
If you want to speak, make sure what you speak is better than silence. Follow my twitter @budiman_hakim
Dibaca: 590
Komentar: 7
1 dari 1 Kompasianer menilai menarik
Alex DJ dari Amsterdam
Reyno adalah kakak ipar saya. Udah lebih dari 10 tahun dia tinggal di Amsterdam Belanda. Suatu hari dia dateng ke rumah bawa bini, anak dan temennya bule. Bule itu namanya Alex. Karena semuanya nginep di rumah, maka ramai dan hiruk pikuklah kediaman kami yang mungil itu.
Kegiatan yang kami lakukan ga banyak. Biasanya istri saya ngajak istri dan anaknya Reyno (namanya Ryan) jalan-jalan ke tempat hiburan atau belanja ke berbagai mall di Jakarta. Sedangkan saya, ngajak Reyno dan Alex ke tempat-tempat dugem.
Suatu hari Rabu, saya ajak Reyno dan Alex nongkrong di Team Box Cafe yang terletak di bilangan Kebayoran Baru. Kami bertiga ngebir sambil ngobrol ngalor ngidul tanpa mempedulikan Band yang sedang beraksi. Reyno dan Alex lumayan enjoy berada di tempat itu, sampe ga terasa tau-tau band berenti untuk istirahat.
Ketika band beristirahat, acara diisi dengan penampilan DJ perempuan. Ya biasalah, seperti DJ pada umumnya dia memutar lagu jedak-jeduk yang disukai para dugemer. Sayangnya penampilan DJ di Team Box kurang dapet sambutan hangat dari penonton. Entah karena tempat ini bukan club atau disko, mungkin juga karena pengunjungnya yang udah pada ketuaan hehehehe…
“Wow! There is a DJ here?” Alex keliatan surprise banget.
“Yes. They perform every nite. Why Alex?” tanya saya.
“I used o be a DJ in Amsterdam. But almost a year i never perform again,” sahut Alex lagi.
“Really? I thought you are a tour guide like Reyno?”
“True but i am a DJ as well.”
Pandangan Alex terus tertuju ke arah DJ. Kaki dan tangannya mulai bergerak ke sana kemari. Tangannya melakukan gerakan seperti gaya DJ sedang beraksi. Matanya bersinar penuh semangat memancarkan kerinduan pada dirinya sendiri untuk perform sebagai DJ.
Lama memperhatikan Alex, saya jadi ga tega juga. Saya panggil manager cafe itu yang namanya Ned dan terjadilah percakapan seperti ini.
“Ned, ini temen gue Alex, DJ kondang dari Amsterdam pengen main sebentar bole ga?” Saya langsung promosi gede-gedean. Tau dia DJ aja kagak eh main ngomong DJ kondang segala hehehehe…
“Wah, bukannya ga boleh tapi takutnya DJ yang lagi main tersinggung. Kan malam ini jatah dia,” sahut Ned.
“OK, gue ngomong langsung ke DJ-nya aja deh…” kata saya sambil nyamperin si DJ.
Dengan rayuan maut saya yang udah terkenal seantero jagat, akhirnya saya berhasil merayu DJ untuk main bareng sama Alex. Setelah dapet izin juga dari manager cafe, saya pun nyamperin alex.
“Lex, if you are really a DJ, prove it.” kata saya.
“How?” Alex kebingungan.
“Go to the stage and perform together with her. Her name is DJ Lee.”
“Are you sure? Wow I love to. Thanks Budi, you are so kind,” katanya lalu bergegas melangkah ke atas panggung.
Poster event bersama Alex
Mereka pun bermain bersama. Dan saya sungguh berterimakasih sama DJ perempuan itu karena tiba-tiba dia mempersilakan Alex bermain sendiri lalu meninggalkan panggung.
Mendapat kesempatan itu, Alex girang banget dan langsung beraksi memperlihatkan kebolehannya. Dengan lincah tangannya bekerja, bergerak ke ke tombol volume, menggesek piringan hitam sambil berganti-ganti mengombinasikan berbagai bunyi.
Luar biasa! Saya yang jarang banget terbangkitkan emosinya oleh musik jedak jeduk bisa sampe terpesona loh. Musik yang dimainkan Alex terasa banget enerjinya. Saya kagum bukan main bagaimana Alex memberi nyawa pada sebuah musik.
Surprise terus berlanjut. Ternyata bukan saya aja yang terpaku, sekonyong-konyong semua orang yang hadir; pengunjung, waiter, bartender sampe penjaga WC teralihkan perhatiannya ke Alex. Hebatnya Alex sama sekali ga menyadari apa yang terjadi. Dia sangat khusuk dengan mixer, Vinyl, turn table dan CD J-nya sehingga terlihat seluruh jiwa raganya berbaur dengan musik yang dia mainkan.
Tapi begitulah hidup. Sesuatu yang menyenangkan pasti selalu cepat berakhir. Band kembali mendapatkan gilirannya untuk tampil di sesi kedua dan Alex pun turun dari panggung menghampiri saya dan Reyno di bar.
Tiba-tiba Ned dan Dino (Salah seorang staffnya) menghampiri saya.
“Bud, gue boleh ngomong sama elo ga?” kata Dino.
“Boleh. Mau ngomong apa?” kata saya sambil ngisep rokok dalem-dalem.
“Yuk kita ngomong di lobby, biar lebih tenang,” kata Ned.
Lalu kami bertiga pun ngobrol di meja bundar yang ada di lobby. Alex dan Reyno tetep di bar.
“Gini Bud, kami tertarik banget sama permainan Alex. Boleh ga dia kita minta main di sini?” kata Dino.
“Boleh aja. Kapan maunya?” sahut saya songong, seakan-akan saya adalah manager resminya Alex.
“Jumat ini bisa?” kata Dino lagi.
“OK bisa,” sahut saya lagi.
“Lo jangan main bisa-bisa aja Bud, Alexnya aja belom lo tanya.”
“Tenang. Soal alex itu urusan gue,” jawab saya lagi.
“OK deh kalo begitu. Sekarang pertanyaan terakhir. Berapa gue harus bayar Alex untuk tampil di Team Box?”
“Gratis!” Saya menjawab tanpa berpikir.
“Gratis? Gila lo. Ga enak dong, masa gratis sih?”
“Ya gapapa kan? Dikasih gratis kok protes? Bukannya seneng.”
“Ya ga enaklah. Jangan gratis dong…”
“OK gini deh. Lo ga usah bayar Alex tapi pas hari Jumat itu, gue, Reyno sama Alex boleh minum sepuasnya tanpa bill. Gimana?”
Mereka langsung setuju loh. Kami pun bersalaman meresmikan kesepakatan. Balik ke bar, saya menceritakan hasil pembicaraan tadi ke Alex. Dan seperti yang saya duga Alex langsung setuju. Reyno ikut seneng karena jumat depan kita semua bisa minum gratis sampe celeng. Lumayan kan?
Malam itu juga Alex langsung difoto untuk segera dibuatkan posternya buat ditempel di dinding iklan yang terdapat di lobby. Semua dikerjakan serba ekspres.
Kamis besoknya Alex sibuk bukan main. Sekarang baru saya percaya dia DJ, karena dia membawa koleksi CD jedak jeduknya segala. Seharian itu dia ga beranjak dari rumah. seluruh waktunya diisi untuk memilih dan mencampur lagu. Begitu sibuknya sampe dia menolak makan siang hehehehe…
Bersama Sexy dancer, Alex di belakang.
Hari Jumat pun tiba. Jam 4 sore Alex dan Reyno pamit mau berangkat ke Team Box.
“Ngapain ke sana sore-sore?” tanya gue.
“Alex mau ngecek sound sekalian gladi bersih.”
“Oh ok deh. Good luck ya.”
Mereka berdua pergi naik taxi. Saya malamnya nyusul jadi pulangnya mereka bisa ikut bareng sama saya lagi.
Jam 10 malam, saya tiba di Team Box. Suasana lumayan rame. Dan ga seperti biasanya, ada meja counter ditaruh di samping pintu masuk. Beberapa cewe cantik tampak duduk di sana. Seperti malam-malam sebelomnya, saya pun melangkah masuk dengan gerakan yakin.
Tiba-tiba salah seorang perempuan mencegat saya. Dengan senyum sangat manis dia berkata dengan suara ramah, “Maaf Bapak. sebelom masuk harus bayar cover charge dulu.”
“Heh? Sejak kapan pake cover charge segala?’ tanya saya.
“Memang malam ini ga seperti Jumat lainnya Pak. Malam ini ada event khusus.”
“Oh ya? Event apa? Kok saya ga tau?” Saya keheranan.
“Memang agak mendadak Pak. Malam ini kita mendatangkan DJ terkenal dari Amsterdam…”
Saya langsung bengong…
“Barangkali Bapak mau liat posternya? Yuk saya antar?” Perempuan cantik itu menggamit lengan lalu menyeret saya ke arah dinding iklan. Dan tau ga? saya liat poster dengan foto Alex dan tulisan segede-gede bagong “Back to Holland. DJ Alexander”
Saya masih bengong bin speechless. Ga abis pikir kok saya disuruh bayar buat nonton Alex? Padahal Alexnya temen saya dan udah gue kasih gratis main di Team Box eh sekarang malah guenya harus bayar ke Team Box? Kampret! Saya udah kepikiran mau manggil Ned atau Dino mau protes tapi masalahnya saya ini orangnya gengsian. Saya paling pantang minta-minta supaya gratis.
“Silakan ini tiketnya Bapak. Cuma Rp 50 ribu kok?”
“Saya harus bayar Rp 50 ribu?”
“Loh bayangin, Bapak cuma keluar uang segitu tapi bisa liat penampilan DJ no. 1 dari Amsterdam.”
“Gini ya…Alex itu temen saya. Harusnya saya ga bayar.”
“Oh begitu. Mau saya panggil managernya supaya Bapak bisa masuk gratis?”
Waduh! Gengsian gue semakin membengkak. Masa sih saya minta dipanggilin manager buat keluar? Kan malu sama cewe cantik ini. Takutnya si cewe mikir gini, ‘ini si Bapak, cuma Rp 50 ribu doang masa sampe manggil manager segala supaya bisa masuk gratis. Pelit apa miskin sih?’
“Ga usah dipanggil, saya bayar aja.” kata saya takluk dan dikalahkan gengsi.
Sontoloyo! Dengan berat hati, saya bayar Rp 50 ribu lalu masuk ke dalem dengan muka asem. Sesampainya di sana, saya langsung bergabung dengan Reyno dan Alex di bar.
Alhamdulillah malam itu berjalan dengan lancar. Alex lumayan sukses dengan penampilannya walau sempet ada gangguan musik mati beberapa detik tapi secara keseluruhan sih dia bermain baik.
Saya dan Reyno minum banyak banget, maklum kan gratis jadi kita memanfaatkan aji mumpung. Begitu juga dengan Alex. Dia beberapa kali kesandung gara-gara jalannya oleng karena kebanyakan minum.
Malam merambat dengan cepat. Ga terasa jam udah hampir menunjukkan angka 2. Saya ajak Reyno dan Alex pulang. Sambil pelukan bertiga, kami berjalan ke luar dan bernyanyi bersama,
He is a jolly good fellow
He is a jolly good fellow
He is a jolly good fellow…
Nobody can deny….”
Tiap abis nyanyi kami bertiga saling TOSS satu sama lain sembari ngakak. Ga tau ngakaknya karena apa hehehehe…
Tiba-tiba bartender nyusul kami sambil berteriak, “Pak Budi…Pak Budi.”
Saya suruh Alex dan Rayno ke mobil duluan dan saya balik nyamperin Si Bartender, “Kenapa Jack?”
“Ini billnya belom dibayar,” katanya sembari ngasih lembaran bon.
“Loh? Kok gue bayar sih? Kan udah deal malam ini sama Ned kalo gue bertiga gratis.”
“Oh ya? Alexnya memang gratis. Tapi Bapak sama Pak Reyno kok Pak Ned ga bilang apa-apa.”
“Masa? Mana Nednya sekarang? Biar gue ngomong sama dia…”
“Pak Nednya udah pulang Pak.” jelas bartender lagi.
“Waduh! jadi gimana dong? Gue harus bayar nih?”
“Gini aja deh.” Si Bartender sok ngasih solusi, “Bapak ngutang aja dulu. Besok saya tanya Pak Ned, kalo bener seperti yang Bapak bilang, utangnya diputihkan. Kalo ga, ya Bapak bayar kalo ke sini lagi.”
Ngutang? Ini adalah satu hal yang pantang saya lakukan. Masa cuma minuman doang kok ngutang? Karena kesel dan gengsi, akhirnya saya bayar bill itu. Kampret!
Sesampainya di mobil saya langsung tancap gas buat pulang dengan tampang cemberut. Sementara dua temen saya yang lain masih meneruskan nyanyiannya, “He is a jolly good fellow….he is a jolly good fellow…”
Kampret!