Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Indra Furwita

'Motivator ±' wannabe | Aeronautical Engineer | Tukang DotCom | Nulis-Nulis | @IndraFurwita | http://www.indrafurwita.com |

Sidang Jumat = Sidang DPR = Tidur Masal

OPINI | 29 April 2011 | 06:19 Dibaca: 283   Komentar: 28   2

1304057863277734074

Gambar google diolah pribadi

Jika pada Jumat lalu saya menuliskan tentang keributan anak-anak di belakang, tapi hari ini suara itu tidak terdengar lagi. Mungkin juga beberapa tetangga saya membaca tulisan itu. Masih tentang seputar shalat Jumat, kali ini saya ingin mengangkat tentang fenomena tidur saat sidang Jumat berlangsung. Nampaknya ada kesamaan antara tidurnya anggota DPR pada saat sidang paripurna.

Kita mulai dari awal, niat untuk shalat Jumat. Menjelang pukul 12.00 kumandang azan sudah memanggil ummat muslim untuk segera ke masjid. Setelah mandi dan mengenakan pakaian lengkap dengan wewangina, saya berjalan menyusuri kamar teman-teman yang lain. Kudapati dua orang rekanku sedang tertidur pulas. Karena mereka semua muslim, saya banngunkanlah mereka. Dua panggilan tak terjawab, panggilan ketiga saya barengi dengan sentuhan barulah ada titik terang. Satu orang terbangun dan satu orang lagi menjawab “Hmmmm…” lalu tidur kembali. Baiklah saya sudah putus asa, mungkin dia halangan.

Tidak jauh berbeda dengan anggota DPR kita yang terhormat, mereka juga sering kedapatan bolos dalam sidang. Padahal yang dibahas adalah erat kaitannya dengan kesejahteraan ratusan juta manusia. Dikritik dan diberi saran tetap saja demikian. Didemo dan dilempari telur busuk tetap saja bolos dengan berbagai alasan, mulai dari capeklah, ngurusin anaklah dan study banding. Bahkan iseng-iseng malah nonton video porno. Ternyata malasnya anggota DPR memiliki kesamaan dengan jamaah Shalat Jumat yang sering bolos. Apalagi kalau sudah dalam keadaan ngantuk berat, syetan pada ber-nina bobo di telinga. Jadi, bagi yang sering bolos Shalat Jumat jangan terlalu banyak mengkritik, karena pada dasarnya kalian serupa hanya saja tak sama.

Berikutnya dari kebiasaan yang sering ditemui pada saat shalat Jumat, tertidur. Hari ini misalnya, tua-muda, shaf depan dan shaf belakang cukup banyak yang menundukkan kepala, mungkin ada juga yang sedang berdzikir. Setiap Khotib memang memiliki gaya dan caranya sendiri menyampaikan Khotbah, ada yang seru, membosankan, ada yang semangat dan ada yang seolah mendongeng. Begitupun dengan jamaahnya, mereka juga memiliki gaya masing-masing ketika tertidur, ada yang kepalanya geleng-geleng, ada yang roboh kanan-kiri, ada yang ngiler, bahkan ada yang sampai mengigau. Lalu bagaimana hukum Islam sendiri menyikapi fenomena tidur masal ini?

Sebagian ulama membenarkan bahwa tidur itu akan membatalkan wudhu’. Dan bila wudhu’ sudah batal, maka tidak sah bila langsung melaksanakan shalat, kecuali bila sebelumnya berwudhu’ lagi. Sesuia dengan hadist, ‘Siapa yang tidur maka hendaklah dia berwudhu’ (HR Abu Daud dan Ibnu Majah). Namun sebagian ulama juga mengatakan bahwa tidak semua bentuk tidur akan membatalkan wudhu’. Tidur yang membatalkan wudhu adalah tidur yang membuat hilangnya kesadaran seseorang. Termasuk juga tidur dengan berbaring atau bersandar pada dinding. Sesuai dengan hadist, “Dari Anas ra berkata bahwa para shahabat Rasulullah SAW tidur kemudian shalat tanpa berwudhu’ (HR Muslim) - Abu Daud menambahkan: Hingga kepala mereka terkulai dan itu terjadi di masa Rasulullah SAW”.

Tetapi apapun alasannya, mari kita upayakan sebisa mungkin untuk tidak tidur waktu mendengarkan khatib sedang berkhutbah. Sebab tujuan dari mendengarkan khutbah adalah mendengarkan nasihat, wasiat dan penjelasan seputar masalah agama.

Lalu kesamaannya dengan sidang anggota DPR  dengan mudah ditebak. Tentu sama dengan kebiasaan mereka tidur masal di dalam ruang sidang pada saat ketua sidang membacakan draft Undang-Undang (UU). Celakanya lagi mereka lalai bahwa mereka sedang duduk di kursi kehormatan dan secara tidak langsung berhadapan dengan hidup mati dan sejahteranya 250juta rakyat Indonesia. Satu kata saja yang terselip dan itu salah maka fatal akibatnya terhadap keadilan di negeri ini, utamanya bagi rakyat.

Bagaimana hukumnya tertidur saat sidang, tentu saja akan dibahas oleh Badan Kehormatan DPR terkati dengan kode etik dan etika profesi di DPR itu sendiri. Namun yang pasti tidaklah etis jika tidur di dalam ruang sidang sedangkan mereka sendir berhadapan dengan suatu keputusan yang berarti bagi rakyat Indonesia. Jadi, buat para jamaah yang juga doyan tertidur, jangan terlalu “pedas” dan “setajam silet” dalam mengkritik anggota DPR kita. Mari terlebih dahulu kita mengintrospeksi diri sendiri.

Itulah beberapa kesamaan mencolok yang berhasil saya amati pada Jumat kali ini. Tidak hanya kesamaan semata, tetapi perbedaan mendasar juga ada. Bagi sidang anggota DPR pembahasannya terbatas pada urusan duniawi saja yakni seluruh rakyat Indonesia, tetapi sidang Jumat membahas urusan dunia dan akhiran, juga urusan antara manusia dan Tuhannya. Maka dari itu, lebih baik jangan tertidur di sidang Jumat, karena urusannya lebih urgent sebagai ummat muslim.

Sekian dan terimakasih.

Salam,

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sepotong Senja di Masjid Suleeyman yang …

Rumahkayu | | 19 April 2014 | 10:05

Pengakuan Mantan Murid JIS: Beberapa Guru …

Ilyani Sudardjat | | 19 April 2014 | 20:37

Kompas adalah Penunjuk Arah, Bukan Komando …

Dita Widodo | | 19 April 2014 | 21:41

Kakak-Adik Sering Bertengkar, Bagaimana …

Lasmita | | 19 April 2014 | 22:46

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: