Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Deni Sukotjo

terus memermisifkan kopi untuk melawan pemermisifan korupsi | #opinikopi | #betadine

Fenomena Tradisi “Mbecek”, Sumbangan atau Piutang?

OPINI | 12 May 2011 | 17:40 Dibaca: 233   Komentar: 4   1

Memang tidak semua dari kita mengetahui apa arti dari istilah “mbecek”. Tetapi mari kita mencari tahu apa itu “mbecek”. Tradisi mbecek merupakan kebiasaaan beberapa masyarakat di Pulau jawa untuk memberikan bantuan berupa bahan-bahan makanan pokok dan atau uang kepada warga masyarakat yang memiliki hajat, baik itu pernikahan ataupun khitanan. Pada prinsipnya aktifitas mbecek ini sama dengan aktifitas gotong royong yang lain, yaitu adanya keinginan untuk saling membantu.

1305178385772527797

Dahulu tradisi mbecek merupakan kegiatan yang rutin dilakukan oleh masyarakat ketika salah satu dari anggota masyarakat memiliki hajat, semisal pernikahan ataupun saat mendirikan rumah. Kegiatan ini dulu dilandasi oleh prinsip gotong-royong dan rasa persaudaraan. Tetapi seiring perkembangan jaman, menurut saya sudah terjadi pergeseran nilai dari tradisi mbecek tersebut, dahulu benar tradisi mbecek semata-mata merupakan kegiatan menyumbang kepada saudara atau tetangga yang sedang memiliki hajat, tetapi sekarang lebih mengarah ke kegiatan semacam investasi. Mengapa? Kita bisa melihat bahwa kegiatan ini dilaksanakan tidak lagi untuk sarana berkumpul bersama untuk menikmati anugerah dari Tuhan, tetapi untuk memperoleh sumbangan dari tetangga, saudara, teman dan kenalan.

13051783051993260611

Dari faktanya kita bisa melihat, sekarang seseorang yang mempunyai hajat mencatat apa saja sumbangan dari orang lain yang datang kerumahnya, ini bertujuan sebagai acuan besar sumbangan yang akan dikembalikan jika seseorang yang menyumbang tadi suatu waktu juga mempunyai hajatan yang sama. Memang tidak ada kewajiban untuk menembalikan apa yang sudah diberikan, tapi ecara moral kemasyarakatan akan menjadi perbincangan jika tidak melakukan hal yang sama.

13051783331297559728

Jadi menurut saya sudah terjadi transformasi nilai pada tradisi mbecek yang dahulu murni kegiatan menyumbang atas dasar prinsip gotong royong menjadi kegiatan memberikan sesuatu dan mengaharapkan sesuatu. Teori pertukaran sosial, resiprositas.

Gambar: hajatan dirumah Bpk. Sulaiman. Madiun, 21 April 2011


 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bijaksana di saat Langka BBM …

Nanang Diyanto | | 28 August 2014 | 02:05

Balikpapan Menggeser Jogja, Benarkah Jogja …

Ratih Purnamasari | | 28 August 2014 | 07:18

Dari Pertemuan 4 Mata, SBY Menularkan Sikap …

Thamrin Dahlan | | 28 August 2014 | 07:58

Kayu Manis Bisa Buat Obat Parkinson? …

Lidia Putri | | 28 August 2014 | 01:03

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Ahok Nggak Boleh Gitu, Gerindra Juga Jangan …

Revaputra Sugito | 2 jam lalu

Mahalnya Biaya Rapat Lembaga Negara! …

Yaslis Ilyas | 2 jam lalu

Sebab SBY dan Jokowi Tak Bicarakan BBM di …

Pebriano Bagindo | 5 jam lalu

Jangan Hanya Jokowi Saja yang Diawasi, …

Rullysyah | 7 jam lalu

Akhir yang Indah bagi SBY, Awal yang Indah …

Daniel H.t. | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: