Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Michael Sendow

Redaktur Majalah Infosulut. Writer. Trainer & Motivator. As long as you are still alive, you selengkapnya

Orang Miskin di Indonesia

HL | 26 May 2011 | 20:32 Dibaca: 1861   Komentar: 53   10

130640075893242658

Ilustrasi-Kemiskinan/Admin (Hendra Agus Setyawan/KOMPAS)

Menurut Wikipedia kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan.

Memang arti kata “miskin” itu sangat luas. Kita bisa miskin secara ekonomi, miskin pergaulan atau interaksi sosial, miskin kesempatan dalam dunia politik, miskin pengetahuan, dan masih banyak lagi. Tapi dalam tulisan ini, kemiskinan yang saya maksud adalah kemiskinan dari segi ekonomi. Dari segi pemenuhan kebutuhan hidup.

Bank Dunia membagi kemiskinan kepada dua kelompok kategori yaitu: Kemiskinan Absolut dan Kemiskinan Relatif. Absolute Poverty adalah kemiskinan yang standardnya konsisten, tidak terpengaruh oleh waktu dan tempat. Sebuah contoh dari pengukuran absolut adalah persentase dari populasi yang makan dibawah jumlah yang cukup untuk menopang kebutuhan tubuh manusia.

Lebih lugas lagi Bank Dunia mengatakan kemiskinan absolut adalah yang hidup dengan pendapatan di bawah 1 USD (Rp.8,500) per hari. Kalau kemiskinan menengah adalah yang pendapatannya di bawah 2 USD (Rp. 17,000) per harinya.

Presiden Indonesia sudah berganti-ganti, dan selalu ada program yang ingin dicapai dan terus didengung-dengungkan. Apa itu? Banyak yang menyebutnya sebagai program pengentasan kemiskinan. Menurut beberapa orang istilah tersebut sebenarnya salah kaprah, sebab “pengentasan kemiskinan” lain dengan “pengentasan orang miskin”. Karena bukan kemiskinannya yang harus di”entas”kan (diangkat), melainkan orang-orang miskin itulah yang mesti diangkat, ditolong atau kita “entas”kan. Tapi sudahlah, itu hanya istilah. Yang terpenting memang bukanlah istilahnya, melainkan tindakannya.

Kalau saya ditanya teman orang asing, “Indonesia itu kaya atau miskin?” Saya terkadang bingung menjawabnya. Sebab di satu pihak, negeri kita ini kaya raya. Istilah yang sering dipakai Bung Karno dulu: gemah ripah loh jinawi. Namun, yang sungguh ironis dan menyedihkan adalah bahwa negerinya kaya, namun penduduknya miskin. Ibarat ayam yang mati kelaparan di lumbung padi.

Kemiskinan memang bukan cuma “milik” Indonesia. Di negara semaju apapun pasti ada penduduk miskinnya. Walau sering ukuran yang mereka pakai berbeda. Di Amerika, orang yang memakai mobil pun masih bisa di golongkan miskin, itu karena standard hidupnya berbeda. Bayangkan, Amerika yang adalah negara dengan pendapatan per kapita terkaya di dunia pun masih memiliki jutaan masyarakat yang diistilahkan sebagai pekerja miskin. Gaji tukang sapu di lingkungan apartemen kami saja 10 USD per jam setara 80 USD per hari (8 jam kerja). Kalau dirupiahkan memakai kurs Rp.8,500. = Rp. 680.000 per hari! Ia masih digolongkan sebagai pekerja miskin. Untuk perbandingannya, seorang akuntan atau pengacara bisa berpenghasilan sampai 15 ribu USD perbulan.

Bagaimana dengan Indonesia? Menurut data BPS jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan) di Indonesia pada tahun 2010 mencapai 31,02 juta. Katanya sih turun 1,51 juta dibandingkan dengan penduduk miskin pada tahun 2009 yaitu sebesar 32,53 juta. Dengan pemetaan bahwa jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan berkurang sebanyak 0,81 juta orang dibanding tahun 2009 yang berjumlah 11,91 juta dan di daerah pedesaan berkurang 0.69 juta orang dari jumlah 20,62 juta.

Karena penurunan jumlah orang miskin itulah maka ada yang mengatakan: “Syukur, penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan tinggal 31 juta orang!” Memang “syukur” bila dibanding beberapa tahun lalu. Tetapi 31 juta orang kok “tinggal”? Bukankah itu masih teramat banyak? Banyaknya jumlah orang miskin itu kalau ditotal bisa merupakan gabungan dari jumlah seluruh penduduk dari beberapa kota disatukan. Ringkasnya, 31 Juta itu masih banyak sekali.

Lalu mari kita coba menelisik dari mana atau ukuran apa yang dipakai untuk mendapat angka 31 juta itu? Ukurannya ternyata adalah “kebutuhan fisik minimum”. Apa itu kebutuhan fisik minimum? Artinya penilaian itu berdasarkan hal-hal yang masih bisa diperoleh orang miskin sekedar supaya ia tidak meninggal. Jadi, untuk memenuhi kebutuhan sekedar supaya tidak meninggal saja 31 juta saudara-saudara kita itu sudah sangat tidak mampu. Lebih gampangnya, untuk makan dan minum selama sebulan. Sepertinya telur itu sudah di ujung tanduk. Sangat rentan. Mungkin untuk bertahan hidup hanya berharap belas kasihan orang. Sangat miskin.

Nah, apakah yang di luar 31 juta orang itu dengan demikian sudah tidak miskin lagi? Belum tentu! Sebab di negeri kita ini, tidak kurang dari puluhan juta rakyat kita masih berpenghasilan kurang dari 10.000 rupiah sehari (atau kalau di hitung pakai dollar, itu berarti kurang dari 2 dollar per hari. Gaji mereka sebulan sama dengan seorang tukang sapu sampah di Amerika bekerja untuk 1 jam). Jadi, dari total jumlah penduduk Indonesia, ada puluhan juta yang masih dapat digolongkan miskin. Tidak sangat miskin, tapi tetap masih miskin. Contoh lain menurut BPS jumlah penduduk yang mendapatkan jatah beras miskin yaitu 17,5 juta keluarga. Sekarang mari kita berandai-andai, atau berasumsi. Sebab dalam satu keluarga pastilah mereka memiliki anak, ada yang satu, dua, lima, delapan atau bahkan sepuluh anak. Jika kita asumsikan saja bahwa satu keluarga beranggotakan empat orang, maka sesungguhnya jumlah orang miskin di Indonesia sebanyak 70 juta jiwa (17,5 x 4). Itu baru jumlah dari yang mendapat jatah beras miskin.

Yang menjadi persoalan juga bukan hanya kemiskinan itu sendiri, tapi juga kesenjangan yang sangat kentara dan sungguh menyakitkan hati antara yang kaya dan yang miskin. Gapnya terlalu besar. Ada jutaan rakyat yang untuk memperolah 100 ribu per bulan saja begitu sulitnya. Ada jutaan lainnya yang pengeluaran per bulan tidak lebih dari Rp211.726 (batas garis kemiskinan), sementara itu ada beberapa gelintir orang kredit macetnya saja puluhan triliun. Belum lagi yang melarikan uang negara (baca: uang rakyat) ke luar negeri. Korupsi uang negara dan masih banyak tindakan tidak terpuji lainnya.

Bagi saya pribadi, perbedaan antara orang kaya dan miskin itu wajar-wajar saya. Yang tidak wajar adalah kesenjangan yang mencolok. Apalagi kalau kesenjangan itu disebabkan oleh ketidakadilan.

Perbedaan boleh. Itu wajar. Yang menjadi kurang bijak dan tidak dikehendaki adalah kesenjangan PLUS ketidak-pedulian dan ketidakadilan. Orang kaya untuk check up kesehatan saja pergi ke Amerika. Tentu saja tidak ada larangan, karena itu uangnya sendiri. Yang disesalkan kalau ia sama sekali tidak peduli terhadap sesamanya.

Sistem kita banyak yang tidak adil, karena cenderung melindungi yang kuat dan mengorbankan yang lemah. Di pasar-pasar swalayan yang besar, para petani sayur, petani buah, pengusaha-pengusaha kecillah yang memberi utang atau kredit kepada para konglomerat, dengan menitip barang dalam bentuk konsinyasi. Jadi, si konglomerat cuma anteng-anteng saja dan terima untungnya doang, sedang yang kecil-kecil yang sudah banting tulang harus menanggung ruginya.

Mungkin saja masih ada harapan-harapan yang tersisa kedepannya. Harapan-harapan tentang Indonesia yang “mengentaskan orang miskin”. Indonesia yang peduli sesama. Indonesia yang memperjuangkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Memperjuangkan keadilan sosial dan keadilan ekonomi.

Di Eropa sudah sejak jaman pertengahan ada pendekatan masyarakat Eropa dalam memberikan bantuan langsung kepada orang miskin. Ada juga bantuan terhadap individu dalam rangka mengubah situasi orang miskin tersebut secara perorangan termasuk juga masalah hukum, pendidikan, pencarian kerja, pemberian kesempatan usaha dan masih banyak lagi. Tapi perwakilan kita yang bernama DPR lain. Mereka “memberikan bantuan” kepada rakyat miskin yang mereka wakili dengan “jalan-jalan” dalam rangka mempelajari tentang kemiskinan. Belajar bagaimana mengentaskan orang miskin ke Australia dan China dan entah di mana lagi. Sekarang mereka sudah pulang, tinggal tunggu hasilnya! Karena 30-70 juta orang miskin di Indonesia tentu berharap banget wakil mereka yang sudah pergi belajar di Australia dan China akan membantu mengentaskan mereka. Bukankah ilmu yang diperoleh harus diterapkan?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 14 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 15 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 16 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 17 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Kabinet Jokowi …

Jamaluddin Mohammad | 10 jam lalu

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | 15 jam lalu

Hanya Tontowi/Liliyana di Final Perancis …

Sapardiyono | 15 jam lalu

Pilih Steak Sapi New Zealand Atau Ramen …

Benny Rhamdani | 15 jam lalu

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | 16 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: