Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Garaduz

..Garaduz untuk Grace..(✿◠‿◠)

Kunamakan Putraku Pattimura

REP | 18 May 2011 | 19:13 Dibaca: 716   Komentar: 19   0

13057019501689293203

Beta nama Pattimura


“Akan kunamakan dia Pattimura nanti..” jawaban itu spontan mendapat cemohan dari beberapa teman semasa kuliahku saat kami bersenda gurau dalam perjalanan di dalam mobil menuju pemakaman oma salah seorang teman kami pada Minggu, 15 Mei lalu, yang juga merupakan peringatan hari Pattimura, pahlawan terkenal asal Maluku.

“Kalau kamu, apa kamu berani menamakan anakmu Pattimura?” tantangku kepada teman wanita yang duduk lebih dekat denganku. Lagi-lagi mereka memberondongku dengan tawa. Katanya nama itu tidak keren.

“Kenapa? Pattimura kan pahlawan besar Maluku yang membawa arti penting kemerdakaan bagi kita dalam melawan aksi penjajahan!” bantahku.

“Tidaklah!” tegasnya sekali lagi.

“Nama Pattimura itu kan cuma julukan sebagai seorang kapitan. Aslinya kan dari Thomas Matulessy,” timpal seorang teman di samping kananku.

“Memangnya itu masalah? Mungkin tidak untuk nama depannya, tapi bisa jadi akan kupasangkan sebagai nama tengah putraku,” tegasnya. Lagi-lagi mereka tersenyum mengejek sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Mengapa orang Indonesia termasuk kita dari Maluku lebih sering mengambil nama yang berbau asing. Misalnya, nama-nama presiden Amerika, penemu, pemain sepakbola, pahlawan yang nota benenya bukan orang Indonesia. Bahkan mengusung nama para nabi dan rasul dalam kitab suci?” aku memancing dengan pertanyaan balik.

“Iya.. Tapi kan nama merupakan harapan orang tua kepada anak, jadi kita harus memilih nama yang baik,” jawab temanku yang pertama tadi.

“Memangnya Pattimura itu nama yang tidak baik? Apakah nama itu tidak mengandung suatu harapan yang baik?” bantahku. Dan kali ini mereka memilih diam sembari tersenyum, seakan menandaiku gila dengan pikiran-pikiran seperti ini.

*****

Demikian cuplikan percakapan singkat saya dengan beberapa teman pria dan wanita (dua diantaranya sudah berkeluarga) tentang pemberian nama anak. Belakangan ini, saya sering merasa heran dengan cara orang Indonesia menamakan nama putra-putri mereka. Memang setiap orang punya hak untuk melakukan hal itu (hak setiap orang tua), dimana nama dimaksud merupakan suatu doa dan harapan yang melekat pada seorang anak, agar kelak menjadi orang yang berguna sesuai dengan nama yang dilabelkan padanya. Sebagaimana ungkapan “apa arti sebuah nama” yang dipopulerkan William Shakespeare dalam karyanya Hamlet. Dan tentunya setiap orang (termasuk saya) pun berhak untuk menyampaikan buah pikiran yang berbeda tentang hal serupa. Bukankah itulah kebebasan berpendapat masing-masing pribadi selama tidak merugikan orang lain, bukan? Diterima boleh, tidak diterima pun no problem.

Mungkin pada lima dasawarsa lalu, nama-nama (kelas pahlawan Nusantara) seperti Yos Sudarso, Soekarno, Sudirman, Ahmad Yani, Soetomo, Agus Salim, Diponegoro masih pasaran. Tapi untuk era masa kini, apakah setiap orang tua merasa gengsi atau malu menamakan anaknya dengan serentetan nama seperti di atas? Adakah orang tua yang mau mencantumkan Hajar Dewantoro sebagai bagian nama buah hatinya? Ha ha ha.. Sabar dulu..

Umumnya (memang tidak semua) orang tua memilih nama-nama kebarat-baratan mulai dari nama para presiden Amerika, penemu, pemain sepakbola, bola basket, musisi dan lain-lain seperti Ronald, Reagan, Theodore, James, Michael, Michelle, Mychella, Leonardo, Harold, Allesandro, Messy, Jason, Jacky, Sheerlin, Carrol, Arnold, Deasy, Bobby, Gerard, Angelie. Ada pula Marcell, Marcelino, Imanuell, Joshua, Carolin, Mychella, Craig, Mariah. Katanya lebih berkelas, elegan, terkesan wah!

Belum lagi nama-nama yang diusung dari kitab suci, terutama yang disadur dari bahasa aslinya. Misalnya untuk nama-nama bayi Kristen (dari bahasa Yunani dan Ibrani asli maupun yang sudah dimodifikasi ke dalam bahasa Inggris maupun Indonesia) yang sering laris manis di internet maupun buku-buku, baik dari nama para nabi/rasul, tokoh-tokoh Kristen terkemuka, tempat-tempat suci dan sebagainya: Christania, Christo, Calvin, Nathaniel, Joachhim, Merry, Moses, David, Elizabeth, Hanoch, Mark, Jeremy, Jerome, Jonathan, Lucas, Matthew, Sharah dan seabrek nama lainnya. Lalu saya berpikir, kenapa tidak sekalian saja diberi nama Tuhan atau Yesus? Atau bisa dimodifikasi menjadi Tuhanito atau Yesuano? Toh, itu pun mengandung harapan. Dalam hal ini, nama Jesus (Yesus) banyak dipakai di negara-negara Amerika Latin dan sekitarnya. Atau mungkin penganut Kristiani di Indonesia merasa nama itu terlalu sakral untuk direkatkan pada anak mereka, mengingat keberadaan manusia sebagai insan berdosa?

Untuk nama-nama bayi Islam pun tak kalah kerennya dengan banyak mengusung bahasa Arab asli maupun yang sudah dimodifikasi sesuai kebutuhan dan kemajuan zaman seperti: Nabilah, Zahra, Rifky, Nauzillah, Sapna Faradila, Adelya Devita, Ainun Maharani, Muhammad Rizal Ramadhan, Tri Mufia, Aila Istiqomah, Annida Azzah Adinda, Riyadh, Muhammad Meyco, Nurlaila Rahmadan, Amin, Saskia Putri, Nurul Sakinah, Khairani, Nazwah, Marwah. Untuk nama-nama anak beragama Hindu, Budha dan Kong Hu Cu mungkin tidak terlalu menyolok.

Seringkali nama-nama itu di-copy-paste dari film atau sinetron favorit orang tua ataupun gabungan nama dari beberapa orang tua yang berkontribusi dalam kehidupan sang anak (oyang, buyut, opa, oma, tante, om atau teman baik si papa dan mama dll). Pengaruh penjajahan bangsa asing (Belanda, Inggris, Portugis – Jepang mungkin kurang) pada masa lalu di bumi Nusantara juga turut punya andil terhadap penamaan.

Mungkin karena kecanduan film-film Amerika Latin, anak-anak sepupu saya dinamai Tristan, Marcello dan terakhir si bungsu Miguel. Keren kan? Dua tahun lalu juga ketika kita saya mengikuti sebuah ibadah Baptisan Kudus di sebuah gereja di desa Paperu, Saparua, Maluku Tengah (Malteng), para jemaat tertawa terpingkal-pingkal saat pendeta membaptiskan seorang anak balita dengan dua buah nama unik. Saat nama pertama diucapkan, suasana masih biasa-biasa saja. Tapi saat nama kedua diucapkan, tawapun lepas, bahkan dari nenek-nenek renta yang duduk disamping saya. Tahukah anda, siapa nama anak itu? Israelo Soeharto.

Nah, dari penjelasan di atas, nyata tidak ada nama anak yang lebih bericiri Indonesianis. Mungkin dari marga atau nama belakang anak barulah ketahuan kalau dia anak Indonesia. Apa karena nama-nama para pahlawan dan sejenisnya itu terlalu kampungan? Tidak up to date? Atau karena kita maunya sok-sok luar negerilah makanya dipilih nama yang katanya keren itu.

Tapi memang tidak salahnya bila kita menggunakan nama-nama itu. Sekali lagi, itu merupakan hak masing-masing orang tua. Namun, saya sekadar menyampaikan usul untuk lebih meng-Indonesiakannya sebagai wujud cinta budaya Indonesia. Beberapa memang cocok bila dicerna secara mentah-mentah, tapi ada pula yang jadinya aneh dari segi penulisan dan penyebutannya.

So, bisa saja kita mentrasfernya dengan mengganti beberapa huruf seperti “ae” jadi “e”; “y” menjadi “i”; “ss” jadi “s” (berlaku sama untuk pendobelan huruf sama lainnya); “c” menjadi “k” (bila terletak di awal kata); “c” jadi “s” (bila terletak pertengahan kata); “j” jadi “y”.

Sebagai contoh, jadi seperti berikut ini:

Merry menjadi (=) Maria atau Meri

Clara = Klara

Theodore = Teodor

Michael = Mikael atau Maikel (kalau jadi Mike – dibaca versi Inggris, bisa jadi sang anak diejek teman-temannya sebagai mikrofon)

Michelle/Mychella = Misyel/Mikaela

Messy = Mesi

Jacky = Jeki

Sheerlin = Syerlin

Deasy = Desi

Bobby = Bobi

Angel/Angelie = Enjel/Enjeli (jadi ingat nama “Anjali” di salah satu film India yang pernah populer)

Marcell/Marcelina/Marcelino = Marsel/Marselina/Marselino

Joshua = Yosua

Christo /Christania = Kristo/Kristania

Calvin = Kalvin

Joachhim = Yoakim

Elizabeth = Elisabet

Hanoch = Hanok

Carrol = Karol/Kerol

Jeremy = Jeri, Yeremi

Jerome = Jero, Yero

Jonathan = Yonatan

Lucas = Lukas

Sharah = Sara, Sarah

Grace = Gres

Sekali lagi, ini hanya pendapat saya, usulan saya.. Boleh diterima, boleh tidak.. Beberapa contoh nama diatas pun bisa diplesetkan sesuai kesukaan dan kepribadian sang pemberi nama masing-masing orang tua.

Oh iya, saya juga teringat dengan nama Frans Indonesianus, salah satu artis Indonesia yang pernah naik daun. Nama yang ada Indonesianya. Dan ini pun pernah menjadi bahan diskusi ringan bersama seorang teman ketika sedang bersantai di kolam air mancur Pattimura Park, Ambon, Maluku, beberapa bulan silam.

1305702583252418469

Salah satu sisi Pattimura Park

Saya : “Mau tidak kalau nama anakmu ada embel-embel Indonesianya?”

Dia : “Yah, tergantung juga.. Seperti apa misalnya?”

Saya : “Ada kata Indonesia atau Ambonnya.. Misalnya kalau anak laki-laki Albert Indonesiano atau kalau anak perempuan jadinya Tiara Ambonia”
Dia : “Ha ha ha.. Ada-ada saja, tapi pasti dia akan jadi bahan lelucon teman-temannya.”

Saya : “Iya.. Karena anak itu berada diantara teman-temannya di negeri ini. Mungkin berbeda kesannya bila anak itu lahir atau bersekolah di luar negeri. Pasti akan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri menyandang nama yang berkaitan dengan kebangsaan atau sejarah kehidupannya.”

Dia : “He he he..”

Saya : “Susah juga ya? Tapi ingin juga..”

Dia : “Silahkan kalau kamu sudah menjadi ibu.”
Saya : “He he he.. Jangan lupa persetujuan ayahnya juga.”

Saya dan Dia : “Ha ha ha..”

Mari kita semakin meng-Indonesiakan Indonesia melalui penamaan anak-anak kita di masa yang akan datang. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi? Berani menerima tantangan ini? (*)

Tags: telkomsel

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Menjelajah Pulau Karang Terbesar di …

Dizzman | | 31 October 2014 | 22:32

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | | 31 October 2014 | 08:42

Hati Bersih dan Niat Lurus Awal Kesuksesan …

Agung Soni | | 01 November 2014 | 00:03

Rayakan Ultah Ke-24 JNE bersama Kompasiana …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 12:53


TRENDING ARTICLES

Susi Mania! …

Indria Salim | 5 jam lalu

Gadis-Gadis berlagak ‘Murahan’ di Panah …

Sahroha Lumbanraja | 7 jam lalu

Pramugari Cantik Pesawat Presiden Theresia …

Febrialdi | 9 jam lalu

Kerusakan Demokrasi di DPR, MK Harus Ikut …

Daniel H.t. | 10 jam lalu

Dari Pepih Nugraha Untuk Seneng Utami …

Seneng | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 8 jam lalu

Wakatobi, Potongan Surga yang Jatuh ke Bumi …

Arif Rahman | 8 jam lalu

Danau Poso, Keelokannya Melahirkan Rindu …

Jafar G Bua | 9 jam lalu

Politik Saling Sandera …

Salman Darwis | 11 jam lalu

Bank Papua, Sponsor Tunggal ISL Musim Depan …

Djarwopapua | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: