Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Yoga

I am a dangerous man who love writing, traveling, and reading email: gmandalas@gmail.com

Angklung, Alat Musik Paling Indonesia yang Menjadi Warisan Dunia

OPINI | 28 April 2011 | 22:41 Dibaca: 1956   Komentar: 1   0

Alat musik angklung asli Jawa Barat yang menjadi warisan dunia.

Alat musik angklung asli Jawa Barat yang menjadi warisan dunia.

Alat musik angklung yang berasal dari Jawa Barat, sekarang sudah tidak asing lagi ditelinga kita sebagai warga negara Indonesia. Angklung yang dulunya hanya sebagai bagian dari upacara ritual saat mengawali penanaman padi yang ditujukan kepada Dewi Sri (Nyai SriPohaci) sebagai Dewi Padi sebagai dewi pemberi kehidupan karena makanan pokoknya padi atau dalam bahasa sunda disebut pare. Menurut mitologi Bali, istilah angklung dibentuk dari kata “Angk” yang berarti angka (Nada) dan “Lung” yang berarti patah atau hilang, jadi bisa disimpulkan bahwa angklung adalah alat musik yang tidak lengkap karena kurang 4 nada.

Seiring dengan berjalannya waktu, angklung mulai terkenal bahkan sampai ke berbagai negara di Asia. Pada akhir abad ke-20, Daeng Soetigna menciptakan angklung yang didasarkan pada skala suara diatonik. Setelah itu, angklung telah digunakan di dalam bisnis hiburan sejak alat musik ini dapat dimainkan secara berpadu dengan berbagai macam alat musik lainnya. Pada tahun 1966, Udjo Ngalagena, seorang siswa dari Tuan Daeng Soetigna mengembangkan angklung berdasarkan skala suara alat musik Sunda, yaitu salendro, pelog, dan madenda.

Pentas seni di Saung Angklung Mang Udjo, alat musik angklung sebagai pengiring tarian

Pentas seni di Saung Angklung Mang Udjo, alat musik angklung sebagai pengiring tarian

Saking menariknya, angklung hampir “dicuri” oleh Malaysia yang ingin menganggap bahwa alat musik itu berasal dari negaranya. Namun hal itu tidak bisa dilakukan lagi oleh Malaysia karena angklung sudah ditetapkan menjadi warisan dunia kategori takbenda oleh UNESCO pada november 2010. Angklung menyusul warisan budaya Indonesia lainnya yang  telah dikukuhkan sebelumnya seperti wayang pada tahun 2003, keris pada tahun 2005, dan batik pada tahun 2009. Budaya Indonesia yang diperkirakan akan menyusul selanjutnya untuk diakui UNESCO yaitu, tari saman dan kain tenun.

Alat musik angklung mempunyai berbagai jenis, yaitu;

  • Angklung Kanekes : Angklung yang digunakan di daerah Kanekes ( kita biasanya menyebutnya kampung orang Baduy).
  • Angklung Dogdog Lojor: Angklung yang biasa digunakan di kesenian dogdog lojor yang ada di masyarakat kesatuan adat Banten Kidul.
  • Angklung Gubrag: Istilah angklung ini terdapat di kampung Cipining, Kecamatan Cigudeg, Bogor. Angklung Gubrag diperkirakan muncul ketika kampung Cipining mengalami musim paceklik.
  • Angklung Badeng: Angklung yang biasa digunakan sebagai pengiring di kesenian Badeng.

Alat musik angklung juga sekarang sudah diabadikan dalam koin seribu rupiah yang baru. Jika anda memperhatikan ada terdapat gambar alat musik angklung.

Gambar alat musik angklung diabadikan dalam koin seribu rupiah

Gambar alat musik angklung diabadikan dalam koin seribu rupiah

Sudah sewajarnya bagi kita, kalau orang sunda mengatakan harus ngamumule (menjaga) apa yang menjadi milik kita, yaitu budaya Indonesia yang beraneka ragam dari Sabang sampai Merauke. Jangan sampai kekayaan yang ada di Indonesia seperti kekayaan alam, budaya, dan sebagainya dicuri atau dirampas oleh negara-negara lain. Kalau bukan kita yang menjaga milik kita ini siapa lagi, dan gunakan selalu produk dalam negeri.

Sumber: www.wikipedia.com

Tags: telkomsel

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Ratu Atut [Hanya] Divonis 4 Tahun Penjara! …

Mike Reyssent | 9 jam lalu

Benarkah Soimah Walk Out di IMB Akibat …

Teguh Hariawan | 10 jam lalu

Kisah Nyata “Orang Vietnam Jadi …

Tjiptadinata Effend... | 12 jam lalu

Pak Jokowi, Saya Jenuh Bernegara …

Felix | 15 jam lalu

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

V2 a.k.a Voynich Virus (Part 21) …

Ando Ajo | 9 jam lalu

Koalisi Merah Putih di Ujung Tanduk …

Galaxi2014 | 10 jam lalu

Pemuda Solusi Terbaik Bangsa …

Novri Naldi | 11 jam lalu

Rasa Yang Dipergilirkan …

Den Bhaghoese | 11 jam lalu

Kisah Rhoma Irama “Penjaga …

Asep Rizal | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: