Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ella Zulaeha

Owner www.bursatasbranded.com

Mari Belajar Menghargai Pasangan

OPINI | 27 July 2011 | 10:55 Dibaca: 1802   Komentar: 52   5

13117639631798818628

Ilustrasi: Google Image

Ada berita yang cukup menggelikan siang ini. Seorang rekan pria saya menuliskan sebuah status di Facebook nya. Ia menceritakan begitu bahagianya ketika bertemu dengan seorang klien wanita cantik dan smart plus rasa kekagumannya terhadap wanita itu. Tentu saja komentar dari teman-temannya langsung bermunculan. Ada yang mengatakan bahwa rekan saya itu kerjanya sambil ‘ngelaba’, ada yang bilang nyuri-nyuri kesempatan dalam kesempitan. Dan ternyata yang jauh lebih menghebohkannya lagi adalah saat isterinya membuat status juga di Facebook. Betapa ia kecewa terhadap suaminya itu. Ia menuliskan status :  “yang di luar masih aja jelalatan, capek deh, makan hati..!!”

Membaca 2 status Facebook sepasang suami isteri tersebut, saya tertawa geli sendiri. Ada-ada saja tingkah laku suami isteri jaman sekarang. Si suami yang terang-terangan menyukai wanita lain, kenapa juga musti ia tulis di Facebook. Apa dia tidak memikirkan atau menjaga perasaan pasangannya bila melihat statusnya itu. Terbayang bila saya yang menjadi isterinya, membaca status suami saya seperti itu rasanya sudah tak sabar lagi ingin ‘meledak’ sekuatnya.

Bisa kita bayangkan setelah kejadian ini nanti setibanya si suami di rumah. Ia akan langsung dihadapkan wajah jutek sang isteri. Namun hal itu bisa dimaklumi, isteri mana yang rela melihat suaminya ‘kecentilan’ di luar rumah, sedangkan si isteri sibuk mengurus anak-anaknya dan berkutat dengan pekerjaan rumah tangga sehari-hari. Bila suami menghargai isteri, seharusnya ia tidak berbuat demikian. Sungguh disayangkan bila hanya karena sebuah status di Facebook menyebabkan keduanya menjadi ‘perang dingin’.

Bagi pasangan yang telah menikah, bila tidak bijak menggunakan Facebook dapat menyebabkan keretakan dalam hubungan rumah tangga. Bila pasangan anda melihat kata-kata romantis yang dikirimkan oleh seorang lawan jenis yang ditujukan kepada anda, tentunya ia akan langsung menilainya bahwa ada apa-apa yang terjadi antara anda dengan teman anda itu. Bukan tidak mungkin komentar-komentar yang ditujukan kepada pemilik status dapat menyebabkan pertengkaran hebat.

Poin terpenting dari kisah di atas adalah, bagaimana kita belajar menghargai pasangan kita. Bagi pasangan suami isteri, anggaplah pasangan anda seperti diri anda sendiri, yang butuh dihargai, dihormati, disayangi dan dikasihi. Mengapa setelah menikah tidak sehangat sewaktu pertama kali mengenalnya. Inilah yang sering diabaikan oleh banyak pasangan. Pasangan anda adalah cerminan diri anda sendiri. Ia ibarat potret wajah yang harus anda bawa bersama kemanapun anda pergi. Ingatlah satu hal, Isteri anda bukanlah pembantu rumah tangga yang setiap harinya hanya mengurus anak-anak dan pekerjaan rumah tangga. Banyak suami menganggap bahwa pekerjaan rumah adalah tanggungjawab isteri seratus persen.

Hal terpenting yang harus diketahui dan dijalankan oleh sepasang suami istri demi terciptanya rumah tangga yang samara, diantaranya adalah rasa saling pengertian akan kelebihan dan kekurangan masing-masing pasangan. Kekurangan suami tertutupi oleh kelebihan sang istri, demikian pula sebaliknya. Jika pandangan seperti ini yang dikembangkan dalam hubungan suami-istri, maka akan timbul sikap saling menghargai, toleransi, dan saling menutupi kekurangan masing-masing.

Dalam suatu pernikahan yang sehat, pasangan harus saling percaya, saling mendukung, saling memperhatikan, saling menghargai, saling bergantung dan saling mengingatkan. Pertengkaran kecil dalam rumah tangga adalah hal yang wajar terjadi. Menyelesaikan pertengkaran salah satunya adalah dengan membangun komunikasi. Karena dengan berkomunikasi anda dapat mengungkapkan kesenangan dan kekesalan pada pasangan anda, demikian juga sebaliknya. Sehingga dengan komunikasi ini juga dapat menyelesaikan pertengkaran anda.

***********
“Istrimu adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian baginya”
(QS. Al-Baqarah: 187).

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lewis Hamilton Akhirnya Juara Dunia GP …

Hery | | 24 November 2014 | 21:17

Parade Foto Kompasianival Berbicara …

Pebriano Bagindo | | 24 November 2014 | 18:37

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11

Berbisnis Buku Digital: Keuntungan dan …

Suka Ngeblog | | 24 November 2014 | 18:21

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Lisa Rudiani, Cantik, Penipu dan Pencuri …

Djarwopapua | 6 jam lalu

Jokowi Menjawab Interpelasi DPR Lewat …

Sang Pujangga | 7 jam lalu

Tipe Kepemimpinan Jokowi-JK …

Gabriella Isabelle ... | 11 jam lalu

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 14 jam lalu

Butuh Rahma Azhari untuk Bekuk Filipina? …

Arief Firhanusa | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Insomnia di Usia Lanjut …

Dian Fakhrunnisak | 8 jam lalu

Terima Kasih Guru …

Anugerah Oetsman | 8 jam lalu

Tak Pandai Masak? Mungkin Ini Solusinya …

Siti Zaidah | 8 jam lalu

“Menanti Sinetron Kejar Tayang dari …

Kosmas Lawa Bagho | 8 jam lalu

Membangun Brand Image Melalui Service …

Ika Nesiha | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: