Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Fatkhul Muin

Sepuluh tahun lalu berkecimpung memburu dan menulis berita namun saat ini berwiraswasta dan mengembangkan ekonomi selengkapnya

Mengungkap Kekeramatan Makam Maulana Kedungmalang Jepara

REP | 20 May 2011 | 04:07 Dibaca: 297   Komentar: 0   0

Hanafi dan nisan makam keramat itu

Jepara - Bagi warga desa Kedungmalang kecamatan Kedung kabupaten Jepara Makam Maulana atau lazim disebut “ Pundhen Sak Malang “ mempunyai kekuatan batin tersendiri, sehingga meski umurnya sudah ratusan tahun namun pundhen ini tetap di pundhi-pundhi. Selain di ziarahi warga setiap Kamis sore juga setahun sekali digelar acara “ Haul” yang dihadiri tidak hanya warga desa setempat namun warga desa tetangga lain ikut datang dan memeriahkan acara ini. Didalam cungkup yang di bangun baru beberapa bulan yang lalu ada tiga pasang batu nisan yang letak batu nisan cukup berjauhan daripada nisan sekarang. Selain itu kijing makamnya terbuat dari batu bata merah dengan ukuran besar-besar dan lebih besar dari pada batu bata sekarang. Dari batu nisan tersebut ada sumber yang mengatakan bahwa yang dimakamkan di tempat itu ada hubungan dengan kraton Cirebon karena di sana juga ditemukan batu nisan tersebut.

“ Saya tidak tahu dari mana 3 Maulana ini berasal karena dari kecil sampai sekarang kita tahu bahwa yang dimakamkan di sini adalah Auliya yang menyebarkan agama Islam di pesisir Jepara ini . Dulu makam ini tak ada cungkupnya namun karena perkembangan jaman kemudian di beri atap agar yang berziarah tidak kepanasan dan kehujanan “, ujar Hanafi putra Mbah Halimi yang kini menggantikan posisi sebagai juru kunci makam tua ini karena bapaknya telah Uzur.

Hanafi yang baru beberapa bulan menggantikan tugas bapaknya sebagai juru kunci makam mengemukakan, meskipun letak makam ini dipelosok desa namun beberapa warga dari luar desa banyak yang melakukan tirakat atau cari wangsit di makam ini. Mereka datang di malam Jum’at sendiri-sendiri atau kadang berombongan dengan mobil dengan tujuan mencari ketenangan batin dan juga keperluan khusus lainnya. Dia sebagai juru kunci hanyalah menunjukkan tempatnya saja seraya memberikan aturan-aturan yang harus dipenuhi sebelum mengadakan tirakat atau cari wangsit, diantaranya harus sopan bertindak dan bertutur kata. Hal itu dilakukan karena banyak peziarah yang melanggar aturan tersebut yang akhirnya mendapatkan balak.

“ Pernah ada salah satu peziarah yang menunjukkan rasa kesombongannya , maka ketika dia bertirakat disini dia seperti di dilingkari ular yang besar sehingga dia lari ketakutan dan minta pertolongan . Akhirnya dia minta maaf dan tak akan mengulanginya lagi “ , ujar Hanafi sambil menunjukkan salah satu batu nisan kuno itu.

Selain kejadian itu masih banyak kejadian lain yang menunjukkan kekeramatan Makam Maulana desa Kedungmalang ini , diantara yang sering dilakukan warga desa Kedungmalang terutama para nelayan jika mendapat musibah di laut . Keluarga yang mendapat musibah segera datang ke Makam dengan membawa ubo rampe untuk selamatan kemudian mereka berdo’a bersama memohon kepada Allah SWT lewat 3 Auliya tersebut . Setelah selamatan diadakan maka yang dilaut akhirnya mendapatkan keselamatan dari Allah SWT , meskipun perahunya tenggelam namun jiwanya bisa diselamatkan nelayan lain sehingga bisa dibawa pulang.

“ Oleh karena itu warga disini sangat menghormati dan mengkeramatkan pundhen ini , sehingga jika acara Haul digelar mereka tumplek blek memeriahkannya , apalagi anak-anak muda jika laut sedang ramai selain pengajian mereka juga menggelar acara karnavalan “, ujar hanafi menutup sua. (FM)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Andai Masyarakat Tangerang Selatan Sadar, …

Ngesti Setyo Moerni | | 28 November 2014 | 17:27

Dari (Catatan Harian) Kompasiana ke (Sudut …

Lizz | | 28 November 2014 | 16:22

Kampret Jebul: Rumah …

Kampretos | | 28 November 2014 | 15:50

Saran untuk Ahok Cegah Petaka Akibat 100 …

Tjiptadinata Effend... | | 28 November 2014 | 15:30

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46


TRENDING ARTICLES

Indonesia VS Laos 5-1: Panggung Evan Dimas …

Palti Hutabarat | 9 jam lalu

Timnas Menang Besar ( Penyesalan Alfred …

Suci Handayani | 9 jam lalu

Terima Kasih Evan Dimas… …

Rusmin Sopian | 11 jam lalu

Kongkalikong Dokter dengan Perusahaan Obat …

Wahyu Triasmara | 16 jam lalu

Hampir Saja Saya Termakan Rayuan Banci …

Muslihudin El Hasan... | 18 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Jonru Murka #KJM …

Alan Budiman | 9 jam lalu

Kartu Kredit: Perlu atau Tidak …

Wahyu Indra Sukma | 9 jam lalu

Gerakan Desa Membangun: Sebuah Paradigma …

Yulio Victory | 10 jam lalu

Berbagai Pandangan “Era Baru Polri Dibawah …

Imam Kodri | 10 jam lalu

Anak Madrasah Juara 1 Olimpiade Indonesia …

Ahmad Imam Satriya | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: