
cranky doctoral student. currently residing in Taipei. her Twitter account: @mcitraningrum. follow her. or not.
Dibaca: 2143
Komentar: 53
3 dari 6 Kompasianer menilai inspiratif

Enak ya kuliah di luar negeri, begitu yang sering diucapkan teman-teman atau orang yang saya kenal ketika mereka tahu saya kuliah di luar negeri. Klasik. Kalau berbicara soal enaknya, memang banyak hal menyenangkan yang bisa saya bagikan tentang Taipei (dan Taiwan), bedanya dengan Indonesia, apa yang membuat saya memutuskan untuk belajar di sana; tapi tidak, saya tidak ingin membahas tentang itu sekarang.
Yang ingin saya bahas adalah seperti tercantum pada judul di atas: wǒ shì yìnní rén, “saya orang Indonesia” dalam bahasa Mandarin.
Saya termasuk penggemar masakan ibu. Siapa yang tidak? Satu hal yang membuat saya kangen berat dengan ibu sepanjang hampir tiga tahun saya tinggal di Taipei adalah sambel pecel-nya yang super pedas! Pedas tapi membuat ketagihan. Itu yang membuat saya selalu rindu rumah, dan betapa penuh pengertiannya ibu mengirimkan saya sambal buatannya.
Anyway, menjadi mahasiswa asing bukanlah suatu hal yang mudah. Semua hal yang kita lakukan akan diasosiasikan dengan Indonesia. Akan membanggakan bila itu hal-hal seperti prestasi yang baik atau keramahan. Tapi bila yang terjadi sebaliknya, nama Indonesia-lah yang akan tercoreng, misalnya ada yang melanggar peraturan di kampus, yang akan disebut bukan nama, melainkan that’s the Indonesian student who violates school’s rules.
Itulah yang membuat saya berusaha sebaik-baiknya untuk menjadi mahasiswa yang baik, yang berprestasi. Bukan hanya untuk saya atau keluarga saya, bukan hanya sebagai apresiasi atas beasiswa yang saya terima untuk belajar di kampus saya sekarang, lebih lagi karena nama baik Indonesia itu juga saya sandang. Supaya ketika saya bisa menjawab pertanyaan dosen di kelas dan beliau bertanya, are you international students?, saya bisa menjawab dengan bangga, yes, I am Indonesian, wǒ shì yìnní rén.
Satu kalimat singkat itu yang saya rasakan secara personal jauh lebih berarti dibandingkan dengan sesuatu yang sifatnya fisik. Pengakuan terhadap jati diri kita sebagai orang Indonesia. Tidak banyak orang Taiwan yang tahu di mana Indonesia, atau bertanya Indonesia dimananya Bali; meski Taiwan adalah negara tujuan pengiriman tenaga kerja dari Indonesia.
Dan kebanggaan terhadap Indonesia itulah semangat yang saya dan teman-teman dari Indonesia selalu bawa dalam keseharian kami sebagai mahasiswa di sini, di NTUST. Semangat pantang menyerah ketika saya harus menghadapi sekian banyak ujian yang sulit, eksperimen yang gagal, atau kesulitan beradaptasi dengan lingkungan. Saya termasuk orang yang ‘kaget’ dengan bagaimana cara profesor Taiwan mengajar atau bagaimana mahasiswa lokal belajar. Bagaimana kerasnya persyaratan yang harus saya penuhi untuk mempertahankan beasiswa dan kelangsungan studi saya di sini. Bagaimana sulitnya belajar bahasa dan berkomunikasi dengan masyarakat lokal Taiwan. Tapi saya datang kesini bukan untuk menyerah. Saya tidak akan lupa bahwa saya kesini membawa nama keluarga, alamamater, dan nama Indonesia. Saya harus tetap berusaha, tetap penuh semangat menjalani masa studi saya. Dan saya bahagia, karena saya diterima dengan tangan terbuka, didukung penuh oleh staf pengajar dan teman-teman mahasiswa Taiwan di sini.
Semangat yang saya miliki tidak hanya semangat belajar, tapi juga semangat memperkenalkan Indonesia dan budayanya yang melimpah ke masyarakat Taiwan. Bukan hanya satu dua kali, tapi lima tahun berturut-turut NTUST Office of International Affair mendukung adanya Indonesian Culture Exhibition, satu atau dua hari penuh dimana kami, mahasiswa Indonesia, menyuguhkan pameran dan pertunjukan budaya Indonesia. Saya dan teman-teman memang bukan penari profesional atau pakar budaya, tapi kami berlatih dengan sarana yang ada dan berusaha mempersembahkan yang terbaik dari kami untuk Indonesia. Untuk kebanggaan yang terselip dari kata-kata I am Indonesia, saya orang Indonesia, wǒ shì yìnní rén.


Bukan uang yang bisa kami sumbangkan, bukan pula emas berlian. Hanya wajah lelah tapi penuh kebanggaan, di sela lagu dan tarian, yang kami persembahkan untuk tanah air dan kampung halaman, Indonesia, yang tak pernah lekang dari ingatan.
Saya orang Indonesia. Dan saya sungguh bangga karenanya.