
seorang yang mengembara mencari...mencari... terus dan belajar terus sampai akhir hayat
Dibaca: 76
Komentar: 0
Nihil
Tim Pemeriksa mendatangi sebuah Kecamatan di Negeri Kelabu dalam rangka pemeriksaan rutin. Para Ketua Sekolah dikumpulkan disebuah ruangan yang lumayan luas dan masing-masing mereka menunggu giliran diperiksa.
Para Ketua Sekolah duduk, masing-masing memegang map yang berisi sejumlah berkas, menunggu panggilan Tim Pemeriksa Penggunaan Dana Bantuan Sekolah (TPBNS). Tim teridiri dari Jokso yang sudah senior
“Kepala Sekolah Melati silahkan maju kedepan”. Terdengar panggilan dari mikrofon.
Seorang lelaki berumur 40-an maju kedepan. Setelah memberi hormat kepada Ketua TPBNS, dia duduk di kursi yang sudah tersedia pas berhadapan dengan Ketua Tim
“Mana laporan saudara.”
“Ini pak “ kata Kepala Sekolah Melati sambil menyerahkan map warna kuning.
”Ini laporan tidak benar. Dana untuk surat khabar dan iklan terlalu banyak. Kan sesuai petunjuk hanya satu jenis Koran saja yang boleh diterima, tapi ini sampai tiga Koran, jangan-jangan Koran yang lain fiktif. Selain itu, ucapan iklan selamat terlalu banyak. Sudah ucapan selamat hari ulang tahun daerah, ucapan selamat hari ulang tahun nasional, ada lagi ucapan selamat instansi ini instansi itu. Untuk ucapan selamat sudah menghabiskan dana jutaan rupiah, kemudian mana bukti koran yang memuat ucapan selamat.”
“Ada pak, tapi hanya satu Koran, soalnya iklan di koran lain tidak sempat saya terima, karena korannya tidak jelas, hanya terbit satu kali saja kemudian selanjutnya tidak terbit lagi. Wartawannya saja sudah tidak pernah saya lihat batang hidungnya.” Jawab Ketua Sekolah dengan gugup
“Ini semua yang tidak benar, merugikan uang Negara. Saudara boleh pulang dan besok diwaktu yang sama saudara menghadap lagi kesini untuk mendengar hasil, apakah saudara beres dianggap tidak ada masalah, atau saudara ditingkatkan dari penyelidikan menjadi penyidikan. Itu tergantung situasi kondisi dan tergantung faktor “lain”, kita lihat saja nanti
“Ketua Sekolah Mawar Berduri maju kedepan. “ Kata protokol.
“Saudara Kepala Sekolah Mawar, oh ia kenapa pula nama sekolah saudara Mawar Berduri. Kalau Mawar saja kenapa sih, pakai embel-embel berduri, apa maksudnya? Tanya Ketua Tim
“Tidak pakai kenapa-kenapa, pak. Sekolah yang saya pimpin ini sudah bernama seperti itu sebelum saya menjadi Ketua Sekolah, bahkan masih sejak zaman puluhan tahun silam .
“Sudah lah sekedar mau tanya saja, soalnya mengherankan sebab nama sekolah kayak judul lagu saja. Tapi, itu tidak terlalu penting. Pokok masalah yaitu pemeriksaan, jadi sekarang serahkan laporan saudara. “
Setelah Ketua Tim membolak-balik berkas, maka beliau membentak :
“ Saudara ini bagaimana mengelola sekolah. Makanan tambahan untuk murid terlalu besar, tidak sesuai dengan yang diatur dalam petunjuk pelaksanaan. Selain itu makan minum untuk guru justru tidak tercantum, yang ada hanya makan-makan bubur Manado dan kegiatan makan bubur Manado dilakukan hamper setiap hari. “ Tanya Ketua Tim heran.
‘Oh begini, pak.Mengapa makanan tambahan murid sedikit besar, itu sudah termasuk swadaya orang tua murid. Jadi, orang tua murid memberi tambahan dana karena menurut orang tua murid, dana makanan tambahan terlalu sedikit. Soalanya anak-anak di sekolah ini kuat makan, pak. Kue satu buah tidak cukup. Kalau soal bubur`Manado, itu pun kreatifitas guru-guru, pak. Kan guru disini semua tinggal di kompleks sekolah, jadi kalau soal minum teh, minum kopi – mereka minum dirumahnya sendiri. Nah, uang makan minum guru dikumpul, kalau ada kekurangan ditambah oleh masing-masing guru dan itu dibelanjakan untuk membuat bubur`Manado.”
“Ah saudara ini cukup kreatif, banyak idea. Boleh saudara diangkat Kepala sekolah paling keratif. ” Kata Ketua Tim
Begitu seterusnya masing-masing Ketua Sekolah bergiliran menghadap Ketua Tim sampai acara usai.
Besoknya Ketua Sekolah berkumpul lagi menunggu hasil pemeriksaan. Hasil pengumuman, bahwa semua Ketua Sekolah dalam pengelolaan keuangan tidak ada masalah penyimpangan material. Hanya ada penyimpangan administrasi dimana rekomondasinya adalah pembinaan.
Tapi sudah menjadi rahasia umum, artinya sudah sama dipahami oleh para Ketua Sekolah di negeri Kelabu bahwa peningkatan dari pemeriksaan ke tingkat penyidikan tergantung amplop yang disisipkan dalam map. Soal laporan lengkap itu nomor sekian. Ketika laporan bagus, tapi isi amplop tipis, maka boleh saja direkomondasikan dari peningkatan menjadi penyidikan. Walau banyak masalah, tapi amplop tebal, maka semua mudah diatur, pelanggaran material dialihkan menjadi pelanggaran prosedur. Demikian juga sebaliknya, laporan bagus, hanya sedikit pelanggaran administrasi, tapi isi amplop tipis, maka dari pelanggaran adminstrasif bisa dikotak-katik, dialihkan menjadi pelanggaran material.