Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Rendi Aryanto

semoga z....bisa. ok

Ruh Ideologi Pancasila Telah Hilang

OPINI | 05 May 2011 | 02:00 Dibaca: 1140   Komentar: 5   0

Pancasila sebagai dasar filsafat negara yang merupakan hasil kesepakatan bersama para founding father dalam mendirikan negara ini. Yang kemudian disebut sebagai perjanjian luhur bangsa Indonesia, Didalamnya terkandung semangat kekeluargaan sebagai inti ajaran pancasila, namun mulai kehilangan jatidirinya. Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila, seakan hanyalah sebuah konsep-konsep kosong yang tidak ada artinya.

Benarkah ruh dari ideologi pancasila telah hilang? Kalau kita analisis dari kelima sila yang ada, mulai dari sila pertama, yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa” yang mengandung pemahaman bahwa bangsa Indonesia mengakui akan Keesaan Tuhan ini dengan sifat-sifatnya yang Maha Sempurna, yakni: Maha Kasih, Maha Kuasa, Maha Adil, Maha Bijaksana dan lain-lain sifat yang suci. Semua rakyat Indonesia mengakui akan Keesaaan Tuhan ini namun yang terjadi antar pemeluk agama, yang ada di Indonesia justru menghegemoni agama yang lain, konflik antar agama tidak dapat dihindarkan dan yang sedang “boomingnya” saat ini yaitu adanya sekelompk orang yang ingin mendirikan Negara Islam Indonesia (NII). Dan ini menjadi fakta bahwa pemahaman akan nilai-nilai pancasila, sangat minim dimiliki oleh rakyat Indonesia. Sila yang kedua, yaitu “kemanusiaan yang adil dan beradab”. Didalam sila yang kedua ini terkandung nilai-nilai kemanusiaan, yaitu tentang pengakuan terhadap adanya martabat manusia dengan segala hak-hak asasinya, perlakuan yang adil terhadap adanya martabat manusia dengan segala hak-hak asasinya, perlakuan yang adil terhadap sesama manusia dengan memperlakukan dan memberikan sesuatu yang telah menjadi haknya, manusia beradab dengan sumber daya cipta, rasa, karsa dan keyakinan sebagai landasan bertindak sesuai nilai-nilai hidup manusiawi. Apakah nilai-nilai yang ada dalam sila yang kedua ini sudah mencerminkan keadaan yang terjadi diIndonesia? Kita bisa menganalisis masing-masing. Sila yang ketiga yaitu “Persatuan Indonesia” terkandung nilai-nilai persatuan dan kebangsaan, antara lain: persatuan Indonesia merupakan persatuan sekelompok manusia yang menjadi warga negara Indonesia dengan cita-cita hidup bersama, bangsa Indonesia adalah persatuan suku-suku bangsa yang mendiami wilayah Indonesia, pengakuan ke”Bhinneka Tunggal Ika”an suku bangsa dan kebudayaan bangsa yang memberikan arah dalam pembinaan kesatuan bangsa. Tetapi apa yang terjadi, seakan persatuan bangsa ini semakin menurun, terjadinya konflik etnik, agama, ras dan sebagainya. Menunjukan lemahnya rasa persatuan bangsa ini. Sila keempat dengan rumusan “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”, terkandung nilai-nilai kerakyatan, antara lain: kedaulatan negara ditangan rakyat yang pimpin oleh hikmat kebijaksanaan berlandaskan penalaran yang sehat, manusia Indonesia sebagai warga negara dan warga mawsyarakat Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama. Dan sila yang kelima yaitu “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” terkandung nilai keadilan sosial, antara lain: keadilan dalam kehidupan sosial meliputi semua bidang kehidupan nasional untuk seluruh rakyat Indonesia, cita-cita masyarakat adil dan makmur, material, dan spiritual, yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia. Namun yang sekarang terjadi masih banyak warga Indonesia yang masih miskin, tinggal dikolong jembatan, menjadi anak jalanan. Dimana letak keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia ini?

Maka demi kelestarian eksistensi bangsa Indonesia, maka pancasila yang sebagai jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia harus dijunjung tinggi, diresapi, dihayati, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak dapat mempertahankan kehidupan bangsa sebagai bangsa Indonesia, dan tidak mungkin melestarikan eksistensi bangsa bangsa sebagai bangsa Indonesia dengan “lip-service” saja (Melayaninya dengan kata-kata), atau mempelajarinya dengan akal saja tanpa menyadarinya dan menghayatinya serta mengamalkannnya sedemikian rupa hingga meresap dan mendarah daging dalam diri setiap warga bangsa Indonesia. Untuk itulah perlu adanya tuntutan pengahayatan dan pengalaman pancasila yang menjadi satu pedoman nasional yang sah dan baik, mengatur kehidupan sehari-hari dan mempertahankan kelestarian eksistensi hidup kekelompokan, kegolongan, kebangsaan dan kenegaraan yang bersumber pada pancasila yang murni sebagai jiwa, kepribadian, pedoman hidup dan dasar negara republik Indonesia.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Masril Koto Bantah Pemberitaan di …

Muhammad Ridwan | | 23 September 2014 | 20:25

Nap a Latte untuk Produktivitas …

Andreas Prasadja | | 23 September 2014 | 22:43

‘86’ Hati-hati Melanggar Hukum Anda …

Sahroha Lumbanraja | | 24 September 2014 | 00:37

Banyak Laki- laki Indonesia Jadi Ayah Gagal …

Seneng Utami | | 24 September 2014 | 04:45

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Pelajaran dari Polemik Masril Koto …

Novaly Rushans | 4 jam lalu

Habis Sudah, Sok Jagonya Udar Pristono …

Opa Jappy | 11 jam lalu

Jangan Sampai Ada Kesan Anis Matta (PKS) …

Daniel H.t. | 12 jam lalu

Mengapa Ahok Ditolak FPI? …

Heri Purnomo | 14 jam lalu

Apa Salahnya Ahok, Dimusuhi oleh Sekelompok? …

Kwee Minglie | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Arie Keriting Ditantang Presentasi …

Andi Bunga Tongeng | 8 jam lalu

Strategi Perang Lawan ISIS Ala SBY …

Solehuddin Dori | 8 jam lalu

Berat dan Ringan itu Relatif dalam Bekerja …

Eko Junaidi Salam | 9 jam lalu

Jika Sulit Memberi, Mari Berbagi …

Saumiman Saud | 9 jam lalu

Jadwal 16 Besar Asian Games 2014 …

Abd. Ghofar Al Amin | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: