Kompasiana
Kamis, 23 Pebruari 2012

Sosbud

Jadikan Teman | Kirim Pesan

Maifil Eka Putra

Kita berduka karena bencana yang melanda tanah ibu kita.

Nestapa Mantan Wartawan Istana (1)

REP | 19 May 2011 | 10:23 609 5 1 dari 1 Kompasianer menilai inspiratif

13057748091499099682

Sudirman Hala sedang diperiksa Irfan, Perawat LKC-Dompet Dhuafa

Dua bulan yang lalu, (29/3) handphone dengan nomor Simpati-ku berdering, dari ujung telepon aku diperintahkan langsung oleh Direktur Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa (LKC-DD) dr. Yahmin Setiawan, MARS untuk menindaklanjuti sebuah “Panggilan Darurat Kemiskinan” (PDK) — begitu kami memanggilnya kalau ada yang membutuhkan bantuan segera terhadap penyakit yang diderita kaum dhuafa– Aku dan tim diperintahkan meluncur segera ke sebuah rumah di Cimanggis, Depok.

Sudah menjadi amanah bagi kami, jika ada mendapat info tentang orang miskin yang tergolek sakit dan tidak mampu berobat serta tidak ada yang membantunya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak, kami tim  PDK LKC-DD segera melucur dalam bentuk reaksi cepat tanggap.

Begitu pun hari itu, saya dan tim yang didukung perawat dan tim verifikasi kepesertaan LKC-DD menuju rumah yang dimaksud, dengan menggunakan ambulance kami sudah siap untuk mengevakusi pasien ke LKC-DD di Ciputat jika memang harus diperlukan perawatan intensif.

Sepanjang jalan kami berpikir dan sempat menjadi perdebatan di antara kami, apakah benar yang akan kita bantu ini orang dhuafa, sementara ia tinggal di kawasan komplek perumahan Departemen Penerangan RI, RRI di Depok tersebut. Pikiran ini berkecamuk, karena LKC-DD hanya diberi amanah untuk mengobati orang dhuafa secara cuma-cuma dengan  biaya yang dikeluarkan dari uang zakat yang dititipkan melalui Dompet Dhuafa.

Sejenak amukan pikiran ini kami kesampingkan, roda ambulance terus menggelinding menuju rumah tersebut, dan sengaja supir ambulance menancap gas di atas normal karena kami mendapat khabar orang yang akan kami bantu ini memiliki tumor di leher dan sudah meletus, cairan bercampur  darah tak berhenti mengalir, sementara ia sudah berbulan-bulan tidak berobat ke rumah sakit karena alasan yang belum kami ketahui sebabnya.

Kami sampai di rumah yang dituju, sudah mendekati waktu ashar. Seorang lelaki sudah berdiri di depan pintu karena mengetahui kami datang. Ia mempersilahkan kami masuk ke rumah. Setelah duduk kami berbincang dengan lelaki tersebut. Ternyata Ia-lah pasien yang dimaksud, tangannya sibuk dengan tisu menyeka cairan yang keluar dari hidung dan dari tumor di lehernya.

“Saya senang sekali, orang LKC datang, saya sudah 3 bulan tidak bertemu orang selain keluarga saya. Sangat rindu saya berbincang-bincang dengan orang lain, ” begitulah ungkapan pertama yang kami dengar di awal perbincangan itu.

1305775339891719956

Foto-foto Sudirman Hala dengan mantan Presiden yang terpampang di ruang tamu rumahnya

Sejenak ia kembali disibukkan dengan menyeka cairan yang mengalir dari hidung dan leher, saya pun melihat ke dinding ruang tamu rumahnya itu. Ruangan itu penuh dengan foto-foto yang bersangkutan dengan mantan-mantan presiden. Sebuat saja fotonya dengan Mantan Presiden Suharto, Mantan Presiden Abdurrahman Wahid, Mantan Presiden Habibie, Presiden Susilo Bambang Yudoyono dan Mantan Presiden Palestina Yaser Arafat. Hanya dengan Mantan Presiden Megawati saja yang saya lihat tidak terpampang di sana.

“Kayaknya bapak dekat dengan istana, karena bisa berfoto dengan semua presiden?,” tanya saya.

“O… Saya dulu berkerja sebagai seorang wartawan Radio Republik Indonesia (RRI)  yang bertugas di Istana, nama saya Sudirman Hala” jelasnya.

Mendengar jawabanya, kami pun maklum dan jelas saja ia bisa berfoto dan juga akrab dengan pejabat negara, presiden, menteri, dll. Tentunya juga ia punya kenangan yang luar biasa di sana, ia mungkin juga saksi sejarah suksesi beberapa penguasa di negeri ini dan ia juga saksi sejarah keburukan dan kebaikan dari prilaku pejabat tinggi yang pernah dekat dengannya di negara ini. Serta setumpuk kenangan lain yang tak ternilai harganya.

Begitu juga sesuai dengan setiap benda yang terpajang di lemari hiasnya di ruang tamu itu, tentunya masing-masingnya menyimpan berbagai kenangan dari setiap souvenir yang dia dapati dari setiap lawatannya ke luar negeri bersama pejabat negara tersebut. Sungguh ketika ia menjadi wartawan istana itu ia mendapat berbagai fasilitas yang tidak jauh beda dengan pejabat negara yang diikutinya dalam setiap lawatan, itu diketahui dari ceritanya kepada kami.

“Ini adalah sebuah prestasi yang jarang didapat oleh wartawan lain,” akunya.

Selain kunjungan negara,  ia juga ikut naik haji dengan perjalanan dinas beberapa kali, dan laporannya langsung dari Mekah itu menjadi cikal bakal acara RRI sebagai laporan lebaran. Ia pun menjadi kesayangan direktur RRI ketika itu karena banyak pejabat negara yang dekat dengannya.

“Tapi itu dulu, mas,” katanya.

Semuanya menjadi kenangan indah dan sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Bisa juga sebuah kebanggaan. Tapi kini, Sudirman Hala sudah pensiun tinggal di rumah dinas, dan belum memiliki rumah sendiri. Istana dan RRI sudah jauh darinya, ia hanya bisa menatap keduanya dari berita-berita televisi.

Bahkan, seperti ceritanya ketika kami datang, sudah 3 bulan ia tidak ketemu orang dan melakukan komunikasi. Sehari-hari yang menjadi hiburan baginya adalah 4 orang anak dan isterinya tercinta yang selalu setia mendampinginya. Anaknya 3 perempuan dan 1 laki-laki. Satu orang sudah sarjana tapi belum bekerja, satu masih kuliah, satu lagi masih SMK, dan terakhir laki-laki masih SD.

Ia mengaku tidak bisa pergi ke dokter, karena ia tidak punya kendaraan pribadi, kalau berpergian harus naik angkutan umum, cairan dari tumor dan hidungnya terus mengalir, bahkan kalau terlalu banyak goncangan, dari tumor itu keluar darah. Inilah yang merepotkan sehingga ia tidak bisa berpergian, disamping merepotkannya ia juga jadi malu karena kondisinya dan menjadi nggak enak dengan penumpang lain.

Disamping itu matanya juga tidak bisa melihat normal, kalau menyeberang jalan ia akan kerepotan, karena matanya tidak bisa melihat dengan jelas. Setiap benda yang ditengoknya, terlihat menjadi dua. Sehingga sehari-hari ia harus menutup matanya sebelah untuk mengurangi efek dari penyakit itu. Dia tidak tahu kenapa, penglihatannya menjadi begitu, seperti diakuinya penglihatan menjadi dua sejak ia kena penyakit sinusitis beberapa tahun yang lalu.

Itulah deritanya, dan khabar itu pula yang sampai pada kami LKC Dompet Dhuafa, sesuai amanah kami menawarkan perawatan untuk mantan wartawan ini. Diawali dengan pemeriksaan para medis di rumah itu dan kami berniat langsung mengevakuasinya ke klinik LKC di Ciputat, tapi berhubung kedatangan  kami yang mendadak ia minta waktu untuk membicarakannya dengan isteri dan anak-anaknya. - Bersambung


 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User



SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA:

About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar RSS
KOMPAS.com
© 2008 – 2012