Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

August Hnedri

Menyatukan kekuatan budaya daratan/pedalaman & lautan/pesisir, mjdi sebuah kekuatan yg mendasar utk semua kalangan. selengkapnya

Kotu Kenek (1.08. Silek Siberakun atau Silek Pangian?)

OPINI | 26 May 2011 | 21:24 Dibaca: 517   Komentar: 1   0

Generasi saya dan kawan-kawan sudah mulai kurang memahami dan menggunakan ‘petatah-petitih’ dalam interaksi sehari-hari. Paling mendoa anak pancar saja, itupun oleh ninik mamak yang terlatih berbidal saja, karena tugasnya.

Maksud dari pandai dan bisa berbidal disini adalah pandai berperibahasa, berbalas pantun dan berkias. Biasanya untuk mengungkapkan sesuatu agar lebih halus dan tidak terlalu menyinggung atau mengena langsung pada sasaran yang hendak dikatakan.

Seperti berikut ini; ‘Duduak basompik-sompik, duduak basamo balapang-lapang.”

Ada makna konotasi dan bukan arti secara harfiahnya atau makna sebenarnya. Pengertiannya, sesuatu itu akan menjadi lebih mudah dikerjakan, dilakukan bila dikerjakan bersama-sama. Samolah dengan bergotong-royong, kalau di Kuansing istilahnya ‘Batobo.’ Karena itu lahir ‘Basatu Nogori Maju’ sebagai nafas ‘brand’ Kuansing menuju masa depan yang cerah.

Banyak kampuang-kampuang yang sudah melupakan tradisi batobo ini, terutama desa yang sudah menjadi kelurahan, sudah berbudaya kekotaan. Begitu pula bila kelurahan itu berubah menjadi kota kecamatan. Paling yang masih tersisa, betobo ketika mencari kayu, maelo jaluar, hingga mandiang jaluar. Peran individualis meruntuhkan yang di masa lalu merupakan pemberdayaan yang bersifat keekonomian.

Cukup membanggakan, saat ini, di darek (kampuang-kampuang) dan daerah transmigran (seperti Teratak dan Beringin Jaya), tradisi betobo masih dingiangkan oleh yang muda-muda, terutama ketika membuat kobun karet basamo, merintis lahan basamo, menebas lahan basamo (Namun setelah itu, jangan pula dijual tanah tu.)

Sebagai yang disebut ‘anak silek’ menjelang terhitung beberapa hari lagi puasa datang, kami pun mesti bagotong-royong membersihkan ‘laman’ silek. Mencari pagar pembatas dan janur sebagai penghias laman silek. Kami bahu-membahu, dan merasa senang hati bila laman sudah bersih, indah, dan siapĀ  pakai buat bulan puasa sebagai tempat belajar dan latihan pada habis tarawih, hingga dinihari bagi yang tua-tua dan para pendekar.

Sebenarnya waktu keseharian saya banyak di darek daripada di baruah, asyik berkawan dengan Pobo dan Lipo. Sayang, di darek Lipo dan Pobo juga enggan belajar silek.

Padahal di darek juga ada laman dan perguruan silek sendiri, tapi bukan silek pangian. Biasa kami di darek secara inti silek disebut ’silek harimau’ Konon, untuk mendapatkan ilmu pamungkas Silek, mesti bertarung dengan seekor harimau. Kalau harimau itu kalah, maka layaklah ia menjadi seorang pendekar. Desa Sentajo dan Teratak Air Hitam merupakan pewaris dan penyebar silek ini. Dua desa yang serumpun secara asal muasal.

Selain di dua desa itu, silek ini juga berkembang di daerah transmigrasi, jauh lebih ke darek lagi. sama tahu kita, daerah transmigran, pasti dulunya daerah hutan yang dijadikan pemukiman.

Karena orang kuansing mengikut garis matriakal (garis keturunan ibu), maka oleh Paman saya disarankan masuk silek di baruah saja. Kata Paman, ‘Silek ini dipegang, disebarkan oleh keturunan kita di kampung ini dan yang boleh mewarisi sebagai suhu/guru juga harus dari suku kita,’ kata Paman kala itu memberi alasan.

Cerita dari Omak, ”Di Siberakun pada mulanya suhu silek pertama di Kenegerian ini bernama Datuk Baromban (juga Pangian), orangnya besar dan tinggi. Setelah beliau wafat baru ‘turun’ ke Datuak Onsha, dan kemudian Mak Sutan. Mereka bertiga semua bergelar ‘Jiusu”

Lanjut Omak,”Nah, sekarang Jiusu ke-empat belum ditetapkan, karena salah seorang pewaris dari garis keturunan dan suku yang sama, masih menolak untuk ditetapkan sebagai Jiusu silek Kenegerian ini.”

(Nama suku yang dimaksud adalah bernama suku Caromin. Bagi penduduk Kuansing, suku ini memang tidak begitu familiar. Sebarannya hanya ada di Siberakun, Simandolak, dan Pangian. Ada juga yang sampai ke Cerenti karena menghilir/merantau tetap menamakan suku yang sama. Berbeda yang merantau ke Tanah Darek, Perhentian Luas. Suku Caromin yang lari dari Siberakun karena ‘menju-u’ di sana mereka membuat nama suku sendiri yang disebut suku delapan. Karena memang awalnya mereka lari ke tanah darek berjumlah delapan orang.)

Siapa yang menetapkan salah seseorang yang dikira sebagai pewaris sebagai Jiusu? Yang berhak menetapkannya adalah ‘urang godang silek’ (leluhur) melalui mimpi dan ‘kedatangan’ (maaf penulis tidak bisa menceritakan lebih lanjut)

”Sebenarnya, antara Silek Pangian dan Silek Siberakun itu adalah satu induk dari guru/suhu/Jiusu yang sama dan pusat Silek yang sama, yakni Koto Tuo Ngarai Pulau Kalimanting. Di Koto Tuo ngarailah kuburan orang pertama kali mengajarkan dan sekaligus ‘orang besar’ Silek ini dikuburkan, dan hingga kini, kuburan itulah yang harus di ziarahi (keramat) baik oleh anak silek dari Pangian, Simandolak, maupun anak silek dari Siberakun,” begitu cerita yang Omak dapek dari Ayahnya, Abdurrahman Ali (Tokoh pejuang bersetifikat Pamong desa dari kabupaten ‘Indragiri’ dan menjabat Kepala Kenegerian Siberakun selama 24 tahun sejak penjajahan Belanda hingga kemerdekaan. Ketika itu belum ada pemisahan antara Indragiri Hilir dan Hulu, dan masih beribukota Rengat)

Lalu kenapa disebut ‘Silek Pangian’?

”Kabukik samo mandapek angin, ka lurah samo mandapek aeir.” Mungkin peribahasa ini bisa menjawab dari pertanyaan itu. Agar sama-sama adil, maka oleh jiusu pertama silek itu diberi nama ’silek pangian’ sedangkan kuburan dan laman yang dituakan diletakan di Siberakun. Jadi, Pangian dapat nama, Siberakun menjadi pangkal mula silek lahir dan berkembang.

Perlu diketahui, Kenegerian Siberakun yakni tepatnya Desa Pulau Kalimanting merupakan berbatasan langsung dengan Kenegerian Pangian, sedangkan Kenegerian Simandolak sebagai peyangga. Sebagai penyangga tradisi silek, mereka juga ikut belajar silek yang sama. Konon, sebaran silek ini sampai ke Kota Teluk kuantan.

Bagian atau boleh dikatakan kurikulum silek ini bermula dari belajar di ‘laman’ setelah mahir di laman, baru kemudian belajar di rumah secara khusus. Adapun pamungkas dari ilmu tertinggi adalah dengan ujian (maaf belum bisa disebutkan)

Sebagai berita, saya pernah ’study tour’ ke Payakunbuh (waktu SMA), dalam perjalanan melewati daerah Lintau, rupanya ada kampung bernama ‘Pangian’ juga. Apakah ada hubungan antara Pangian Kuansing dan Lintau? (belum bisa menjawabnya)

”Lain lubuk, lain ikannya. Lain kampung, lain pula kebiasaannya” Ada Silek Siberakun, Silek Pangian, dan Silek Sentajo/Teratak. Apa generasi sekarang mau mempelajari atau mengembangkannya menjadi modren, tergantung para guru silek dan kemauan anak muda Kuansing untuk mempelajarinya kembali.

Perlu juga dukungan pemerintah daerah untuk mempertahankan tradisi ini. Misalnya membangun balai silek yang permanen, menyediakan pakaian seragam silek. Atau ada keterpaduan kerja sama pemerintah dan para pewaris silek. Misalnya, bagaimana caranya silek yang ada ini bisa masuk kurikulum muatan lokal atau muatan wajib ekstrakurikuler, baik dari tingkat SD sampai SMA. Sehingga ke depannya menjadi kearifan lokal dalam membentuk karakter/fisik pemuda Kuansing agar makin bersatu padu dan kuat melalui perguruan silek. Semoga. Mokasih

Baapo nuruik sanak?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cara Cermat Buang Sampah, yang Mungkin Dapat …

Tjiptadinata Effend... | | 21 October 2014 | 21:18

Rupiah Tiada Cacat …

Loved | | 17 October 2014 | 17:37

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Ekspektasi Rakyat terhadap Jokowi …

Fitri.y Yeye | | 21 October 2014 | 10:25

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46


TRENDING ARTICLES

Pak Prabowo, Sikap Anda Merusak Isi Kepala …

Eddy Mesakh | 4 jam lalu

Jamberoo itu Beda Total dengan Jambore …

Roselina Tjiptadina... | 5 jam lalu

Siapa Sengkuni? Amien Rais, Anda Atau Siapa? …

Erwin Alwazir | 11 jam lalu

Anang Hermansyah Hadiri Pesta Rakyat, Ahmad …

Sahroha Lumbanraja | 11 jam lalu

Jokowi Membuatku Menangis …

Fidiawati | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kindi: Fotografer Cilik …

Dewilailypurnamasar... | 8 jam lalu

Kuliner Bebek Mercon di Warung Komando Eko …

Sitti Rabiah | 8 jam lalu

Bersih Dusun Playen I dan II dari Kirab …

Tulus Jokosarwono | 9 jam lalu

“Ketika Rintik Hujan Itu Turun di …

Asep Rizal | 9 jam lalu

Inilah Pemenang Blog Reportase Test Ride …

Kompasiana | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: