Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Uniknya Pedagang Madura

REP | 24 June 2011 | 16:30 Dibaca: 757   Komentar: 2   1

13089328651535680589Uniknya orang-orang khususnya para pedagang dari madura, selalu membuat hati kita bertanya-tanya. Bagaimana tidak, mereka dimana-mana ada, dari mulai sabang sampai merauke negeri ini  mereka selalu ada. Mereka selalu bisa bertahan dimanapun tempat & selalu berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana tempat mereka berpijak.
Namun siapa sangka, dibalik kerja keras itu, paling tidak kita bisa acungkan jempol tinggi-tinggi buat mereka. Akan tetapi, ada segelumit kebiasaan yang tidak kita ketahui bersama.
Apakah itu, mari kita coba telaah beberapa fakta di bawah ini :
1.
Ada sebuah kecamatan, namanya Tanah Merah.
di pasar tradisional di daerah tersebut. Tidak ada pedagang atau pengusaha kaum Tionghoa, padahal kita tau. Masyarakat Tionghoa mengapa ?.
Alasanya sepele, karena kehadiran masyarakat Tionghoa di daerah tersebut tidak di terima oleh warga sana. Bila ada yang berani datang, maka sesegera mungkin di usir oleh masyarakat di sana.
2.
Surabaya adalah kota besar, terbesar nomor dua setelah Jakarta.
Namun siapa mengira, bahwasanya di Surabaya yang menguasai pedagang-pedagang kecil baik asongan, di bus-bus, terminal, pelabuhan semua adalah orang madura. Padahal kita tahu, Surabaya adalah tempatnya etnis jawa. Bahkan sekitar tahun 2005, ada sebuah sumber mengatakan. Pengusaha terkaya di Surabaya saat itu adalah orang madura, mengapa ini bisa terjadi ?.
3.
Bandung, siapa diantara kita yang tak mengenal kota kembang yang satu ini ?.Begitupun masyarakatnya, yang terkenal dengan gaya bicara yang santun dan lemah lembut.Disela-sela itu, bila kita berjalan-jalan ke pasar-pasar daerah tersebut. banyak sekali kita jumpai pedagang asal madura di sana. Mereka bisa bersaing dengan pedagang-pedagang dari daerah lain. Tetapi yang pasti bersaing secara sehat lhoo tentunya.
Ada salah satu tokoh masyarakat asal madura yang pernah berbicara padaku. Dia berkata ” Kalau di Bandung dan Jakarta, dimana itu ada sungai di situ pasti ada pula orang madura “. Motivasi yang bagus, dalam alam fikirku.
4.
Tentang pedagang asal Madura di Kalimantan, kita tak usah terkejut bila masyarakat madura banyak pula di Kalimantan,karena penduduk disini bukan hanya di isi masyarakat pribumi, Namun keberadaan suku-suku pendatang yang menduduki hampir 50 % di banding dengan masyarakat asli pribumi. Awal orang madura datang satu persatu, lama-lama bawa kerabat ataupun sanak saudaranya. Usahanya ya tetap jadi pedagang, lama nian maka terciptalah sebuah koloni khusus masyarakat madura. Orang madura pandai memanfaatkan peluang, di setiap ada jalan. Mereka tak pernah melepaskan begitu saja.Namun yang saya heran, mengapa jika koloni itu masih sedikit. mereka masih sopan santun terhadap orang di sekitarnya. Namun pada akhirnya, jika sudah menjadi besar. Hilanglah sudah semua adat ketimuran. Berani ngeyel, tak mau mengalah. Penghargaan orang lain atas kerja kerasnya. Lama-lama memudar dan berubah menjadi sebuah permuhsuhan.
1308933037616205374Mungkin sedikit uraian di atas, bisa memberikan kita sedikit gambaran. Bagaimana kerja keras masyarakat madura dalam membangun ekonomi. Namun, kita bisa mempelajari pula apa yang menjadi kebiasaan buruk dari mereka. Dengan segenap kebesaran hati, tetap saja kita harus memberi nilai lebih. Yang baik kita contoh, yang tak patut kita tinggalkan.
Akhir kata, majulah Negeriku. Indonesia selalu di hati.

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Trik Licik Money Changer Abal-abal di Bali! …

Weedy Koshino | | 20 August 2014 | 23:31

Dahlan Iskan, Sosok Tepat Menteri Pertanian …

Felix | | 21 August 2014 | 09:47

ISIS Bunuh Wartawan Amerika dan Ancam Obama …

Ansara | | 21 August 2014 | 10:03

I See All Evil, I Hear All Evil, I Report …

Agustulastyo | | 21 August 2014 | 12:32

Haruskah Semua Pihak Menerima Putusan MK? …

Kompasiana | | 21 August 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Pelajaran dari Sengketa di MK …

Jusman Dalle | 3 jam lalu

Hebat, Indonesia Paling Menjanjikan Sedunia! …

Firdaus Hidayat | 5 jam lalu

Jangan Sembarangan Pelihara Ayam di Amerika …

Usi Saba Kota | 5 jam lalu

Menanti Komitmen Prabowo …

Adrian Susanto | 6 jam lalu

Aset Penting “Dikuasai”, SDA …

Hendrik Riyanto | 8 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: