Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Muhammad Wislan Arif

Hobi membaca, menulis dan traveling. Membanggakan Sejarah Bangsa. Mengembangkan Kesadaran Nasional untuk Kejayaan Republik Indonesia, selengkapnya

Pengiring Dewi Rara Santang, Nyai Karang Bosi di Bukit Hambalang [Paranormal – 16]

OPINI | 19 July 2011 | 22:53 Dibaca: 1962   Komentar: 9   1

Syahdan dalam perjalanan Dewi Rara Santang dengan para pengiringnya, menuruni lembah dan ngarai.  Sampailah mreka di hulu Sungai Cikeas.  Mereka mengilir dengan seksama — karena Nyai Karang Bosi telah mengenal betul daerah Bogor purba itu.  Konon karena seringnya hujan di Gunung Salak, tak terkirakan bala bencana yang dialami orang yang mengikuti liuk dan jeram sungai Cikeas itu.

“Nyai berapa lama lagi kita berjalan menembus rimba dan sungai malang melintang, agar bisa sampai di Gunung Jati  ?” Tanya Rara Santang.

“Ampun Dewi, setelah kita menyusuri sungai Cikeas ini — kita akan mengikuti arah matahari terbit, empat hari empat malam kita berjalan ke Timur, kita akan menyebrangi delapan sungai kecil — begitu kita tiba pada saat mata hari terbenam di hari ke-sembilan.  Kita akan menemui sungai yang sangat besar …………….itulah Cimanuk, wahai Dewiku Junjunganku “.

Ketika rombongan para wanita itu, dengan dikawal orang lelaki 3 orang ponggawa — tiba-tiba mereka diserang sepasang Maung Hitam .  Dengan gesitnya ke-3 ponggawa mencoba menghadang kedua maung itu, agar jangan mencoba menerkam Sang Dewi.  Pertempuran itu terjadi dua malam dua hari — empat wanita yang dibimbing Nyai Karang Bosi terus mempercepat langkah.  Sampailah mereka di tepi Cikeas di kelokan dekat Bukit Hambalang.

Dalam semedinya, tahulah Nyai Karang Bosi, bahwa ketiga ponggawa lelaki itu telah sirna dimakan maung. — malam itu Nyai membimbing Dewi Rara Santang dan 2 mbok pengasuhnya, bermalam di dalam gua di dasar Bukit Hambalang.  Malam gelap gulita. Biasa di daerah Bogor Purba juga bercuaca yang basah — hujan selalu menandakan daerah hutan Hambalang dan Hutan Randu Mahpar.

Malang tidak dapat ditolak, untung tidak dapat diraih — di waktu pagi ketika mereka akan bertolak ke Tepian Cikeas, salah satu mbok pengasuh terpleset dan gugur ke dalam jurang. Sungguh kecewa hati Nyai Karang Bosi, karena perjalanan baru dimulai 5 hari empat malam tetapi, 3 pengawal telah gugur, dan satu mbok asuh pun menyusul. Maka bersemedilah Nyai Karang Bosi.

Konon Bukit Hambalang adalah Puser nu Bumi Tanah Siliwangi — “Barang siapa berani menjamah Bukit Hambalang, ia harus melunasi dulu Upa-upeti, dan rampe-sesaji berupa 7 ayam Cemani dan 7 ayam Cirongkong, 7 batang Tamiang dan sebakul daun kawung berisi e’ek oray Sanca — kalau tidak ada itu semua, maka harus diambil korban manusia sedikitnya 5 orang”

Termenung Sang Nyai Karang Bosi, karena Jembalang Bukit Hambalang ternyata telah menjadikan perjalanan mereka — suatu jebakan agar membayar upa-upeti dengan nyawa manusia — siapa Orang ke-5 ? Bisik hati Sang Nyai.

Ketika sampai di tepi Sungai Cikeas — bersemedilah Nyai Karang Bosi, sambil ia bedoa agar selamat menyeberangi, agar sampailah mereka 5 hari lagi di sungai besar Cimanuk.

Tiba-tiba Jurig Huntala Pertala, berupa Jin besar hitam dengan seluruh tubuhnya berbulu hitam kemerahan :

“Mbok Nyai, aku minta anak perawan sebagai korban sebelum menyeberangi kali Cikeas ini !” Wah, satu-satunya yang masih perawan adalah Rara Santang.

“He, Jurig — janganlah kamu ceroboh, terimalah ini cucuk konde “Oray Bergelung” Beledos bunyi senjata rahasia Sang Nyai mengenai kepala Jurig Cikeas itu. Langsung mati lemas. Sebelum mati ia sempat mengutuk :

“Belakang hari apabila Tanah Siliwangi dan Tanah Pasundan mengalami berkali-kali gerhana bulan — maka Upa-upeti manusia dan rampe Sesaji manusia harus  dibayar dengan Jiwa dan Harta para penguasa di Tanah Pusaka ini ” Darah merah masih mengalir dari jidat Sang Jurig tetapi ia belum juga mati betul.  Terus mengutuk.

“Sekarang ini saja — manusia harus membayar mahal melangkahi hutan, sungai dan bukit  Tanah Jurig Jembalang —- tetapi nanti apabila ada bintang berpijar tiga, saling cakar, maka bagaimana pun akal mereka untuk merampas harta, menyembunyikan hartanya — ini rahasianya :

  1. mereka berkorban emas bukan kertas
  2. mereka berkorban surat bukan kertas
  3. mereka menggotong emas dan surat dengan memakai kereta besi yang bisa menggelinding — mereka melakukan pagar betis menyerahkan bakul berisi emas secara urun renteng — seperti semut mengumpulkan madu
  4. mereka menggunakan kilat untuk menimbun harta di seberang lautan, untuk mempersiapkan kekuasaan di Tanah Orang Buangan (?)
  5. mereka kaum tamak, manusia terkutuk yang akan kami urug di Bukit Hambalang

Setelah Jurig Huntala Pertala mengutuk — yang oleh Nyai Karang Bosi ditafsirkan sebagai Ramalan Masa Depan Bukit Hambalang. Jurig itu mati.

“Kanjeng Dewi, mengertikah dewi dengan Kutukan dan Ramalan jurig itu tadi ? “

“Mengerti Nyai “

Ketika menyeberangi Sungai Cikeas yang angker itu — tanpa dinyana Nyai, bahwa Jurig dan Jembalang Cikeas dan Bukit Hambang masih menunjukkan kerakusannya dalam menghadang ambisi Manusia — ketika menyeberangi sungai  Cikeas, ternyata sekonyong-konyong air bah melanda dari hulu di kaki Gunung Salak.  Menderu-deru.  Nyai Karang Bosi dan satu mbok pengasuh hanyut hilang membawa rahasia Bukit Hambalang.

Tinggallah Dewi Rara Santang sebatang kara. Melanjutkan perjalanannya.

Tetapi Dewi Rara Santang tetap pada pendiriannya akan melanjutkan perjalanan ke arah timur.  Mencari Sungai Cimanuk — ketika mengasuh di Cikalong, di rumah petani yang menolongnya — ia ceritakan kisah Kutukan dan Ramalan Bukit Hambalang.  Cerita itu turun temurun menjadi legenda dan dongeng bagi sebagian Orang Pantura sampai kini.

Adalah seorang TKW yang menyekar di kuburan  kuno di Kebun Raya Bogor beberapa waktu yang lalu — menceritakannya pada tetangga sesama pengunjung di situ.  Oleh seorang wartawan cerita itu di-unggah ke Internet. Allahu ‘Aklam. [MWA]

13110857721142396105

Seperti Rayap memakan Bubuk Kayu, seperti Api di dalam Sekam — begitulah Kaum Koruptor memamah Wisma dan Bukit — tetapi menurut Jangka Bukit Hambalang, merekalah yang akan menjadi Tumbal ke Masa Makmur bagi Orang Buangan.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

5 Kompasianer Beropini tentang Paspampres …

Kompasiana | | 02 September 2014 | 15:41

Keuntungan-keuntungan dari Kasus Florence …

Andreas Ab | | 02 September 2014 | 12:43

Mengapa Plagiarisme Disebut Korupsi? …

Himawan Pradipta | | 02 September 2014 | 11:59

Menyaksikan Sinta Obong di Yogyakarta …

Bugi Sumirat | | 02 September 2014 | 12:19

Inilah Pemenang Lomba Kompetisi Blog ACC! …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 12:25


TRENDING ARTICLES

Presiden SBY dan Koalisi Merah Putih …

Uci Junaedi | 4 jam lalu

Gunung Padang, Indonesia Kuno yang …

Aqila Muhammad | 6 jam lalu

Halusinasi dan Penyebabnya, serta Cara …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Vonis Ratu Atut Pamer Kekuatan Mafia Hukum …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

3 Langkah Menjadi Orang Terkenal …

Seneng Utami | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: