menoleh kebelakang maka realita akan berbicara bahwa Flores bukan merupakan habitat spesies gajah. Lantas akan muncul pertanyaan darimana munculnya gading tersebut? Mengapa harus Gading gajah yang digunakan sebagai Mas Kawin? Atau, siapa yang mula-mula memulainya sebagai mas kawin? Apa kedudukannya dalam sistem perkawinan? Dengan melihat kenyataan bahwa Flores bukan merupakan tempat tinggal gajah, tentu akan berakibat pada semakin punah atau menghilangnya gading tersebut. Jikalau demikian, apakah proses perkawinan masih terjadi kalau tidak ada lagi gading tersebut?

Thomas Kedang

Jogjakarta, January 2003

berlanjut…

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Kaum Dhuafa Berebut Zakat, Negara Gagal …

Nasakti On | | 28 July 2014 | 23:33

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 20 jam lalu

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 21 jam lalu

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 23 jam lalu

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: