Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Anugrah Roby Syahputra

Staf Ditjen Bea & Cukai, Kemenkeu. Bergiat di Forum Lingkar Pena. Menulis lepas di media selengkapnya

Apakah Anda Meminta Maaf Sebelum Ramadhan?

OPINI | 01 August 2011 | 15:52 Dibaca: 710   Komentar: 1   0

Apakah hari-hari ini, di inbox email anda, SMS yang anda terima, atau panggilan telepon langsung, juga secara face to face, anda menerima permohonan maaf dari kolega, saudara anda kaum muslimin?

Jika iya, cobalah anda tanyakan kepada mereka, apakah latar belakang mereka meminta maaf kepada anda?

Kebanyakannya, barangkali berucap: “Supaya, pas kita masuk ke bulan Ramadhan, nggak ada tanggungan lagi (dosa) kepada manusia, biar urusan Ramadhan, hanya tertuju kepada Allah semata…”

Kurang lebih begitu. Jadi, niatnya adalah supaya lebih afdhol ketika berpuasa.

Bahkan, barangkali juga, sebagiannya membawakan ‘dalil’ hadits yang dari tahun ke tahun, cukup banyak dikutip sebagai ‘pembenaran’ acara meminta maaf ini

Bunyinya begini: Bahkan, barangkali juga, sebagiannya membawakan ‘dalil’ hadits yang dari tahun ke tahun, cukup banyak dikutip sebagai ‘pembenaran’ acara meminta maaf ini. Kurang lebih begitu. Jadi, niatnya adalah supaya lebih afdhol ketika berpuasa. “ Supaya, pas kita masuk ke bulan Ramadhan, nggak ada tanggungan lagi (dosa) kepada manusia, biar urusan Ramadhan, hanya tertuju kepada Allah semata… Kebanyakannya, barangkali berucap: ” Jika iya, cobalah anda tanyakan kepada mereka, apakah latar belakang mereka meminta maaf kepada anda? Apakah hari-hari ini, di inbox email anda, SMS yang anda terima, atau panggilan telepon langsung, juga secara face to face, anda menerima permohonan maaf dari kolega, saudara anda kaum muslimin? Catatan tentang Meminta Maaf Sebelum Masuk Ramadhan.

Ketika Rasullullah sedang berkhutbah pada Shalat Jum’at (dalam bulan Sya’ban), beliau mengatakan Amin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Amin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Amin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Amin sampai tiga kali. Ketika selesai shalat Jum’at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: “ketika aku sedang berkhutbah, datanglah Malaikat Jibril dan berbisik, hai Rasullullah Amin-kan do’a ku ini,” jawab Rasullullah.

1) Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.

2) Tidak bermaafan terlebih dahulu antara suami istri;

3) Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada);

“Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: Hadits yang sah itu, berbunyi demikian: Mengapa ditanya demikian? ya, karena ada hadits yang sepertinya serupa (yakni, diaminkan 3 kali oleh Nabi), namun isinya JAUH dari ‘hadits’ dengan redaksi pertama. Sekarang, tanyakanlah kepada mereka yang membawakan dalil ini, diriwayatkan oleh siapa dan bagaimana derajat hadistnya, lemah, shahih, atau bagaimana?

“Dari Abu Hurairah: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam naik mimbar lalu bersabda: ‘Amin, Amin, Amin’. Para sahabat bertanya : “Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?” Kemudian beliau bersabda, “Baru saja Jibril berkata kepadaku: ‘Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan’, maka kukatakan, ‘Amin’, kemudian Jibril berkata lagi, ‘Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun tidak membuatnya masuk Jannah (karena tidak berbakti kepada mereka berdua)’, maka aku berkata: ‘Amin’. Kemudian Jibril berkata lagi. ‘Allah melaknat seorang hambar yang tidak bershalawat ketika disebut namamu’, maka kukatakan, ‘Amin”.” Al A’zhami berkata: “Sanad hadits ini jayyid”.

Bagaimana, kalau kalimat permohonan maaf itu berbunyi seperti kalimat-kalimat ini: Rasa-rasanya, kita akan dengan mudah, memberikan maaf kepada kalimat permohonan maaf seperti ini. Padahal, dalam tuntunan, kita disyariatkan untuk memohon maaf secara spesifik atas kesalahan yang kita perbuat. Biasanya, kalimat permohonan maaf yang disampaikan, dalam bentuk yang mujmal/umum. Misalnya saja: “Mohon maaf lahir dan batin, apabila saya mempunyai salah kepada anda…” Aljawab, betul, lantas mengapa baru sekarang meminta maaf, khan dari bulan kemarin-kemarin, kita sudah bertemu??? Mungkin, kemudian teman anda itu berkilah: ”Lho, minta maaf itu khan tidak ada salahnya?”  Nampaklah kaitan yang erat, bahwa nawaitu/niat dari sebagian dari kaum muslimin yang ‘gemar’ meminta maaf itu, berkaitan dengan keafdholan/keutamaan yang ingin mereka dapatkan. Yakni, masuk dalam bulan Ramadhan, dalam kondisi ’suci’ dari dosa ke sesamanya. JAUH berbeda bukan???

- Maafkan saya ya, bulan lalu, saya mengambil uang yang ada di lacimu, nggak banyak kok, seratus ribu aja…!

- Maaf ya, pekan lalu, saya sengaja menggoda istrimu…

- dan seterusnya.

Apakah anda akan dengan mudah menerima permohonan maaf untuk kasus-kasus seperti diatas? Mudah-mudahan iya. Namun, sepertinya tidak akan semudah, seperti ketika kita menerima permohonan maaf dalam bentuk umum!

Kalau kemudian, ada teman anda yang berkata: “Bukankah ini, sudah menjadi adat istiadat kita?” Maksudnya, tentu saja, jika adat istiadat/urf, maka selama syariat tidak melarang, urf itu bisa diterima.

Aljawab, sepanjang yang saya ketahui, bertahun-tahun berpuasa di tanah kelahiran saya (Surabaya), tidak pernah saya menerima kalimat permohonan maaf, ketika akan masuk ke dalam lebaran. Yang ada, justru  adat nyekar makam (ziarah kubur) kepada orang tua. Sedangkan untuk yang masih hidup, tidak pernah saya menerima permohonan maaf dari teman-teman, seperti yang saya jumpai di Jakarta ini.

Artinya apa? berarti ‘adat’ permohonan maaf ini, tidak berlaku untuk semua. Ini, kalau tetap dipaksakan masuk sebagai adat.

Namun -seperti yang sudah disinggung diatas- bahwa kebanyakannya, memohon maaf itu dalam rangka bertujuan untuk ‘membersihkan kesalahan diri’ kepada sesama manusia, sehingga ketika menjalankan puasa, tidak ada ‘tanggungan’ dosa lagi kepada sesamanya.

Nah, perkara afdholiyah/keutamaan memohon maaf saat menjelang Ramadhan, sudah masuk kepada perkara ibadah! Kalau sudah bicara masalah ibadah, maka ini sudah lain hukumnya.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, bahwa hukum asal ibadah itu adalah haram. Dilaksanakan jika ada amr/perintahnya. Jika tidak, maka kita dilarang melakukannya.

Akan halnya, bermaafan (yang secara umum, diperintahkan oleh agama kita) ketika dikaitkan dengan Ramadhan, jika saja, ini ada keutamaannya, maka ini tentu sudah dikerjakan oleh Nabi dan para Shahabatnya. Lau kana khairan, lasabaquna ilaihi. Sekiranya itu baik/utama, tentu para Shahabat, akan mendahului kita (dalam mengerjakannya).

Kalau masih ‘ngeyel’ juga dikatakan sebagai adat istiadat, maka apapun itu, setiap acara,upacara dan adat istiadat yang bertentangan dengan Islam, maka wajib untuk dihilangkan!

Jadi, kita tak perlu meminta maaf, ketika kita akan masuk ke dalam bulan suci Ramadhan. Hanya saja, ketika kita memang mempunyai kesalahan -pada hari-hari ini- maka tidak masalah kita meminta maaf untuk kesalahan yang kita kerjakan itu.

Mudah-mudahan berguna. Wallahu a’lam.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Laporan dari Kupang, Sambutan Sederhana …

Opa Jappy | | 20 December 2014 | 16:29

Pendekar Tongkat Emas, Karya Anak Bangsa …

Murda Sulistya | | 20 December 2014 | 15:53

5 Alasan Berhenti Menggunakan Styrofoam, …

Gede Surya Marteda | | 20 December 2014 | 12:17

Be a Role Model : Do it Now and Start From …

Fifin Nurdiyana | | 20 December 2014 | 14:14

Blog Competition Coca-Cola Sampai Akhir …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Konyol, @estiningsihdwi Bantah Sanggahannya …

Gatot Swandito | 9 jam lalu

Jangan Nodai Sukacita Natal Kami dengan …

Sahroha Lumbanraja | 11 jam lalu

Presiden Jokowi-Wapres JK Atasi Korban …

Musni Umar | 11 jam lalu

Dihina “Kampret”, Pilot Garuda …

Felix | 12 jam lalu

Salahkah Menteri Rini Menjual Gedung BUMN? …

Daniel Setiawan | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: