
Tulisan ini hanyalah Opini Pribadi Penulis yang jauh dari Ilmiah,semata-mata hanya untuk sekedar menuangkan isi hati yang bersifat alamiah.
Dibaca: 157
Komentar: 20
Nihil

Belakangan ini, kita dikejutkan dengan berbagai persoalan-persoalan yg terjadi dinegeri kita ini, yang seolah tidak pernah berhenti.
Baik itu persoalan hukum, ekonomi, olahraga, krisis kepemimpinan, dan masih banyak lagi..
Persoalan Hukum dalam hal ini memegang track record yang tinggi dibanding persoalan lainnya. Dimana tercatat banyaknya kasus-kasus hukum besar yang tidak terselasikan dengan baik dan bahkan seolah-olah ditutup-tutupi, dan tidak ada yang mau bertanggung jawab.
Kita masih ingat betul dengan kasus besar BLBI yang menyeret sebagaian besar petinggi negara ini, kasus Century yang jelas-jelas sudah terbukti siapa pelakunya akan tetapi tidak bisa ditindak tegas, kasus cek pelawat yang melibatkan sejumlah anggota DPR yang seolah-olah tidak punya malu sama sekali, kasus Gayus Tambunan yang memperlihatkan rakusnya para pejabat dinegeri ini, kasus Konspirasi terhadap Antasari Ashar yang menunjukkan kepada kita bahwa di negeri ini orang benar dan tegas itu disingkirkan, kasus penganiayaan serta pembunuhan terhadap TKI yang menurut saya pemimpin negara ini sangat-sangat bodoh karena tidak pernah belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, kasus korupsi para pejabat baik itu anggota DPR maupun pejabat negara lainnya yang dengan mudahnya lari kenegeri orang setelah selesai mencuri dinegeri sendiri dan berbagai kasus hukum lainnya.
Persoalan hukum yang sangat banyak ini seolah-olah tidak bisa diatasi oleh para penegak hukum kita. Baik itu polisi, jaksa, hakim, maupun pejabat-pejabat lainnya yang berhubungan dengan penegakan hukum. Bahkan yang paling parahnya lagi adalah mereka ikut turut ambil bagian untuk “bermain” didalam. Jadi tidak heran ketika kita melihat banyak sekali penegak hukum yang juga terseret karena melakukan tindakan yang seharusnya tidak dilakukannya sebagai penegak hukum.
Itu masih sebatas persoalan hukum. Kalau persoalan ekonomi lain lagi.
Saya mengamati bahwa Pemimpin kita sekarang ini cenderung bermain angka-angka ketika diminta untuk bertanggung jawab atas keadaan ekonomi yang semakin merosot. Mereka selalu mengklaim penuntasan kemiskinan dinegeri ini naik terus menerus dengan angka sekian persen atau mengalami kemajuan. Padahal fakta yang terjadi sungguh berbanding terbalik dari angka-angka persenan tersebut. Banyak rakyat yang menderita. Tidak punya tempat tinggal tetap, menjadi buruh dengan pendapatan dibawah UMR (Upah minimum regional) dan bahkan yang lebih tragis lagi adalah banyak rakyat yang bunuh diri karena tidak tahan lagi dalam menghadapi persoalan kehidupan ini.
Contoh sederhana yang bisa kita lihat dari persoalan ekonomi ini adalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Kita harus memahami kenapa sebenarnya sampai ada TKI yang harus bekerja luar negeri sana? Apakah karena begitu sempitnya negeri ini sehingga tidak ada lagi tempat untuk bekerja? Saya rasa negeri kita ini merupakan salah satu negara dengan wilayah yang terluas. Jadi tidak ada alasan untuk menyatakan bahwa negara kita ini terlalu sempit. Yang lebih tepatnya adalah kegegalan pemerintah dalam memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya. Harusnya ada lapangan kerja yang memungkinkan bagi rakyat sehingga tidak harus pergi merantau untuk menceri kerja kenegeri orang.
Lalu bagaimana dengan prestasi Olahraga kita?
Suram. Itulah menurut saya kata yang tepat untuk menggambarkan situasi olahraga di negera kita ini. Tidak ada yang bisa dibanggakan lagi. Sepakbola, bulutangkis, basket, merupakan olahraga yang paling digemari dinegeri ini. Tetapi semua itu tidak bisa menghasilkan prestasi yang bisa melambungkan nama negeri ini. Semuanya berlomba untuk korupsi. Olahraga sekarang ini sudah menjadi ladang korupsi bagi mereka petinggi-petinggi yang memimpin.
Bulutangkis yang dulu bisa kita andalkan untuk memberi prestasi sekarang hanya isapan jempol belaka. Tidak ada prestasi lagi. Tidak ada regenerasi. Tidak ada yang spesial.
Lalu, siapa sebenarnya yang bertanggung jawab terhadap segala persoalan ini?
Pemerintah?
Masyarakat?
Akademisi?
Atau, Pengamat?
Hmm, sekali lagi dalam kesempatan ini saya lagi-lagi harus menyalahkan pemerintah.
Krisis kepemimpinan telah terjadi dinegeri ini sejak reformasi bergulir, tidak ada yang bisa memimpin dengan baik. semua pemimpin berlomba-lomba berretorika tanpa ada tindakan yang jelas dan tegas. Lambat responsi.
Mari perhatikan kasus TKI kita yang baru-baru ini dihukum mati di Arab Saudi sana, bagaimana respon pemerintah terhadap hal itu?
Oke, saya akui ada tindakan yang dilakukan yaitu dengan mengeluarkan Moratorium, terus apakah itu efektif? Dipostingan sebelumnya saya telah membahas hal ini. Jadi saya tidak akan menjelaskan lagi panjang lebar dalam kesempatan ini. Saya lebih melihat dari sisi responsinya saja.
Pemerintah itu memberi respon dan mengeluarkan Moratorium setelah kurang lebih 4 hari setelah Ruyati dinyatakan telah dihukum mati di Arab Saudi sana. Sebelumnya semuanya diam seribu bahasa, seakan semuanya bisu, dan seperti merasa tidak bersalah. Padahal sebelum-sebelumnya dalam kasus sms gelap, pemerintah langsung sigap memberi respon dan tanggapan. Padahal itu hanya sebatas sms gelap lho. Yang pada dasarnya kita tidak tau siapa orang yang mengirim sms tersebut. Tetapi ditanggapi serius oleh pemerintah.
Sungguh miris melihat keadaan negara sekarang ini, kalau boleh saya mengatakan bahwa tidak ada lagi yang bisa dibanggakan dinegara ini. Semuanya sudah musnah, negara ini sudah seperti kapal pecah tanpa nahkoda.
Masalah dimana-mana. Belum tuntas masalah yang satu masalah lain sudah bermunculan.
Sampai kapan ini akan terjadi, saya juga tidak tau. Yang pasti harus ada tindakan dari Pemerintah sebelum rakyat bertindak. Atau sebelum masyarakat Indonesia kehilanggan Nasionalismenya.
Hmm..Indonesia..Indonesia…