Back to Kompasiana
Artikel

Sosbud

Perguruan Tinggi yang Mencerahkan (Definisi Perguruan Tinggi Idaman)

OPINI | 27 April 2011 | 05:01 Dibaca: 335   Komentar: 4   2

Adalah sesuatu yang wajar, jika seseorang sangat mendamba bisa meneruskan jenjang pendidikan yang lebih tinggi sesuai dengan apa yang diimpikan. Perguruan tinggi yang memiliki tingkat prestisius tinggi. Perguruan tinggi yang tidak dinafikkan lagi kualitasnya. Perguruan tinggi terfavorit dan perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Dan dari semua alasan tersebutlah, mereka termotivasi untuk bisa masuk kesana. Walau kadang harus dengan biaya relative tinggi. Lalu bagaimana nasib orang-orang yang notabene kurang berkemampuan secara financial?? Terus apakah menjamin jika lulus dari perguruan tinggi tersebut berkualitas?? Kualitas apa yang kemudian dijadikan patokan sebagai parameter keberhasilan??

Langit cerah belum tentu bisa mencerahkan pikiran orang. Begitu juga sebuah perguruan tinggi ternama, belum tentu mengukir pencerahan bagi nama-nama yang terdaftar disana.

Perguruan tinggi, serangkaian kata yang mensiratkan makna terdalam tentang sebuah pendidikan. Pendidikan yang jenjangnya melebihi sekolah menengah Atas. Pendidikan yang seharusnya banyak hikmah, pelajaran serta pengalaman yang terpetik. Sangat disayangkan sekali jika kemudian banyak orang termotivasi untuk sekedar mencari gelar, tanpa kemudian mencari substansi. Subtansi yang menunjukan tingkat kualitas seseorang. Substansi yang kemudian darinya, perguruan tinggi tersebut menjadi idaman bagai setiap orang. Wujud perguruan tinggi idaman inilah yang nantinya akan memberikan pencerahan. Orang-orang yang berada dalam lingkupnya akan merasakan nilai kemanfaatan yang luar biasa. Lalu seperti apa sih kriteria perguruan tinggi idaman yang mencerahkan??

Saya disini, pernah merasakan hidup sebagai mahasiswa di lingkungan sekolah tinggi yang tingkat pengakuan dari public masih biasa-biasa saja. Seiring waktu berjalan, seiring waktunya juga saya mencoba meraba-raba, merasa-rasa kira-kira gambaran seperti apa sih sebuah perguruan tinggi idaman yang mencerahkan?? La wong banyak kejadian juga, perguruan tinggi idaman ternyata juga menghasilkan kualitas yang ga diidamkan, namun sebaliknya perguruan tinggi yang ga diidam-idamkan ternyata bikin seseorang benar-benar memiliki kualitas yang diidam-idamkan. Benar adanya suatu istilah “Don’t judge the book by its cover”. Kita janganlah keburu menilai seseorang atau sesuatu itu dari apa yang terlihat secara kasat mata, tapi lihatlah secara implicit. Sapa tau, justru ketika kita melihat sesuatu itu buruk, bisa jadi itu baik. Bisa juga sebaliknya, baik bisa jadi buruk.

Sebuah perguruan tinggi umumnya memiliki visi misi untuk mendidik serta mencerdaskan. Segala hal akan dilakukan oleh pihak perguruan tinggi yang memiliki dedikasi tinggi untuk bisa mewujudkan visi misi tersebut. Dari sarana infrastruktur, kualitas SDM ( baca para dosen ) dan sebagainya. Ya, memang semuanya itu perlu adanya. Lalu apa yang sekiranya bisa dijadikan nilai plus buat perguruan tinggi idaman yang mencerahkan??

Waktu bergulir dan waktu pulalah yang menggiring kita menemui banyak fenomena dimana diketemukan mahasiswa-mahasiswa yang terlalu bebas bergaul (salah satu sebab degenerasi moral), yang malas mengasah pikiran serta kemampuannya, yang sedikit gaptek, yang tidak percaya diri, yang membebek (sekedar ngikut apa yang menjadi trend atau manut omongan orang ), yang tidak memiliki kepekaan untuk bisa lebih berkreasi dan lain sebagainya. Fenomena-fenomena itu jelas akan memproduksi mahasiswa kacangan. Atau kadang kita mengenal istilah generasi karbitan atau instant. Karena akhirnya hanya gelar saja yang dikejar tanpa kemudian melirik kualitas serta prestasi. Sungguh ironi, jika fenomena-fenomena tersebut tidak diminimalisir sedini mungkin. Disinilah, peran utama sebuah perguruan tinggi untuk mencerahkan. Mereka ( baca mahasiswa-mahasiswa) dapat mengambil banyak keuntungan positif dari apa yang mereka dapat di sebuah institusi pendidikan ( perguruan tinggi ). Peran individu memang adalah yang paling menentukan. Tapi jika dimulai dari tempat mereka bernaung, bisa jadi akan mencerahkan kehidupan mereka menjadi lebih baik lagi; lebih cerdas secara spiritual, lebih cerdas secara intelektual, lebih cerdas secara emosional bahkan lebih cerdas tingkat kepekaan sosialnya.

Adapun beberapa gambaran untuk perguruan tinggi yang mencerahkan adalah ( gambaran kacamata personal saya )

1. Perguruan tinggi yang sangat concern di wilayah spiritual
Moral bisa ditata lewat pembenahan tingkat spiritual. Di ranah inilah, timbul tenggelamnya kehidupan seseorang dan juga akhirnya membawa nama baik buruknya seseorang maupun institusi yang menaunginya. Akan lebih bijasana, jika sebuah perguruan tinggi memang benar-benar memiliki concern yang cukup besar untuk membangun moral. Kita melihat fenomena sekarang ini seperti free sex, drugs, minuman keras dan lain sebagainya yang berujung pada perusakan moral generasi penerus bangsa. Jika hal ini terjadi kontinuitas, sungguh akan memalukan bangsa karena memiliki generasi bobrok. Na’udzubillah mindzalik,..Untuk menyikapi hal tersebut, cobalah perguruan tinggi untuk meminimalisir kondisi-kondisi tersebut. Sudah ada banyak contoh perguruan tinggi yang concern terhadap hal ini dengan mengadakan taklim, pengajian bahkan mungkin ada semacam media konsultasi psikologi spiritual juga.

2. Perguruan tinggi yang mengembangkan tradisi kultur ilmiah
Perlulah sekali aktivitas kultur ilmiah itu ada. Aktivitas kultur ilmiah adalah aktivitas positif yang membangkitkan tingkat intelektualitas maupun emosional, bahkan tingkat spiritualnya pun bisa ngikut juga. Aktivitas kultur ilmiah mewujud dalam aktivitas membaca, menulis, berdiskusi, melakukan penelitian dan lain sebagainya. Aktivitas-aktivitas ini tentunya cukup membantu seseorang untuk lebih baik lagi. “Sambil menyelam minum air” mungkin bisa kita terapkan ketika melakukan aktivitas tradisi ilmiah ini. Misal ketika membaca, sapa tau dapat ide untuk mengembangkan kreasi pikiran. Atau dari berdiskusi bisa timbul komunitas yang kemudian mengantarkan ke sebuah usaha. Kemungkinan-kemungkinan ini besar adanya. Hanya saja, perguruan tinggi harus mendukung betul. Contohnya, memberikan kebebasan untuk berorganisasi ( asal organisasinya ga bersifat anarchis serta rasis saja ), memberikan bantuan financial jika ada semacam penelitian-penelitian, membangun jaringan UKM (unik kerja Mahasiswa),, perpustakaan yang memadai dan menyenangkan ( bagaimana mahasiswa bisa betah di perpustakaan ), mendirikan infrastruktur media online ( internet ), media informasi ( radio kampus) dan lain sebagainya.

3. Perguruan tinggi yang mengembangkan daya kreativitas dan inovasi mahasiswa
Daya kreativitas dan inovasi seseorang haruslah terus diasah. Dengan pengasahan yang terus menerus maka akan memproduksi skill. Dari skill inilah, seseorang akan dengan mudah mencoba untuk membangun lapangan pekerjaan sendiri atau membuat orang lain tercengang dari hasil formulasi kreasinya. Jika demikian, maka akan membawa nama baik pula institusi yang menaunginya. Untuk itu, perguruan tinggi harus benar-benar men-support betul untuk concern dalam ranah ini. Seperti Pengembangan skill menulis; perguruan tinggi bisa mendukung secara financial dan memfasilitasi pengadaan media tulis menulis misal pengadaan majalah kemahasiswaan, bulletin, mading atau yang lainnya. Pengembangan skill dalam bidang seni; seni suara, seni musik, seni rupa, seni lukis dan pengembangan di bidang tekhnik; otomotif, elektro, informatika juga perlu difasilitasi. Dengan adanya fasilitas-fasilitas pendukung serta tindakan persuasive untuk maju dari pihak perguruan tinggi maka bisa jadi kemampuan yang tadinya belum terasah akan tersalurkan lewat media atau wadah pembelajaran ini.

4. Perguruan tinggi yang concern terhadap kesehatan
Concern terhadap kesehatan adalah sebuah keperluan penting bagi terselenggaranya segala aktivitas. Dengan peniadaan fasilitas, akan sangat memungkinkan sekali menghambat laju perkembangan kualitas perguruan tinggi. Disinilah, perlu sekali perguruan tinggi untuk membuat semacam fasilitas kesehatan seperti klinik kesehatan bagi keperluan semua civitas akademik, karyawan serta seluruh jajaran yang ada dalam institusi pendidikan tersebut. Ada baiknya juga pihak perguruan tinggi mencoba merangkul beberapa rumah sakit untuk membantu dalam bidang kesehatan. Selain itu, perlunya juga pihak perguruan tinggi untuk memberikan fasilitas olahraga buat semua penghuninya. Misalkan saja ada gedung olahraga, lapangan basket, lapangan sepakbola, kolam renang dan sebagainya. Dengan adanya fasilitas tersebut, tentunya bisa sedikit membangkitkan semangat untuk menjaga betul artinya kesehatan tubuh.

5. Perguruan tinggi yang memberikan apresiasi tinggi terhadap mahasiswa berprestasi dan yang berkekurangan
Ketika melihat kesulitan yang terjadi pada mahasiswa yang memiliki kemampuan dan kemauan tapi tak berkemampuan, janganlah dibiarkan begitu saja. Eman banget lah, ada generasi cerdas dan memiliki motivasi tinggi tidak di support oleh berbagai pihak yang concern ke pendidikan. Baiknya, Perguruan tinggi memberikan kesempatan mereka untuk memperoleh pendidikan yang diimpikan. Dan perguruan tinggi yang bervisi misi untuk mencerdaskan pastinya akan memeberikan kesempatan tersebut, dengan pengadaan beasiswa separoh atau sepenuhnya. Ini penting untuk dilakukan. Kita meilhat fenomena dasawarsa terakhir ini bahwa orang memperoleh pendidikan yang lebih tinggi harus membayar mahal. Jika ini terus-terusan terjadi bagaimana nasib orang yang tidak berkemampuan secara financial, bagaimana bisa mencerdaskan bangsa jika diperbudak oleh mahalnya biaya. Tantangan seperti ini harus diambil cepat oleh perguruan tinggi untuk bisa merealisasikan misinya membangun bangsa dengan beasiswa. Selain itu, apresiasi dari pihak perguruan tinggi bagi mahasiswa berprestasi sangat dibutuhkan. Sehingga akan timbul bibit-bibit unggulan yang senantiasa mengeksploarsi segala kemampuan yang dimilikinya.

Hm,..akhirnya untuk membuat manusia tercerahkan, memang perlu adanya kooperasi antara mereka, kita, dia dan anda. Antara pemerintahan, perguruan tinggi, orang-orang yang berpendidikan (pendidik) dan orang-orang yang mengejar pendidikan (anak didik). Ada benang merah yang senantiasa berkelindan, membentuk simpul-simpul apik. Dan hasilnya, produksi pencerahan dengan terlihatnya kehidupan yang lebih baik dari suatu bangsa akan terwujud dengan sendirinya. Kehdupan yang lebih baik dalam aspek ekonomi, politik, social budaya dan pertahanan keamanan

Negara harus mendukung penuh untuk menyoroti dunia pendidikan dengan dukungan moral, financial dan sebagainya. Selain itu, peran perguruan tinggi dengan daya upaya yang senantiasa memperbaiki kualitas, tentunya menjadi sebuah keharusan. Bukan sekedar hanya kompetisi antar perguruan tinggi untuk mendapatkan banyaknya kuantitas anak didik, tapi juga perlu berkompetisi dalam pencapaian kualitas penuai prestasi. Kualitas yang setelah selesai (mahasiswanya) menjadi tercerahkan dengan memiliki moral ( akhlaq ) baik, memiliki kemampuan spesifik maupun general dan memiliki jasmani yang kuat, kokoh serta mampu mengatur tingkat emosional.

Jaminan input yang baik dari suatu perguruan tinggi dengan dukungan berbagai pihak ( negara, pendidik dan anak didik ), secara otomotis out put yang dihasilkan pun tak sia-sia. Kualitas baik pun akan terlihat dengan sendirinya. Akan tercetak pribadi-pribadi yang tercerahkan. Dan memang benar adanya perguruan tinggi semacam ini jadi idaman setiap orang. Perguruan tinggi yang mencerahkan, ..

bantul, 30 April 2010

http://scrittura.multiply.com

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ketika Keluarga Indonesia Merayakan …

Zulham | | 28 November 2014 | 11:19

Ahok, Kang Emil, Mas Ganjar, dan Para …

Dean | | 28 November 2014 | 06:03

Ditangkapnya Nelayan Asing Bukti Prestasi …

Felix | | 28 November 2014 | 00:44

Kay Pang Petak Sembilan …

Dhanang Dhave | | 28 November 2014 | 09:35

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50



Subscribe and Follow Kompasiana: