Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Ainul Yaqin

Mengajar di sebuah PTN di Yogyakarta, tinggal di pinggiran kota Yogyakarta yang di sekitarnya masih selengkapnya

Lampu Lalu Lintas “APILL”

OPINI | 15 May 2011 | 17:14 Dibaca: 162   Komentar: 0   0

Seperti biasa, di siang hari Yogyakarta panas, rasanya lebih panas dibanding suhu udara di Penjaringan Jakarta Utara. Semakin terasa panas, ketika Honda Supra yang ku tunggangi harus berhenti karena lampu alias Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas menyala merah.

“Pyuh”, ku menggerutu dalam hati merasakan panas terik menembus jacket Levi’s bututku.

“hhhmmm wuuuhhh”… “pantas saja panasnya menyengat, jarum panjang di arloji yang melingkar di tangan kiriku menunjuk pada angka 12.30.” lanjutku dalam hati sambil meniupkan mulut untuk mengusir gerah.

“Count down Digital display”, penghitung mundur yang berfungsi menunjukkan berapa lama seorang pengendara harus berhenti masih menunjukkan angka 250 dari 300 detik. Sepertinya aku paling tidak suka “terjebak” lamp merah di perempatan antara jalan Magelang dan Godean ini, Untung saja aku tidak sedang sakit gigi atau kebelet mau buang air.

“Huhhh”, kembali aku menggerutu dalam hati, kenapa dinas perhubungan hanya memasang papan “display” digital, kenapa tidak sekalian memasang televisi besar dengan “sound system” yang ok. Jadi, kalau lampu merah menyala, maka televisi juga ikut menyala menayangkan hiburan gratis bagi para pengguna jalan.

Misalkan, secara otomatis televisi itu menayangkan Soneta Group yang mendendangkan lagu “Santai” atau Rosa yang menyanyikan lagu “Ku Menunggu”.

Tentunya, lagu atau hiburan yang diputar di lampu merah itu bukan sembarang lagu. Lagu “santai” dari Bang Roma atau “Ku menungu” dari tante Rosa, sebagai contoh, sangat layak diputar karena mengandung makna “filosofis” agar para pengendara santaiti, dak tegang dan rela bersabar menunggu lampu merah menjadi hijau meski hitungan mundurnya dimulai dari angka 300 detik.

Lagu-lagu yang berpotensi menyulut emosi seperti “Kill Them All” dari Metallica, “We are the Champion” dari Queen yang biasa dipakai dalam kompetisi olahraga balap motor, atau lagu campursari “Minggat; Ndang Balio Sri” yang bercerita tentang seorang istri yang pergi tanpa pamit sebaiknya tidak diputar di layar hiburan itu, karena dikhawatirkan dapat meningkatkan emosi negative para pengendara. Bisa dibayangkan bila mereka “emosi” sehingga membuat mereka berlagak seperti pembalap “Road Race” atau F1.

Ya, seperti yang telah diterapkan oleh beberapa pemerintah daerah, layar elektronik besar seperti di Bundaran HI Jakarta Pusat, perempatan Gardu Listrik di Malioboro Yogyakarta, Simpang Lima Semarang atau di beberapa tempat strategis di kota-kota besar lainnya tentu dapat mengendorkan ketegangan para pengendara di tengah “kesemrawutan” lalu lintas. Tapi, sekarang, layar-layar besar itu mayoritas tidak berfungsi.

Sayangnya, selain sering mati, iklan-iklan yang ditayangkan di layar raksasa itu biasanya semakin membikin para pengendara pusing. Jujur saja, mayoritas pengguna jalan raya biasanya “integral” dengan kondisi sosio-ekonomi mayoritas masyarakat kita yang kebanyakan berasal dari kelas menengah ke bawah.

Maka, bisa jadi iklan mobil mewah yang harganya di atas 500jt dapat membuat jengkel para pengendara motor atau pengendara mobil butut yang kepanasan karena ACnya mati atau semakin menumbuhkan rasa frustasi para pengendara motor “se-umur hidup” karena kebanyakan dari mereka “optimis” tidak bakalan mampu membeli mobil mewah tersebut.

Atau iklan “mansion” mewah yang berpotensi tidak hanya membuat pengendara dari kalangan bawah males pulang kembali ke rumahnya di pinggiran kali Ciliwung atau di perkampungan kumuh di pinggiran Jakarta, tapi juga dapat membuat kalangan menengah/atas pusing tujuh keliling teringat wajah seram “debt collector” yang akan menagih cicilan “mansionnya” yang belum terbayar, atau membikin pusing “pengusaha” dan politisi kelas tinggi yang teringat “istri simpanannya” menuntut untuk dibelikan “mansion” seperti yang ada di layar besar tersebut.

Sebaiknya, iklan - iklan yang ditayangkan di layar lebar itu iklan yang “bening-bening”, misalkan iklan “shampoo” yang memakai jasa Mulan Jameela atau iklan “Body Lotion” yang diperankan Dian Sastro atau Bunga Citra Lestari. Iklan-iklan seperti ini disamping dapat memberikan pemasukan tak terhingga bagi pemerintah daerah, juga bisa membuat pengendara merasa “mak nyus” dan “ikhlas se ikhlas-ikhlas-nya” bersabar menunggu lampu merah.

“Ups”, aku tersentak dari lamunanku ketika kulihat perempuan kecil menepuk lenganku yang terbungkus jaket “blue jeans”.

Aku hanya menggeleng dan “dada” melambaikan telapak tangan pada si pengemis kecil itu, karena di samping susah mengambil dompet ataupun uang kecil dengan tangan yang terbungkus sarung kulit, “mood” ku sedang tidak enak karena ini tanggal yang benar-benar tua (hari Jum’at tanggal 31 dan tanggal 1 jatuh pada hari sabtu besok, artinya saya baru dapat menerima gaji tanggal 3 hari senin). Untungnya, anak itu mengangguk padaku dengan sopan namun tetap “konsisten” menampilkan wajah nya yang “dibuat” memelas. Meski aku tidak memberi, dia tidak menunjukkan mimik kecewa.

Sedetik kemudian, si kecil itu beralih pada “All New Jazz” yang berada tepat di samping kiri stang motor ku.

“Hmmm”, rupanya 2 sejoli yang kutaksir berumur 20-an tahun, mungkin mahasiswa, terlihat ketika kaca di samping sopir yang terlapisi kaca film yang tak begitu gelap terbuka sedikit. Si pemuda yang berada di belakang kemudi menyodorkan lembar seribu untuk si pengemis kecil. Sedang si perempuan yang berada di sampingnya duduk santai memainkan “Galaxi Tab” tanpa menghiraukan “Sopir” di sampingnya. Sekilas parfum mobil dan hawa sejuk menyeruak ke luar. Dapat kurasakan alunan “smooth jazz” mengalun lembut di telingaku yang tertutup helm.

“Hmmmmuuuh”, ku ambil nafas dalam-dalam.

Rupanya udara semakin terasa “panas” ketika aku berada di atas motor sedang di sampingku orang lain menikmati udara sejuk mobil yang “kinyis-kinyis” dengan alunan musik lembut terbebas dari suara kenalpot motor yang berisik dan mesin mobil yang menderu.

Sempat terbersit perasaan “syirik” melihat anak muda yang sudah mampu menunggangi mobil “mewah”, “at least” menurut ukuranku.

Aku yang lebih 6 tahun bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil hanya mampu membeli Honda Supra 125cc, itu pun harus dengan cara cicilan 4 tahun dan baru lunas akhir bulan kemarin.

Makanya, hiburan di lampu merah seperti di atas perlu digagas serius. Memang sih, sudah banyak hiburan di setiap lampu merah. Contohnya, para pengamen itu. Tapi jujur, mereka lebih banyak “mengganggu” daripada “menghibur” pengendara.

Saya kira bukan hanya perlu hiburan layar elektronik besar seperti di atas, tapi juga perlu dibuatkan tenda atau atap di setiap sisi jalan sebelah kiri di masing-masing perempatan sehingga para pengendara motor merasa nyaman bila berada di lampu merah di tengah hari bolong. Atau ada program penanam pohon besar dan rindang di setiap lampu merah. Sehingga para pengendara motor atau mobil butut tidak harus berhenti seenaknya di bawah pohon rindang yang berada tidak jauh dari lampu merah yang tentunya sangat mengganggu lalu lintas, padahal di garis terdepan dekat dengan “zebra cross” masih kosong melompong.

“Ups, asyem”, sergahku ketika klakson motor dan mobil di belakangku bersahutan. Rupanya mereka “mengklakson” diriku yang masih santai dan menikmati lamunanku.

“SSSttt”, sedikit jengkel ku menoleh ke belakang karena “digital display” masih menunjukkan angka 4 (empat). Tapi, rupanya beberapa pengendara motor yang berada di garis depan di sebelah kiri “Honda Jazz” yang sejajar dengan ku sudah tancap “gas” sekencang-kencangnya bak para pembalap “Moto GP” memulai start.

Dan, secara reflek aku pun berteriak, “innalillah….!!!”.

Sebuah SUV mewah, “Lexus”, dari arah berlawanan sebelah kiri muncul secara tiba-tiba dengan kencang. Rupanya, mobil hitam dengan plat nomor 1 digit itu nekat menerobos ketika “jatah” lampu hijau dari arah tersebut sudah habis dan berganti merah.

Bisa ditebak, dari arahku, 2 sepeda motor tancap gas ketika “jatah” lampu merahnya belum habis. Suara derit dan gesekan ban mobil mewah itu dengan aspal menimbulkan suara, “Ciiiiiiiitttttt”, diikuti suara “Duueeerrrr!!!”.

Tapi, bukankah mereka sendiri yang melanggar aturan lalu lintas dengan seenaknya?

Sekian.

Grand Mansion Potorono, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta, 9 Mei 2011.

Tulisan ini pernah dimuat di web “jelajah budaya” www.jelajahbudaya.com

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Johannes Karundeng Mengajari Kami Mencintai …

Nanang Diyanto | | 21 September 2014 | 15:45

Kompasianers Jadi Cantik, Siapa Takut? …

Maria Margaretha | | 21 September 2014 | 16:51

Kaizen dan Abad Indonesia …

Indra Sastrawat | | 21 September 2014 | 15:38

Kucing Oh Kucing …

Malatris | | 21 September 2014 | 16:00

[Daftar Online] Nobar Film “Tabula …

Kompasiana | | 21 September 2014 | 10:33


TRENDING ARTICLES

Pak SBY, Presiden RI dengan Kemampuan Bahasa …

Samandayu | 17 jam lalu

Setelah Ahok, Prabowo Ditinggal PPP dan PAN, …

Ninoy N Karundeng | 18 jam lalu

Australia Siaga Penuh …

Tjiptadinata Effend... | 18 jam lalu

MK Setuju Sikap Gerindra yang Akan …

Galaxi2014 | 20 jam lalu

Ini Tanggapan Pelatih Valencia B tentang …

Djarwopapua | 20 September 2014 16:34


HIGHLIGHT

Kepoisme Itu Paham? Pilihan Sikap? Atau …

Christian Kelvianto | 8 jam lalu

Seraut nan Utuh …

Eko Kriswanto | 8 jam lalu

Ketika Lampard Mencetak Gol ke Gawang …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Lampard Pecundangi Mourinho …

Iswanto Junior | 8 jam lalu

Cinta dalam Bingkai Foto …

Cuzzy Fitriyani | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: