Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Philip Ayus

menjaga kewarasan lewat tulisan | twitter: @tweetspiring.

Dicari: Budak Seks

OPINI | 09 June 2011 | 01:52 Dibaca: 551   Komentar: 17   0

Salwa al-Mutairi/sassywire

Salwa al-Mutairi/sassywire

SETELAH berita heboh tentang Klub Istri Taat Suami di tetangga sebelah, ada berita yang lebih heboh lagi di Kuwait. Adalah Salwa al-Mutairi, seorang politikus perempuan asal Kuwait, yang menganjurkan perdagangan wanita untuk dijadikan sebagai budak seks bagi suami yang kaya, punya nafsu seks di atas normal, dan tak ingin berzinah (dengan tetangga atau pembantu).

Budak seks itu, katanya, merupakan antisipasi jika sang istri berhalangan. Lebih lanjut, ia juga mengatakan bahwa budak seks itu haruslah didapatkan dari negara-negara yang sedang berperang, karena mereka haruslah berstatus tawanan perang. “Tidak ada yang memalukan dan (budak seks) ini tidak haram menurut hukum Islam,” katanya.

Salwa menganjurkan perdagangan budak seks ini dilegalkan seperti perdagangan (?) pembantu rumah tangga. Ia mengklaim bahwa idenya tersebut mendapat dukungan dari sejumlah mufti di Arab Saudi. Meski demikian, ia mensyaratkan bahwa usia budak seks itu haruslah lebih dari 15 tahun.

Saya tidak tahu apa definisi “zina” menurut politisi wanita ini atau menurut kamus bahasa Arab yang dipakai di Kuwait, tapi kata Guru saya, bahkan membayangkan hubungan seks dengan wanita yang bukan istri pun sudah termasuk zina. Kalau menurut kamus, zina itu (1) perbuatan bersanggama antara laki-laki dan perempuan yg tidak terikat oleh hubungan pernikahan (perkawinan) dan atau (2) perbuatan bersanggama seorang laki-laki yg terikat perkawinan dng seorang perempuan yg bukan istrinya, atau seorang perempuan yg terikat perkawinan dng seorang laki-laki yg bukan suaminya.

Jadi, dalam kacamata saya, Salwa menganjurkan tips menjauhi zina dengan cara… berzina.

Seandainya ide itu diterapkan, ada beberapa kemungkinan yang muncul menurut pendapat saya. Pertama, tingkat “human trafficking” pasti naik tajam. Perempuan pun menjadi seperti barang dagangan yang dipajang di etalase, dengan label “halal” tentunya.

Kemudian, setelah perang usai atau setelah  ”stok” wanita yang tinggal di wilayah perang habis, para “pengusaha” perdagangan wanita akan mengupayakan salah satu atau semua dari kedua cara ini: (1) Memulai perang kembali dan atau (2) “mengimpor” budak seks dari negeri lain, terutama negara-negara di dunia ketiga seperti Indonesia. Makin banyak perang, makin untunglah mereka.

Saya tidak tahu dengan pendapat anda, tapi saya pikir wanita ini perlu diperiksakan ke psikiater. Ia yang notabene adalah seorang wanita, justru menganjurkan perdagangan atas kaumnya sendiri. Meski ia mengatakan bahwa daripada mati sia-sia karena kelaparan akibat perang, (para wanita) lebih baik menjadi budak seks dengan hidup terjamin dan aman, saya pikir wanita manapun yang masih “waras” akan lebih memilih langkah sebaliknya.

Salam waras.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hari Pusaka Dunia, Menghargai Warisan …

Puri Areta | | 19 April 2014 | 13:14

Pengakuan Mantan Murid JIS: Beberapa Guru …

Ilyani Sudardjat | | 19 April 2014 | 20:37

Keluar Uang 460 Dollar Singapura Gigi Masih …

Posma Siahaan | | 19 April 2014 | 13:21

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: