Artikel

Sosbud

Didi Rul

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

An ordinary man with an extraordinary dream.

Beberapa Hal yang Patut Ditiru oleh Indonesia dari Australia


OPINI | 10 May 2011 | 13:26 Dibaca: 332   Komentar: 8   Nihil

1305009037651123003

Sumber: www.ppia-flinders.org

 

Tak terasa sudah hampir 1 dekade saya tinggal di negeri Kanguru ini. Banyak hal-hal baru yang saya pelajari selama tinggal di sini. Saya pun sering sekali berangan-angan seandainya saja negeriku bisa senyaman negeri ini. Bisa, kenapa tidak? Lha wong Jepang saja yang porak-poranda setelah dihajar bom atom oleh Amerika bisa jadi macan Asia. Korea Selatan yang dulunya miskin akibat perang dengan “saudara se-ibu” nya sekarang bisa makmur. Apalagi negeri jiran yang dulunya “berguru” kepada Indonesia, sekarang sudah beberapa langkah maju di depan “guru”nya. Mereka itu dulunya adalah Negara miskin dan terbelakang. Sama-sama pernah dijajah. Jepang hampir saja dijajah oleh Amerika, jika saja mereka tidak cerdik dalam mengubah politik isolasi. Korea pernah dijajah Jepang. Sebelum dijajah, Korea merupakan suatu “Hermit Kingdom“, negeri yang menutup diri dengan dunia luar. Negeri tetangga kita dulunya adalah wilayah jajahan Inggris.

Ada beberapa faktor yang membuat Australia menjadi maju dan patut ditiru oleh Pemerintah RI.

1. PERHATIAN YANG TINGGI TERHADAP PENDIDIKAN

Sekolah-sekolah dan universitas di Australia ini sangat mendorong murid-muridnya untuk bersikap kritis dan proaktif. Murid-murid tidak hanya disuruh mendengarkan materi yang dibawakan oleh guru/dosen di depan kelas saja, tetapi mereka juga didorong untuk bertanya jika terdapat hal-hal yang tidak sesuai bagi mereka. Pengajaran tidak saja dilakukan di dalam kelas, tetapi murid juga langsung dibawa “terjun” ke masyarakat. Contohnya: saya pernah menyaksikan secara langsung serombongan murid-murid sekolah dasar dibawa oleh guru pembimbingnya ke pasar (sekali lagi bukan pasar swalayan, tetapi pasar induk) dan mereka disuruh mengamati para penjual mengenai apa-apa saja yang dijual di pasar tersebut dan bertransaksi secara langsung dengan mereka. Contoh lainnya lagi: saya juga pernah menjumpai serombongan murid-murid sekolah menengah dibawa oleh guru pembimbingnya ke restoran Indonesia. Setelah diselidiki, ternyata mereka ini pelajar yang sedang mempelajari mata pelajaran Bahasa Indonesia, dan ingin mempraktekkannya langsung dengan “native speaker” dari Indonesia. Luar biasa, saya bangga dengan Indonesia ternyata Bahasa kita dipelajari di Negara orang.

Kurikulum pengajaran yang demikian membuat murid merasa senang dengan sekolah (sebagian besar) dan juga menjadikan mereka dapat berpikir secara kritis dan logis, karena tidak melulu dijejali dengan teori-teori di dalam kelas. Bagi warga yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (universitas, TAFE) tetapi tidak mampu, pemerintah Australia menyediakan HECS (Higher Education Contribution Scheme), ini merupakan keringanan membayar uang kuliah bagi mereka yang memiliki pendapatan di bawah standar Australian minimum income. Mereka yang mendapatakan keringanan melalui HECS akan dikenai kewajiban mengembalikan uang pemerintah tersebut setelah mereka mendapatkan pekerjaan yang layak atau setalah mereka bekerja dan mendapatkan pemasukan sesuai dengan standar gaji Australia.

Saya lihat pemerintah sekarang masih kurang berupaya dalam memajukan pendidikan Indonesia. Walaupun sekarang ini sudah ada sertifikasi bagi guru, tetapi mengenai kurikulum yang ada, masih kurang efektif dan cenderung menitikberatkan pada hafalan dan kecerdasan IQ saja. Ingatlah Bapak Presiden ataupun Bapak Mendiknas, pendidikan itu adalah suatu investasi jangka panjang. Hasilnya baru bisa terlihat nanti mungkin 30 - 40 tahun ke depan. Jangan sampai 30 atau 40 tahun ke depan Indonesia masih menjadi bangsa pengguna (user) saja bukan maju menjadi bangsa pencipta (creator). Akar pendidikan memanglah pahit, tetapi buahnya sangatlah manis.

2. PERSAMAAN HAK BAGI SETIAP WARGA NEGARA DALAM MENDAPAT PEKERJAAN

Di sini semua penduduk baik itu citizen ataupun pendatang, memiliki hak yang sama dalam mendapatkan pekerjaan yang layak tanpa mempedulikan agama, warna kulit, umur, dan jenis kelamin. Saya tidak pernah menjumpai iklan lowongan pekerjaan yang mencantumkan tulisan: “only for Men“, ataupun “looking for the employee under 30 year old“. Maka tidak heran jika di sini saya menjumpai nenek-nenek yang bekerja sebagai resepsionis suatu perusahaan, wanita yang menjadi supir Tram, bahkan orang yang cacat pun bisa ditemui bekerja di salah satu perusahaan. Di sini ini yang dinilai adalah kemaumpuan dan kapabilitas orang tersebut, bukan fisiknya. Tidak ada perbedaan gaji antara penduduk lokal dan pendatang. Tidak ada yang namanya expatriate lebih diutamakan di sini, justru pemerintah Australia sangat memprioritaskan penduduk lokal (baca: pemegang paspor Asutralia).

3. BIROKRASI YANG SEDERHANA

Motto: “Time is money” sangat dijunjung tinggi di sini. Semua pelayanan publik diusahakan bekerja secepat dan seefisien mungkin. Pengalaman saya ketika membuat surat izin mengemudi, semuanya hanya berlangsung kurang-lebih selama 1 jam, termasuk tes praktek mengendarai kendaraan. Dan SIM langsung diperoleh pada hari itu juga. Saya sadar, ini memang sulit dilakukan di Indonesia, karena motto “kalau bisa dipersulit kenapa mesti dipermudah?” sepertinya sudah merambah ke seluruh pelayanan umum di Indonesia. Tetapi saya mencoba untuk mengetuk hati mereka para birokrat Indonesia dengan halus: “Pak/bu ingatlah, jika anda mempermudah urusan orang lain maka Tuhan akan mempermudah urusan anda di dunia ini”

4. KECINTAAN TERHADAP PRODUK DALAM NEGERI YANG TINGGI

Orang-orang Australia dikenal sangat bangga dengan produk buatan negerinya sendiri. Hampir disetiap produk lokal buatan Australia, selalu dicantumkan tulisan “proudly Australian made and owned”. Pemerintah Australia juga turut campur tangan dengan membatasi produk-produk dari luar supaya produk dalam negeri bisa bersaing dan berkembang. Pak Presiden, cobalah semua industri strategis yang ada dioptimalkan. IPTN, Pindad, PT PAL. Berilah anak-anak bangsa kesempatan untuk membuktikan kalau produk Indonesia itu tidak kalah dengan produk luar. Jangan hanya mengimpor terus, mubazir kan?

Semoga saja suatu hari nanti kita dapat melihat Indonesia menjadi lebih baik dan bahkan menjadi kekuatan baru dalam ekonomi global. In Sya’Allah bisa…

 

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: