Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ukonpurkonudin

Arti Sebuah Nama….. Ketika cahaya hati bertambah bersinar. Cahaya kepalapun menjadi padam. Ketika cahaya hati menjadi sempurna. Cahaya kepala selengkapnya

Teori Struktural Genetik dalam Penelitian Sastra

OPINI | 20 June 2011 | 06:51 Dibaca: 5034   Komentar: 0   0

Historitas teori strukturalisme genetik. Orang yang dianggap sebagai peletak dasar madzhab genetik adalah Hippolyte Taine (1766-1817) seorang kritikus dan sejarawan Francis. Ia mencoba menelaah sastra dari presfektif sosiologis dan mencoba mengebangkan wawasan sepenuhnya ilmiah dalam pendekatan sastra seperti halnya ilmu scientific dan exacta. Menurutnya bahwa satra tidak hanya karya yang bersifat imajinatif dan pribadi melainkan suatu perwujudan pikiran tertentu pada saat karya itu lahir. Ini merupakan konsep ginetik pertama tetapi metode yang digunakan berbeda, setiap tokoh mempunyai metodenya masing-masing. Tetapi kesamaan konsep setruktur hanya pada konteks hubungan phenomena konsep. Lucien Goldman (1975) seorang Marksis adalah orang yang kemudian mengembangkan fenomena hubungan tersebut dengan teorinya yang dikenal dengan strukturalisme genetic. Pada prinsifnya teori ini melengkapi sutrukturaisme murni yang yang hanya menganalisis karya sastra dari aspek intristiknya saja dan memakai peranan bahasa sastra sebagai bahasa yang khas. Strukturaisme genetic memasukan faktor genetik dalam karya sastra, genetik sastra artinya asal usul karya sastra. Adapun faktor yang terkait dalam asal muasal karya sastra adalah pengarang dan kenyataan sejarah yang turut mengkondisikan saat karya sastra iu diciptakan. Ditambah lagi ia memasuki struktur sosial dalam kajiaannya yang membuat teori ini dominan pada priode tertentu terutama di Barat dan Indonesia.

Pendekatan strukturalisme genetic ialah pendekatan yang mempercayai bahwa karya sastra itu merupakan sebuah struktur yang terdiri dari perangkan kategori yang saling berkaitan satu sama lainnya sehingga membentuk yang namanya struktularisme geneti kategori tersebut ialah fakta kemanusiaan yang berarti struktur yang bermakna dari segala aktifitas atau prilaku manusia baik yang verbal maupun maupun fisik yang berusaha di pahami oleh pengetahuaan. Semua aktivitas itu merupakan respon dari subjek kolektif (subjek trans individual) dalam dunia sastra transindividual subjek yang artinya terjadi kesamaan rasa dan pikiran antara pengarang (penulis) karya sastra dengan para pembaca dalam memahami karya sastra atau fakta manusia tadi, terus pandangan dunia terhadap subjek kolektif (Trans individual Subject) fakta kemanusiaan dan terakhir adalah struktur karya sastra menurut Goldman karya sastra merupakan produk strukturasi dari transindividual subject yang mempunyai struktur yang koheren dan terpadu terus karya sastra merupakan ekspresi pandangan dunia secara imajiner dan dalam mengekspresikan pandangan dunia tersebut pengarang menciptakan semesta tokoh-tokoh, objek-objek dan relasi relasi secara imajiner dalam pendapat tersebut golman mempunyai konsep struktur yang bersifat tematik. Yang menjadi pusat perhatiaannya ialah relasi antara tokoh dengan tokoh dan tokoh dengan obyek yang ada disekitarnya.

Teori strukturalisme genetik ialah sebuah teori yang menjelaskan struktur dan asal muasal struktur tersebut dengan memperhatikan relevansi konsep homologi, kelas sosial yang dimaksud Goldman adalah kelas yang mempertahankan relevansi struktur dan ia menggunakan metode dialektika yang menekankan dan merpertimbangkan koherensi struktural yang berbeda jauh dengan Marxisme yang menapikan struktur dan metodenya menggunakan positivistik yang mengingkari relevansi dan koherensi struktur, subjek transindividual ini berarti sebagai subjek dalam menciptakan karya sastra yakni penulis harus bisa menyampaikan perasaan dan pikiranya kepada pembaca dalam novel misalnya supaya pembaca bisa memahami dan mengerti apa yang disampaikan penulis dan terjadi sama rasa dan pikiran dalam memahami karya sastra atau novel tadi dan pandangan dunia pengarang terhadap subjek kolektif (transindividual subject) dan fakta manusia menurut Goldman ada 3 tahap dalam melakukan penelitiaan sastra menggunakan teori strukturalisme genetik, yakni;

· Tesis merupakan informasi apa yang di perlukan berupa data

· Antitesis merupakan pemberian opini terhadap realitas, anti tesis ini melebur dengandengan tesis dan memeberikan suatu opini pada relitas/sintesis

· Dan terakhir sintesis berupa realitas dan kembali lagi menjadi tesis kembali.

Dan terus strukturasi tersebut berputar, berkaitan, saling mengisi dan berkoherensi sehingga teori ini terus berkembang juga dianggap teori yang berhasil memicu kegairahan analisis penelitiaan sastra pada khususnya dan pada umumnya penelitiaan meneliti aspek pengetahuaan lain yang lebih komplit dibandingkan dengan teori structural yang lainnya.

Prosedur (metode) teori strukturalisme genetik terhadap penelitian karya yang agung (master face ) menurut goldman sebagai berikut:

· Penelitiaan karya sastra dilihat dari satu kesatuaan

· Karya sastra yang dianalisis hanyalah karya yang mempunyai nilai sastra yang mempunyai tegangan (tention) antara keragaman dan kesatuaan dalam sesuatu keseluruhan yang padat (a coherent whole).

· Jika kesatuaan telah ditemukan, kemudiaan dianalisis hubungannya dengan latarbelakang social. Sifat hubungan tersebut, a) yang berhubungan dengan latarbelkang social adalah unsure kesatuaan, b) latar belakang yang dimaksud pandangan dunia suatu kelompok social, yng dilahirkan oleh pengarang sehingga hal tersebut dapat di kongkretkan.

Kelebihan teori strukturaisme genetic.kalau dibandingkan dengan strukturalisme murni dan dinamik, strukturalisme ginetik mempunyai keungulan yang dominan ketimbang kedua teori structural tersebut sejajar denggan strukturalisme dinamik, strukturalisme ginetik dikembangkan atas dasar penolakan terhadap analisis strukturalisme murni yang menganalisis karya sastra terhadap struktur intristik saja. Baik strukturalisme genetic maupun dinamik menolak peranan bahasa sastra sebagai bahasayang khas, bahasa sastra. Perbedaannya strukturalisme dinamik terbatas dalam melibatkan peranan penulis dan pembaca dalam rangka komunikasi sastra, strukturalisme genetic melangkah lebih jauh ke struktur social dan karya sastar dapat dipahami dari asalnya dan terjadinya (unsure genetik) dan latarbelakang social tertentu.

Kekurangannya mungkin konsep strukturalisme dalam perkembangannya seperti yang disebut Raymond Boudond (1976) adalah konsep yang kabur mungkin karena hubungan antara tesis, antitesis dan sintesis yang saling berkaitan, mengisi dan melebur menjadi konsep ini kabur atau tak jelas sulit untuk mendapatkan simpulan yang pasti. Terus yang terakhir dalam objek membedah karya sastranya sturkturalisme genetic harus karya sastra yang besar, yang kuat (master face) berarti ada pembatasan dalam menganalisis dan syarat untuk meneliti suatu genre sastra menurut standar teori ini yakni karya sastra yang agung.

Asumsi strukturalisme genetic terhadap karya sastra adalah karya sastra yang agung, karya sastra yang kuat (besar) merupakan syarat karya sastra untuk di teliti. Karya sastra yang kuat sebagai mana dikemukakan goldman adalah yang mempunyai kesatuaan (unity) dan keragaman (complexity) yakni didalamnya terdapat kategori-kategori yang saling bertaliaan satu sama lain yang membentuk strukturalisme genetic yakni kateori-kategori tersebut ialah; fakta kemanusiaan, subjek kolektif (trans individual subject), stukturasi, pandangan dunia pemahaman dan penjelasan. Terus karya satra merupakan sebuah struktur tetapi struktur itu bukanlah sesuatu yang setatis melainkan produk dari proses sejarah yang terus berlangsung, proses ses- strukturisasi dan destruktusi yang hidup dan dihayati oleh masyarakatasl karya yang bersangkutan.

dikutip dari; http://ukonpurkonudin.blogspot.com/2010/04/perbandingan-teori-strukturalisme-murni.html

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Peternakan Nyamuk di Loka Litbang …

Nurlaila Yusuf | | 18 December 2014 | 14:47

Bunga KPR Turun, Saatnya Beli Rumah? …

Rizky Febriana | | 18 December 2014 | 11:44

Kompasiana Drive&Ride: “Tantangan …

Kompasiana | | 16 December 2014 | 17:35

Rangkuman Foto: Menyusuri Monumen Penting di …

Bisurjadi | | 18 December 2014 | 14:42

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50


TRENDING ARTICLES

Seleb yang Satu Ini Sepertinya Belum Layak …

Adjat R. Sudradjat | 7 jam lalu

Konyolnya Dokumen Hoax Kementerian BUMN Ini …

Gatot Swandito | 8 jam lalu

Menyoal Boleh Tidaknya Ucapkan “Selamat …

Dihar Dakir | 9 jam lalu

Presiden Jokowi Mesti Kita Nasehati …

Thamrin Sonata | 11 jam lalu

Pilot Cantik, Menawan, dan Berhijab …

Axtea 99 | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: