Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Mr. President

I was born in Ponorogo East Java, love blogging and friendship..

Motor China, Hape China dan Pesawat China

OPINI | 12 May 2011 | 11:56 Dibaca: 1641   Komentar: 109   7

13051580632075639398

from google

Berawal dari kecelakaan sebuah pesawat, jagad tanah air bergolak. Media online dipenuhi berita seputar mengapa membeli pesawat yang belum berlisensi Amerika? Kemudian juga muncul pertanyaan, siapa dalang pembelian pesawat yang jatuh itu? Parlemen juga mencecar direksi operator pesawat, kementerian keuangan, kementerian BUMN dan kementerian perhubungan untuk mengungkap mengapa dan bagaimana terjadinya pembelian pesawat itu. (sumber : detik.com - biar tidak dijuluki bajingan tengik copas.. wakaka..).

Situasi berbeda jelas ditunjukkan saat ini ketika ada pesawat jatuh dan menimbulkan korban. Dulu, jika sebuah pesawat jatuh, berita-berita yang mengiringi adalah bagaimana KNKT bekerja menyelidiki kecelakaan itu dan bagaimana jeritan keluarga korban. Sekarang, berita seperti itu seakan tenggelam dan malah dipenuhi berita “Mengapa kita membeli pesawat itu? Siapa yang membeli? Pesawat tidak berlisensi Amerika kok dibeli? Darimana uangnya?” Dan sebagainya.

Sebuah perdebatan dan saling mengkambing-hitam. Entah dengan target apa. Sama sekali tidak jelas. Yang terang, sebagian publik menjadi galau dan tiba-tiba tahu bahwa selain motor dan hape yang murah buatan China, sekarang ada pesawat dari China. Dan pesawat itu jatuh, dan lantas terjadi perdebatan.

**

Sekitar lebih dari satu dekade yang lalu, negeri ini banyak dibanjiri motor buatan China. Motor itu berharga murah, dan bentuknya pun didesain hampir sama dengan motor Jepang yang notabene sudah lama secara rata-rata dipakai masyarakat. Dengan antusias, rakyat di negeri ini menyambut motor China yang stripping-nya pun, hampir tak ada bedanya dengan motor Jepang.

Penulis sempat membeli salah satu motor itu dengan merek pasaran J*ve. Berbeda dengan motor Jepang yang mesinnya halus dan stabil dipakai, mesin motor China cenderung kasar dan tak begitu nyaman. Hanya saja, harga murah memang menjadi andalan. Saat motor Jepang dijual sekitar 11 jutaan, motor China cukup 6,5 juta. Disitu letak daya jual mengapa konsumen juga tertarik untuk membeli motor ini. Murahnya itu bro..

Sekarang, kondisi motor China yang saya beli itu sudah hampir menjadi barang loakan saja. Dijual sebagai motor hanya dihargai sangat rendah, sementara kalau dijual kiloan sebagai rongsokan, kok ya mengenaskan sekali. Tidak tega melakukannya. Dan karena hampir habis nilainya itu, maka Koperasi Simpan Pinjam milik RT pun ogah untuk menerima agunan BPKB motor China itu. Credit Supervisornya menolak mentah-mentah. Wakaka.. menyedihkan!

**

Sekitar setahun atau dua tahun yang lalu, produk murah China juga bergaung amat hebat di negeri ini. Semua juga tahu produk apa itu. Ya benar. Produk telekomunikasi yang bernama Hape alias Handphone. Dengan menggandeng operator telekomunikasi, marketing hape China ini juga secara gencar menawarkan harga yang amat bersaing.

Model hapenya juga tak mau kalah dengan model hape merek-merek yang sebelumnya sudah merajai pasaran hape di negeri ini. Pun ketika trend hape qwerty marak, hape China juga tak mau ketinggalan untuk menirunya. Sebagai contoh, hape China bermodel qwerty, hampir tak ada beda dalam bentuk dan modelnya dengan sebuah produk hape pabrikan asal Finlandia yang notabene lebih dulu datang dan dipakai banyak orang.

Ketika Black*erry sedang trend, produk China juga jelas tak mau ketinggalan. Dengan nama merek yang mirip semisal Blue*erry, mereka mendesain bentuk dan model hape yang persis sama dengan Black*erry. Penulis pernah membeli hape seperti ini. Mereknya A*iaphone. Dan alamaak. Tampilannya persis sama dengan tampilan Black*erry Bold 9700 atau yang lebih dikenal sebagai Black*erry O*yx.

**

Lantas, bagaimanakah kualitasnya? Hahaha.. Sebenarnya ingin kukupas banyak, tapi aku tak tega untuk mengupasnya secara mendalam. Hanya saja, berdasarkan pengalaman memakai hape China dan pengalaman memakai hape produk selain China, sepertinya kok tetap harus dibandingkan walau secara sekilas. Sebagai contoh, aku ingin membandingkan pengalaman memakai hape produk China dan hape pabrikan Finlandia yang lebih dulu merajai pasaran hape di negeri ini.

Jika hape produk Finlandia bisa berumur panjang, sepertinya hape China yang kupakai, tidak seperti itu keadaannya. Intinya begini. Jika dalam waktu satu tahun hape produk Finlandia masih bisa digunakan, maka hape China juga masih bisa digunakan, meskipun penggunaannya bisa untuk keperluan lain.

Jika hape produk Finlandia masih bisa digunakan untuk sms pacar yang kuatir hamil setelah sandalnya tertukar denganku, maka hape China masih bisa digunakan untuk menimpuk kucing yang mencoba mencuri daging rendang di atas meja makan. Wakaka..

Jika hape produk Finlandia masih bisa digunakan untuk membalas sms tante Lisa yang tiba-tiba ingin aku memijit punggungnya yang pegal, maka hape China juga masih bisa digunakan untuk menimpuk kepala Pak RT yang mengintip janda Sutini sedang mandi di kali. Wakaka.. Dan Pak RT tentu tidak marah jika kepalanya memang tertimpuk hape China. Soalnya, itu lebih bermartabat daripada ditimpuk batu dari lahar dingin Merapi. Wakaka..

**

Dan sekarang, tentu saja pesawat. Untuk yang satu ini, aku tak akan membahasnya terlalu jauh. Sebab aku belum pernah naik pesawat China yang baru saja jatuh itu. Jadi jelas aku tidak bisa membandingkannya dengan pesawat lain.

Secara logika, tak pernah akan terbersit untuk membandingkan jika keadaannya tidak menguntungkan. Mana bisa membandingkan pesawat China dengan pesawat lain dengan sebuah kupasan tulisan jika setelah naik pesawat China itu lantas pesawat yang kutumpangi nyungsep di persawahan atau hutan.

Perlakuan atas pesawat, jelas amat berbeda dengan motor dan hape.

**

Kelayakan terbang dengan sebuah pesawat bukanlah sesuatu yang bisa dicoba-coba. Sebuah pesawat tentu mempunyai standar keamanan penerbangan yang lebih rumit dan rigid karena alat transportasi ini membawa penumpang yang notabene adalah manusia. Sekali sebuah pesawat meledak atau jatuh, tentu membawa banyak korban. Dengan kenyataan ini, maka penggunaan dan atau pembelian pesawat juga tidak main-main.

Maka tidak heran jika ada sebuah lembaga yang kredibel untuk memberikan lisensi kelayakan terbang. Lembaga ini tak ingin mengambil resiko dengan asal memberikan lisensi saja. Diperlukan riset dan pengawasan yang ketat. Ini pesawat sungguhan. Bukan pesawat mainan, coy..

Intinya, jika perusahaan penerbangan di negeri ini ingin melindungi dan memberikan pelayanan transportasi udara yang baik untuk warganya, maka seharusnya juga membeli pesawat yang hebat dengan lisensi terbang yang benar-benar diakui. Bukan lantas membeli pesawat yang murah dengan diskon yang tinggi, dan kemudian me-mark up harga pembelian itu dan lantas membagi-bagi laba dan fee-nya untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu.

Jadi, aku memang punya cita-cita pergi ke China untuk menuntut ilmu sebab China tetap negara yang sangat hebat. Tapi, untuk pergi kesana, aku tak akan menggunakan pesawat buatan China. Wakaka.. [ ]

Salam Kompasiana,

Mr. President

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Karnaval Kota yang Paling Ditunggu …

Ikrom Zain | | 30 August 2014 | 14:46

Dua Puncak Lawu yang Terlupakan …

Munib Muhamad | | 30 August 2014 | 16:19

Madrid yang Tak Belajar dari Pengalaman …

Garin Prilaksmana | | 30 August 2014 | 16:19

Makna Perjalanan Adalah Menambah Sahabat …

Ita Dk | | 30 August 2014 | 13:06

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Ternyata Inilah Sebabnya Pendeta Paling …

Tjiptadinata Effend... | 9 jam lalu

Kesaksian Relawan Kerusuhan Mei …

Edo Panjaitan | 10 jam lalu

Masalah Sepele Tidak Sampai 2 Menit, Jogja …

Rudy Rdian | 11 jam lalu

Jogja Miskin, Bodoh, Tolol dan Tak …

Erda Rindrasih | 13 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Peranku bagi Indonesia …

Wiranota Hesti | 8 jam lalu

Penghematan Subsidi dengan Penyesuaian …

Eldo M. | 8 jam lalu

Penampilan Wadyabala Kanjuruhan dan …

Mas Ukik | 8 jam lalu

Florence Penghina Jogja Akhirnya Ditahan …

Ifani | 8 jam lalu

Kuliner Vietnam Kala Itu… …

Fillia Damai R | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: