Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Novita Bayuarti

penyuka dunia sastra, seni dan budaya.

Wiraga Wirama Wirasa

REP | 13 May 2011 | 05:25 Dibaca: 5161   Komentar: 5   0

13052646441212087294

Dewi Rengganis (biru) berhadapan dengan Putri China Widaninggar (kuning).

Alkisah, seorang putri dari China bernama Widaningar hendak menuntut balas atas kematian saudaranya yang tewas dalam duel memperebutkan cinta Menak. Pertempuran sengit antara dua putri dari dua negeri ini pun terjadi. Widaninggar mampu menandingi Rengganis, bahkan beberapa kali sempat berada di atas angin. Namun apa mau dikata, Dewi Rengganis yang adalah ipar dari musuh Widaninggar ternyata terlalu tangguh untuk dikalahkan. Di akhir pertempuran Widaninggar kalah dan mengakui keunggulan Rengganis.

Itu adalah cerita yang diusung dalam Beksan Menak Rengganis Widaninggar. Salah satu ragam tari klasik gaya Yogyakarta. Beksan atau tari yang dipentaskan oleh dua penari tersebut begitu mempesona saya. Mungkin penonton yang lain juga merasakan hal yang sama. Perpaduan gerak yang diiringgi gending gamelan yang terkadang halus terkadang rancak terlihat sangat apik. Meskipun tidak ada sepatah kata pun yang terucap, namun harmonisasi antara gerak dan gending serta ekspresi para penari mampu membawa penonton larut dalam cerita yang dibawakan.

Rasa kagum saya menjadi-jadi karena saya tahu bahwa salah satu penarinya bukan orang Indonesia. Ya, penari yang memerankan tokoh Widaninggar adalah orang Jepang. Namanya Mami Ohishi, atau lebih akrab disapa Mami, berasal dari Kagawa, Jepang. Seorang yang tak memiliki setetes pun darah ke-Indonesia-an dalam tubuhnya, begitu piawai dan luwes memerankan tokoh dalam tari klasik yang sama sekali tidak bisa dibilang mudah. Terus terang saya merasa tertohok dan malu.

Saya pun bertanya-tanya, apa yang membuat Mami memilih dan sangat ingin mendalami tari klasik Yogyakarta. Padahal begitu banyak macam seni pertunjukkan lain yang mungkin tingkat kesulitannya tidak serumit tari klasik. Jawabannya adalah filosofi yang terkandung di dalamnya, yakni wiraga, wirama, wirasa. Wiraga adalah dasar wujud lahiriah badan beserta anggota badan yang disertai ketrampilan. Wirama adalah di mana gerak yang dihasilkan harus selaras dengan irama. Sementara wirasa adalah gerak tidak saja harus sesuai irama, namun harus dilakukan dengan rasa (jiwa). Sebuah tarian akan terlihat indah jika sang penari mampu membawakan tarian dengan memenuhi ketiga unsur tersebut.

Begitu pula dengan hidup, wiraga, dalam hidup kita harus selalu berusaha, bergerak untuk melakukan sesuatu. Do something! Lakukan sesuatu karena ini hidupmu. Dan dalam usaha yang kita lakukan haruslah memiliki wirama, selaras, dengan kata lain terencana. Segala sesuatu ada tahapannya, dan kita hendaknya melalui tahap demi tahap dan menyelesaikannya dengan baik. Lalu yang terpenting, semua yang kita lakukan haruslah sungguh-sungguh, sepenuh dan setulus hati atau wirasa.

Sungguh, perkenalan saya dengan Mami Ohishi, mahasiswi seni tari Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, telah membuka mata saya bahwa begitu banyak budaya negeri ini yang sarat makna dan pada akhirnya menyadarkan saya untuk lebih menghargai nilai-nilai yang tertanam dalam budaya leluhur bangsa ini.

Tags: telkomsel

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cara Cermat Buang Sampah, yang Mungkin Dapat …

Tjiptadinata Effend... | | 21 October 2014 | 21:18

Rupiah Tiada Cacat …

Loved | | 17 October 2014 | 17:37

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Ekspektasi Rakyat terhadap Jokowi …

Fitri.y Yeye | | 21 October 2014 | 10:25

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Pak Prabowo, Sikap Anda Merusak Isi Kepala …

Eddy Mesakh | 10 jam lalu

Jamberoo itu Beda Total dengan Jambore …

Roselina Tjiptadina... | 11 jam lalu

Anda Tidak Percaya Alien, Maka Anda Sombong …

Zulkifli Taher | 11 jam lalu

Anfield Crowd, Faktor X Liverpool Meredam …

Achmad Suwefi | 13 jam lalu

Ajari Anak Terampil Tangan dengan Bahan Alam …

Gaganawati | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

That is How You Kill Me …

Ryu Kiseki | 9 jam lalu

Tiga Hal yang Ingin Saya Lakukan di …

Hendra Wardhana | 9 jam lalu

Dari Body Mulus, Sampai Bibir Sexy …

Seneng | 10 jam lalu

[Cerminsiana] Candra Buana …

Fadli Hermawan | 11 jam lalu

SBY (Mungkin) Adalah Tipe Orang yang …

De Baron Martha | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: