
seorang yang mengembara mencari...mencari... terus dan belajar terus sampai akhir hayat
Dibaca: 55
Komentar: 2
Nihil
Rakyat miskin itu paling sering disebut di republik ini. Sejak merdeka sampai sekarang ini rakyat miskin menjadi dua buah kata yang sangat populer. Dua kata itu paling banyak disebut dalam setiap pemilu,apakah pemilu presiden, pemilu legislatif dan pemilu kada, apalagi LSM, rakyat miskin memang menjadi jualannya.
Pemerintah pun mengadopsi isu rakyat miskin yang diteriakan oleh LSM. Tak heran kalau kalangan LSM yang rajin mengusung isu rakyat miskin untuk mendapat kucuran donor asing mengeluh, sebab pemerintah pun sudah mengadopsi isu rakyat miskin “gaya LSM”, sehingga sebahagian donor asing melirik Pemerintah untuk mengucurkan dananya. Kekhawatiran kalangan LSM itu, mengesankan ada rasa tersaingi dalam “rejeki” donor asing.
Ternyata rakyat miskin bukan saja menjadi jualan demi kucuran dana donor asing, tapi rakyat miskin bisa merobah nasib sebahagian anak bangsa menjadi kaya dan memiliki jabatan, tidak lagi layaknya kucing kurap. Segelintir orang yang tadinya hanya anak jalanan luntang-lantung dengan sandal miring sebelah, yang biasa menunggang motor kreditan atau paling banter motor butut pinjaman – sekarang berjalan tegap,laju bagaikan pesawat, tak mau lagi nengok kanan kiri.
Lalu, salahkah ketika seseorang itu mengalami perobahan yang dipahami sebagai peningkatan hidup ? Jawabnya, tentu tak ada salahnya, justru sesuatu yang menjadi tujuan kehidupaan yang normal.
Hanya saja, patut diperhatikan soal niat awal, komitmen, janji-janji. Jangan sampai rakyat miskin yang menjadi alat jualan semakin tertinggal jauh dibelakang, sementara si ‘penjual” melaju kencang ke depan tanpa peduli, seolah-olah berucap dengan nada mengejek: “selamat tinggal, siapa suruh jadi rakyat miskin. ***