Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Deni Sukotjo

terus memermisifkan kopi untuk melawan pemermisifan korupsi | #opinikopi | #betadine

Fenomena Tradisi “Mbecek”, Sumbangan atau Piutang?

OPINI | 12 May 2011 | 17:40 Dibaca: 236   Komentar: 4   1

Memang tidak semua dari kita mengetahui apa arti dari istilah “mbecek”. Tetapi mari kita mencari tahu apa itu “mbecek”. Tradisi mbecek merupakan kebiasaaan beberapa masyarakat di Pulau jawa untuk memberikan bantuan berupa bahan-bahan makanan pokok dan atau uang kepada warga masyarakat yang memiliki hajat, baik itu pernikahan ataupun khitanan. Pada prinsipnya aktifitas mbecek ini sama dengan aktifitas gotong royong yang lain, yaitu adanya keinginan untuk saling membantu.

1305178385772527797

Dahulu tradisi mbecek merupakan kegiatan yang rutin dilakukan oleh masyarakat ketika salah satu dari anggota masyarakat memiliki hajat, semisal pernikahan ataupun saat mendirikan rumah. Kegiatan ini dulu dilandasi oleh prinsip gotong-royong dan rasa persaudaraan. Tetapi seiring perkembangan jaman, menurut saya sudah terjadi pergeseran nilai dari tradisi mbecek tersebut, dahulu benar tradisi mbecek semata-mata merupakan kegiatan menyumbang kepada saudara atau tetangga yang sedang memiliki hajat, tetapi sekarang lebih mengarah ke kegiatan semacam investasi. Mengapa? Kita bisa melihat bahwa kegiatan ini dilaksanakan tidak lagi untuk sarana berkumpul bersama untuk menikmati anugerah dari Tuhan, tetapi untuk memperoleh sumbangan dari tetangga, saudara, teman dan kenalan.

13051783051993260611

Dari faktanya kita bisa melihat, sekarang seseorang yang mempunyai hajat mencatat apa saja sumbangan dari orang lain yang datang kerumahnya, ini bertujuan sebagai acuan besar sumbangan yang akan dikembalikan jika seseorang yang menyumbang tadi suatu waktu juga mempunyai hajatan yang sama. Memang tidak ada kewajiban untuk menembalikan apa yang sudah diberikan, tapi ecara moral kemasyarakatan akan menjadi perbincangan jika tidak melakukan hal yang sama.

13051783331297559728

Jadi menurut saya sudah terjadi transformasi nilai pada tradisi mbecek yang dahulu murni kegiatan menyumbang atas dasar prinsip gotong royong menjadi kegiatan memberikan sesuatu dan mengaharapkan sesuatu. Teori pertukaran sosial, resiprositas.

Gambar: hajatan dirumah Bpk. Sulaiman. Madiun, 21 April 2011


 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat Tinggal Banjir, Proyek Revitalisasi …

Agung Han | | 30 October 2014 | 21:02

Elia Massa Manik Si Manager 1 Triliun …

Analgin Ginting | | 30 October 2014 | 13:56

[YOGYAKARTA] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:06

Bau Busuk Dibelakang Borneo FC …

Hery | | 30 October 2014 | 19:59

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Jokowi-JK Tolak Wacana Pimpinan DPR …

Erwin Alwazir | 2 jam lalu

Mantan Pembantu Mendadak PD, Berkat Sudah …

Seneng | 4 jam lalu

70 Juta Rakyat Siap Masuk Bui …

Pecel Tempe | 6 jam lalu

Pramono Anung Menjadi Satu-satunya Anggota …

Sang Pujangga | 10 jam lalu

Mba, Pengungsi Sinabung Tak Butuh …

Rizal Amri | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Saat Tukang Sate Satukan Para Pendusta …

Ardi Winata Tobing | 9 jam lalu

Jokowi-JK Tolak Wacana Pimpinan DPR …

Erwin Alwazir | 9 jam lalu

Toleransi terhadap “Orang Kecil” …

Fantasi | 9 jam lalu

Batu Bacan dari SBY ke Obama Membantu …

Sitti Fatimah | 10 jam lalu

Kenapa Orang Jepang Tak Sadar Akan Kehebatan …

Weedy Koshino | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: