Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Wawancara dengan Bangsa Jin

OPINI | 07 July 2011 | 19:18 Dibaca: 3245   Komentar: 7   1

Entah apa alasannya malam jum’at, terutama malam jum’at kliwon menjadi malam yang sakral bagi mereka yang suka berhubungan dengan mahluk jin. Bicara tentang bangsa Jin, ada sebahagian dari kita yang mungkin tidak percaya adanya bangsa jin disekitar kita. Didalam ajaran Islam, tentang bangsa jin ini banyak referensinya, seperti  dalam surat An Nas misalnya.  Kadang kita tidak menyadari telah berhadapan dengan bangsa Jin, ada suatu saat kita berhadapan dengan seseorang yang tidak asing, sewaktu kita coba mengingat tiba2 orang itu lenyap begitu saja. Yang terpikir oleh kita pastinya apa yang dilihat hanyalah pandangan yang salah, atau hanya sekedar banyangan. Begitu juga ketika suasana sedang sepi, tiba2 telinga kita ada suara memanggil, yang terpikir oleh kita mungkin saja ada kesalahan dalam pendengaran.

Jika kita tidak memahaminya, maka bangsa jin tersebut menjadi  menakutkan atau bahkan menjadi mahluk sakral yang dianggap mampu menyelesaikan problem kita dengan jalan pintas sehingga perlu disediakan sesaji untuk bangsa jin ini. Berpikiran demikian pada akhirnya bisa menjerumuskan kita sendiri sebab antara dunia manusia dan bangsa jin sudah ditentukan alamnya masing2. Namun, jika kita mempunyai kemampuan untuk melihat bangsa Jin, sesungguhnya tidak semua bangsa jin dapat terlihat, hanya yang telah melakukan kontak atau komunikasi. Lalu  bahasa apa yang sesungguhnya dipakai oleh bangsa Jin ?. Apabila para sarjana antropologi dan kebudayaan kuno menegaskan bahwa bahasa yang tercatat paling tua adalah Bahasa Sumeria, yang sejarahnya mengakar pada kira-kira 3500 tahun sebelum Masehi, yaitu masa yang dalam nisbatnya dengan sejarah umum manusia setara dengan lima detik, maka kita berpendapat bahwa Bahasa Arab adalah bahasa pertama, dan darinya muncul-lah bahasa-bahasa kuno lainnya, yang juga disebut sebagai Bahasa Aramia, yang merupakan cabang darinya. Sebab, telah ditemukan beberapa teks dalam bahasa Aramia yang mengacu pada abad ke-14 SM – suatu bahasa yang dalam skala besar, terdiri dari bentuk-bentuk huruf Arab sekarang ini. Jika kita mampu berkomunikasi dengan bangsa Jin, dapat saja kita melakukan crosscheck dengan bangsa Jin tentang sejarah bahasa ini. Artinya, bahasa yang dipakai adalah bahasa manusia, ada Jin Arab, Cina, Inggris, Jawa atau jin yang berbahasa Indonesia. Jin Islam, akan mengatakan bahasa yang tertua adalah bahasa Arab. Bahasa Arab memang menjadi bahasa universal kaum muslim.

Semula saya berfikir sangat rasional, pengalaman masa kecil saya yang setiap hari ditemani  seorang wanita yang saya kira pengasuh saya, atau bermain dengan  anak2 yang bertubuh lucu, ada yang perutnya buncit, ada yang bertaring, ada yang telinganya panjang yang saya kira anak tetangga, pengalaman seperti itu sudah hampir terlupakan.  Saya memang tidak mau mengingat2, sebab ketika saya tahu mereka bukan pengasuh saya, bukan pula anak2 tetangga, saya menjadi penakut luar biasa. Celakanya, ayah saya menganggap saya mempunyai kelainan jiwa sehingga saya dibawa ke psikiater dan lantaran saya diperlakukan seperti itu saya tidak mau lagi ke dokter dan membuat saya sangat jarang  ke dokter hingga sekarang. Seingat saya, 12 tahun terakhir sama sekali saya tidak pernah ke dokter.

Sekitar 15 tahun lalu, bayangan masa kecil itu muncul lagi, tetapi satu persatu munculnya memperkenalkan diri, anehnya tidak ada rasa takut, justru membuat penasaran. Saya lakukan wawancara tentang bahasa mereka, mengapa mereka menggunakan bahasa jawa, walaupun saya orang jawa tetapi cuma labelnya saja, bahasa halusnya saya tidak faseh mengucapkan walaupun saya mengerti. Dari wawancara tentang bahasanya sampai dunia dugem, banyak hal2 yang lucu.  Kalau kita menyebut diskotik, bangsa Jin tidak faham sehingga saya harus membayangkan sambil menjelaskan bahwa diskotik itu ruangan tempat joget yang banyak lampu kelap kelip, baru dia faham. Namun ketika saya tanyakan apa yang saya kerjakan kemarin, dia tahu persis saya jalan dengan siapa dan kemana. Yang ini gawat, dia tahu saya selingkuh. Yang dia dapat jelaskan adalah ciri orang yang pergi dengan saya dan suasana tempatnya.  Kenapa anda menjadi mata2 ?.  Jawaban bangsa jin ternyata sederhana, dia jawab karena saya tanya.  Namun ada suatu saat dengan mediator, istri saya ikut nimbrung menanyakan kelakuan saya, ternyata bangsa jin ini tidak mau buka kartu, jawabannya agar mempercayai suaminya. Amanlah saya.

Ada suatu saat rumah saya dimasuki pencuri, kepergok pembantu, masih beruntung sang pembantu tidak dilukai, hanya HPnya dirampas.  Saya melapor polisi, koordinasi dengan satpam saya, saya mencoba apakah ucapan bangsa jin ini bisa dibuktikan yang katanya mengabdi pada saya.  Ternyata pencuri itu datang lagi, disergap tapi lolos, saya meminta lagi bangsa Jin itu  agar datang lagi, tidak masuk akal, pencuri itu menelpon ke telpon rumah ( dari HP yang dirampas ) mengancam pembantu.  Saya suruh rayu, ternyata pencuri itu datang lagi, polisi yang sudah stanby langsung menyergap lagi, tertangkap. Pencuri itu babak belur dan mengaku diperintah tetangga yang kebetulan katanya sedang pulang kampung. Anehnya, tetangga itu pulang kerumahnya tak lama kemudian dan langsung ditangkap.  Tetapi kejadian itu membuat saya kapok, apa yang saya lakukan bukan hal yang normal sebagaimana kehidupan manusia umumnya.  Saya agak lega ketika hakim memutuskan hukuman ringan sebab hakim menganggap dia adalah pencuri bodoh, sangat bodoh sehingga tidak dinilai sebagai pencuri profesional, kebdohannya yang meringankan hukuman dia.

Antara percaya dan tidak pencuri itu menjadi orang bodoh karena pengaruh bangsa Jin, nyatanya keinginan  saya yang sedang marah terwujud. Sejak itu saya tidak berani iseng lagi  wawancara dengan bangsa Jin karena rasa penasaran ingin tahu kehidupan mereka lebih jauh. Ketika kita tidak mampu mengendalikan diri, tindakan kita dapat membahayakan keselamatan diri kita sendiri atau orang lain.  Wejangan dari pak Ustadz agar tidak berhubungan dengan bangsa Jin apaun alasannya memang benar sekali, sebab ketika kita tidak mampu mengendalikan diri, setanlah yang menguasai diri kita.  Bangsa Jin yang menyatakan diri sebagai abdi kita hanyalah mengikuti perintah, baik buruknya bukan bangsa jin yang menilai, kita sebagai manusialah yang harus memilah dan memimpin diri kita. Tidak nyaman hidup melawan kodrat walaupun kesempatan itu terbuka didepan mata kita dapat dengan mudah memenuhi keinginan kita.  Terbaik adalah hidup dalam kewajaran sebagaimana yang kita terima.

Tags: jin

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat! Surabaya Meraih Socrates Award …

Ilyani Sudardjat | | 17 April 2014 | 11:14

Warga Kecam Pemogokan Panitera …

Sutomo Paguci | | 17 April 2014 | 08:56

Fenomena Simon Santoso: Penerapan Teori XY? …

Yuniandono Achmad | | 17 April 2014 | 08:18

Sudah Dikompres tapi Masih Demam, Salahkah? …

Widhi Handayani | | 16 April 2014 | 21:59

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Agar Tidak Menyusahkan di Masa Tua …

Ifani | 7 jam lalu

Menguji Nyali Jokowi; “Say No to …

Ellen Maringka | 8 jam lalu

Dinda, Are You Okay? …

Dewi Nurbaiti | 8 jam lalu

Pelajaran Mengenai Komentar Pedas Dinda …

Meyliska Padondan | 9 jam lalu

Menakar Pasangan Ideal Capres - Cawapres …

Afdhal Ramadhan | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: