Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Cerita dari Lokalisasi Jalan Nusantara, Makassar

OPINI | 12 June 2011 | 06:28 Dibaca: 4241   Komentar: 2   0

Jalan Nusantara, Makassar

Jalan Nusantara, Makassar

Sebut saja namanya Yanti, seorang PSK di salah satu tempat hiburan malam di lokalisasi jalan Nusantara Makassar. Yanti sudah lima tahun jadi PSK. Dalam semalam, dia mampu melayani tiga lelaki dengan bayaran rata-rata Rp 300 ribu per lelaki. Anda tentu bisa membayangkan: sudah berapa kali Yanti bersetubuh dan sudah berapa lelaki yang menikmati tubuhnya? Ya, banyak!

Yanti adalah orang asli Surabaya. Awal jadi PSK, dia bergabung di lokalisasi Gang Dolly Surabaya. Afiliasi Nusantara-Dolly membuatnya harus dirotasi ke Nusantara. Kedua lokalisasi tersebut memang secara berkala saling bertukar PSK. Alasannya: biar pengunjung tidak bosan.

Setiap hari, Yanti harus bersaing dengan beberapa PSK lainnya untuk berebut perhatian pelanggan. Yanti dan teman-temannya berdiri berjejer di balik tirai, sementara pelanggan duduk di kursi depan tirai. Setelah tirai dibuka, pelanggan pun bisa memilih PSK yang menarik perhatian dan gairahnya. Dan begitu seterusnya…

Kata orang-orang, pekerjaan terbaik adalah pekerjaan yang bisa menghasilkan uang dengan cara yang enak. Mungkin itulah yang dirasakan oleh Yanti dan teman-temannya. Entahlah, mungkin juga karena terlanjur bergaya hidup seperti itu atau memang susah mencari pekerjaan lain, sehingga mereka tidak punya pilihan lain.

Di sudut dekat gerbong yang ‘tak terpakai
Perempuan ber-makeup tebal
Dengan rokok di tangan
Menunggu tamunya datang

Berpisah dari ramai
Berteman nyamuk nakal
Dan segumpal harapan
Kapankah datang tuan berkantong tebal?

Habis berbatang-batang tuan belum datang
Dalam hati resah menjerit bimbang
Apakah esok hari anak-anakku dapat makan?
Oh Tuhan beri setetes rejeki

Dalam hati yang bimbang ku berdoa
Beri terang jalan anak hamba
Kabulkanlah Tuhan

[Iwan Fals, Doa Pengobrol Dosa]

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

ISIS: Dipuja atau Dihindari? …

Baskoro Endrawan | | 26 July 2014 | 02:00

Quo Vadis Jakarta Baru? …

Shendy Adam | | 25 July 2014 | 14:41

Sensasi Rafting di Kali Oyo Gunungkidul …

Tri Lokon | | 25 July 2014 | 15:27

Keras, Tegas dan Tajam Suara Politik di …

Hendrik Riyanto | | 25 July 2014 | 12:45

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Legitimasi Pilpres 2014, Gugatan ke MK dan …

Michael Sendow | 10 jam lalu

Risma dan Emil Lebih Amanah Dibanding …

Leviana | 10 jam lalu

Analisis Prosedur Sengketa Hasil Pilpres …

Muhammad Ali Husein | 11 jam lalu

Jokowi: The First Heavy Metal’s …

Severus Trianto | 13 jam lalu

Dilema MK …

Akhmad Yunianto | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: