Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Deni Sukotjo

terus memermisifkan kopi untuk melawan pemermisifan korupsi | #opinikopi | #betadine

Fenomena Tradisi “Mbecek”, Sumbangan atau Piutang?

OPINI | 12 May 2011 | 17:40 Dibaca: 223   Komentar: 4   1

Memang tidak semua dari kita mengetahui apa arti dari istilah “mbecek”. Tetapi mari kita mencari tahu apa itu “mbecek”. Tradisi mbecek merupakan kebiasaaan beberapa masyarakat di Pulau jawa untuk memberikan bantuan berupa bahan-bahan makanan pokok dan atau uang kepada warga masyarakat yang memiliki hajat, baik itu pernikahan ataupun khitanan. Pada prinsipnya aktifitas mbecek ini sama dengan aktifitas gotong royong yang lain, yaitu adanya keinginan untuk saling membantu.

1305178385772527797

Dahulu tradisi mbecek merupakan kegiatan yang rutin dilakukan oleh masyarakat ketika salah satu dari anggota masyarakat memiliki hajat, semisal pernikahan ataupun saat mendirikan rumah. Kegiatan ini dulu dilandasi oleh prinsip gotong-royong dan rasa persaudaraan. Tetapi seiring perkembangan jaman, menurut saya sudah terjadi pergeseran nilai dari tradisi mbecek tersebut, dahulu benar tradisi mbecek semata-mata merupakan kegiatan menyumbang kepada saudara atau tetangga yang sedang memiliki hajat, tetapi sekarang lebih mengarah ke kegiatan semacam investasi. Mengapa? Kita bisa melihat bahwa kegiatan ini dilaksanakan tidak lagi untuk sarana berkumpul bersama untuk menikmati anugerah dari Tuhan, tetapi untuk memperoleh sumbangan dari tetangga, saudara, teman dan kenalan.

13051783051993260611

Dari faktanya kita bisa melihat, sekarang seseorang yang mempunyai hajat mencatat apa saja sumbangan dari orang lain yang datang kerumahnya, ini bertujuan sebagai acuan besar sumbangan yang akan dikembalikan jika seseorang yang menyumbang tadi suatu waktu juga mempunyai hajatan yang sama. Memang tidak ada kewajiban untuk menembalikan apa yang sudah diberikan, tapi ecara moral kemasyarakatan akan menjadi perbincangan jika tidak melakukan hal yang sama.

13051783331297559728

Jadi menurut saya sudah terjadi transformasi nilai pada tradisi mbecek yang dahulu murni kegiatan menyumbang atas dasar prinsip gotong royong menjadi kegiatan memberikan sesuatu dan mengaharapkan sesuatu. Teori pertukaran sosial, resiprositas.

Gambar: hajatan dirumah Bpk. Sulaiman. Madiun, 21 April 2011


 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kapan Kota di Indonesia Jadi World Book …

Benny Rhamdani | | 23 April 2014 | 09:29

Para Wanita Penggiat Bank Sampah Memiliki …

Ngesti Setyo Moerni | | 23 April 2014 | 05:10

Ina Craft Apakah Mampu Membantu dan …

Een Irawan Putra | | 23 April 2014 | 06:01

Pelajaran Politik Busuk Ternyata Dimulai …

Muhammad Irsani | | 23 April 2014 | 09:41

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 2 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 4 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 4 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 5 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 7 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: